|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

ولا يجوز اقتداء الرجل بالخنثى المشكل

Seorang laki-laki tidak boleh bermakmum pada khuntsa musykil.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 140 | Kartika

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

وإمامة الخنثى المشكل للنساء جائزة وللرجال والخنثى مثله لا يجوز

Seorang khuntsa musykil boleh menjadi imam bagi perempuan. Akan tetapi tidak diperbolehkan menjadi imam bagi laki-laki dan khuntsa semisalnya. .

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 111 | Kartika

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

ولا يصح اقتداء رجل بامرأة و خنثى

Dan tidak sah seorang lelaki berimam kepada perempuan dan khuntsa .

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 1 hal. 576 | Ahda

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

ولا يجوز الائتمام بامرأة ولا خنثى مشكل ولا كافر

Tidak boleh berimam kepada seorang perempuan, khuntsa musykil dan seorang kafir.

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 0 hal. 210 | Anis

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

وأما الصفات المانعة فهي أضداد الواجبة وأما المكروهة فالعبد وولد الزنى إن كانا راتبين خلافا لهم في الجواز فيهما والخصي والخنثى

Sifat-sifat yang dilarang bagi seorang imam yaitu yang bertentangan dengan sifat wajib. Sedangkan sifat yang dimakruhkan adalah seorang budak, anak zina saat shalat sunnah, bertentangan dengan mereka yang membolehkannya, dan khushii serta khuntsa.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 0 hal. 48 | Anis

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

فلا تصح إمامة المرأة ولا الخنثى المشكل

Tidak sah imam perempuan dan khuntsa yang tidak jelas kelaminnya.

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 1 hal. 205 | Ahda

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

لا يجوز للرجل أن يأتم بالخنثى

Tidak boleh bagi laki-laki menjadi makmum bagi khuntsa.

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 2 hal. 327 | Sofyana

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ولا تجوز صلاة الرجل خلف الخنثى المشكل لجواز أن يكون امرأة ولا صلاة خلف الخنثى لجواز أن يكون المأموم رجلاً والإمام امرأة

Tidak diperbolehkan laki-laki bermakmum pada khuntsa musykil karena bisa jadi khuntsa musykil itu perempuan, dan juga tidak sah shalat yang imamnya adalah khuntsa karena bisa jadi makmumnya laki-laki dan imamnya wanita..

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 184 | Irma

Al-Imam Al-Haramain (w. 478 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab sebagai berikut :

ويمتنع اقتداء الرجل بالخنثى المشكل، ولو اقتدى، لزمه القضاء، ولو لم يتفق منه القضاء حتى بان الخنثى رجلاً

Dilarang bagi laki-laki mengikuti (menjadi makmum) khuntsa, apabila ia mengikuti maka wajib baginya mengqadha shalat, jika ia tdk mau mengqadha harus dipastikan sampai jelas bahwa ia laki-laki.

Al-Imam Al-Haramain, Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab, jilid 2 hal. 379 | Sofyana

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وأما الخنثى فلا يجوز أن يؤم رجلا؛ لأنه يحتمل أن يكون امرأة، ولا يؤم خنثى مثله؛ لأنه يجوز أن يكون الإمام امرأة والمأموم رجلا

dan adapun seorang Khuntsa tidak diperbolehkan mengimami laki-laki, karena kemungkinan imam khuntsa itu cenderung sebagai seorang wanita, dan tidak juga seorang khuntsa mengimami khuntsa, dikarenakan bisa jadi imam khuntsa itu perempuan, dan makmum khuntsa itu laki-laki..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 147 | Irma

Baca Lainnya :