Bolehkan Mengkhitbah Wanita Yang Masih Dalam Masa Iddah Dengan Sindiran?

Tue 27 October 2015 00:29 | 0
Zuria Ulfi

Khitbah merupakan suatu bukti adanya keinginan dari seorang laki-laki untuk menikahi wanita yang didambakan. Walaupun bukan bagian dari syarat sahnya sebuah pernikahan, masalah khitbah mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah SAW. Misalnya larangan bagi laki-laki untuk mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah, karena dikhawatirkan akan muncul pertikaian atau permusuhan diantara keduanya.

Permasalahan yang akan menjadi pembahasan kali ini adalah tentang mengkhitbah wanita yang masih dalam masa iddah karena terjadinya perceraian yang disebabkan jatuhnya talak maupun yang disebabkan karena kematian sang suami.

Ulama empat madzhab bersepakat bolehnya mengkhitbah wanita yang sedang menjalani masa iddah dengan kata-kata sindiran atau kalimat yang menunjukkan adanya keinginan untuk menikahi wanita tersebut. Namun, khitbah yang dibolehkan adalah bagi wanita yang bercerai atau berpisah sebab kematian sang suami. Sementara bagi wanita yang bercerai sebab jatuhnya talak raj'i (talak 1 dan 2) ataupun talak ba'in, maka hal tersebut tidak dibolehkan secara mutlak.

Berbeda dengan ulama madzhab dzohiri yang tidak membedakan sebab perceraian, apakah karena kematian sang suami ataupun karena jatuhnya talak, maka boleh mengkhitbah wanita yang masih dalam masa iddah dengan kata-kata sindiran.

Sebab terjadinya perbedaan pendapat adalah sebab istri yang ditalak suaminya masih merupakan istri sah dari suaminya, karena suami masih mungkin merujuk istrinya kembali.

Berikut pemaparan lengkap dan pemaparan dari para ulama.

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وأما التعريض فلا يجوز أيضا في عدة الطلاق ولا بأس به في عدة الوفاة، والفرق بينهما من وجهين: أحدهما: أنه لا يجوز للمعتدة من طلاق الخروج من منزلها أصلا بالليل ولا بالنهار فلا يمكن التعريض على وجه لا يقف عليه الناس

Tidak dibolehkan mengkhitbah dengan sindiran terhadap wanita yang dalam masa iddah dan itu dibolehkan terhadap wanita yang dalam iddah sebab kematian suaminya. Ada dua perbedaan diantara keduanya, salah satunya bahwa wanita yang ditinggal mati suaminya tidak diperbolehkan keluar rumah baik malam ataupun siang hari dan itu tidak memungkinkan terjadinya at-ta'ridh (sindiran) dari orang-orang disekelilingnya. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 3 hal. 204 | Zuria

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

(ولا ينبغي أن تخطب المعتدة ولا بأس بالتعريض في الخطبة لقوله تعالى {ولا جناح عليكم فيما عرضتم به من خطبة النساء} [البقرة: 235] إلى أن قال {ولكن لا تواعدوهن سرا إلا أن تقولوا قولا معروفا} [البقرة: 235] وقال ابن عباس - رضي الله عنهما -: التعريض أن يقول: إني أريد أن أتزوج. وعن سعيد بن جبير - رضي الله عنه - في القول المعروف: إني فيك لراغب وإني أريد أن نجتمع.

Tidak dibolehkan mengkhitbah wanita yang masih dalam masa iddah, namun dibolehkan jika mengkhitbah dengan sindiran. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah al-Baqarah ayat 235 : "Dan tidak ada dosa bagi kalian mengkhitbah wanita-wanita dengan sindiran..........akan tetapi janganlah kalian menjanjikan kepada mereka pernikahan dengan rahasia kecuali sekedar mengucapkan perkataan yang baik". Sebagaimana Ibnu 'Abbas Radiyallahu 'anhu menyebutkan tentang pengertian at-ta'ridh yaitu "saya punya keinginan untuk menikah". Dan dari Sa'id ibn Jabir Radiyallahu 'anhu dalam qaul yang sangat terkenal : "saya menyukaimu dan aku ingin kita bersama".

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 4 hal. 342 | Zuria

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

وصح أي: جاز التعريض وهو خلاف التصريح

Dan sah, maksudnya dibolehkan khitbah dengan sindiran, berbeda dengan tashrih (terang-terangan)..

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 2 hal. 488 | Nisa

Al-'Adhwi (w. 1189 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani sebagai berikut :

ولا تخطب بمعنى لا يجوز أن تخطب (المرأة) المطلقة طلاقا بائنا أو رجعيا، أو المتوفى عنها زوجهاوهي (في عدتها) بصريح اللفظ (ولا بأس) بمعنى، ويباح خطبة المعتدة (بالتعريض بالقول المعروف) أي الحسن، وهو ما يفهم به المقصود مثل إني فيك لراغب

Tidak diperbolehkan wanita yang sudah ditalak ba'in atau roj'i atau talak sebab meninggalnya seorang suami, sedangkan ia masih dalam masa iddah dengan lafadz yang shorih (jelas) dan diperbolehkan mengkhitbah wanita yang sedang dalam masa iddah dengan menampakkan kata-kata yang baik yaitu kata-kata yang bisa difahami maksudnya seperti kalimat "sungguh saya menyukaimu,".

Al-'Adhwi, Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani, jilid 2 hal. 95 | Sarah

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

جواز التعريض بخطبة المعتدة من الوفاة، وأما المعتدة من الطلاق فثلاث فلا يجوز للزوج المطلق أن يخطبها بصريح، ولا تعريض؛ لأنها لا تحل له بعد العدة فحرمت عليه الخطبة وأما غير المطلق فلا يجوز له أن يصرح بخطبتهاويجوز أن يعرض لها.

Diperbolehkan mengkhitbah wanita dengan sindiran terhadap wanita yang sedang dalam masa iddah sebab kematian suaminya, sedangkan wanita yang dithalaq tiga, tidak diperbolehkan mengkhitbahnya baik dengan lafadz sharih ataupun sindiran, karena sesungguhnya wanita itu tidak halal baginya meskipun telah habis masa iddahnya, maka diharamkan bagi suaminya untuk mengkhitbahnya.Sedangkan bagi laki-laki lain tidak diperbolehkan untuk mengkhitbahnya dengan lafadz sharih, tetapi diperbolehkan dengan sindiran.

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 248 | Achad

Lafadz Sharih : Lafadz khitbah yang dinyatakan dengan terang-terangan, seperti: Aku ingin mengkhitbahmu An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وهل يجوز التعريض بخطبتها، فيه قولان (أحدهما) يجوز له التعريض بخطبتها لانها معتدة بائن عن زوجها، فهى كالبائن بالوفاة أو بالثلاث. (والثانى) لا يجوز له لانها تحل لزوجها في حال العدة فهى كالرجعية.

Apakah boleh mengkhitbah wanita yang telah dithalaq dengan bahasa kiasan ( sindiran) ?, Dalam masalah ini ada 2 pendapat :

1. Diperbolehkan mengkhitabah wanita yang sedang dalam masa iddah karena thalaq bain, baik karena wafatnya suami atau di thalaq 3 kali

2. Tidak diperbolehkan mengkhitbah wanita yang sedang dalam masa iddah karena thalaq raj’I, karena ia masih halal untuk suaminya. .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 260 | Achad

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

ولا يحل التعريض بخطبة الرجعية؛ لأنها زوجته.... ويجوز التعريض بخطبة المعتدة من الوفاة

Mengkhitbah dengan sindiran tidak dibolehkan bagi wanita yang ditalak roj'i karena ia masih berstatus istri dari suaminya.......... dan dibolehkan mengkhitbah wanita dengan sindiran bagi wanita yang dicerai .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 36 | Zuria

Talak raj'i adalah talak satu dan dua dimana istri masih bisa rujuk kembali Abdul Qodir Asy-Syaibani (w. 1135 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Tholib sebagai berikut :

لا التعريض أي لا يحرم التعريض في عدة وفاة إلا بخطبة الرجعية فإنه يحرم

Tidak diharamkan mengkhitbah dengan sindiran terhadap wanita yang dicerai sebab kematian suaminya kecuali dalam khitbah talak raj'i maka hal tersebut tidak dibolehkan.

Abdul Qodir Asy-Syaibani, Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Tholib, jilid 2 hal. 141 | Zuria

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: ولا يحل التصريح بخطبة امرأة في عدتها. وجائز أن يعرض لها بما تفهم منه أنه يريد نكاحها.

Tidak boleh mengkhitbah wanita yang masih dalam masa iddah secara sharih (terang-terangan). Dan dibolehkan jika memakai sindiran, seperti ia menunjukkan kepada si wanita dengan sesuatu yang dipahami wanita bahwa ia berkeinginan untuk menikahinya..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 167 | Nisa

Wallahu a'lam bish showab.

Baca Lainnya :

Batasan Yang Boleh Dilihat Saat Khitbah
Siti Sarah Fauzia | 25 September 2015, 04:20 | published
Kapan Haramnya Wanita Setelah Dikhitbah
Qathrin Izzah Fithri | 10 October 2015, 15:36 | draft
Bolehkan Mengkhitbah Wanita Yang Masih Dalam Masa Iddah Dengan Sindiran?
Zuria Ulfi | 27 October 2015, 00:29 | published
Lamaran Dibatalkan, Wajibkah Mengembalikan Seserahan?
Qathrin Izzah Fithri | 29 October 2015, 20:35 | draft