|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

ويؤم المتيمم المتوضئين في قول أبي حنيفة

Menurut perkataan Imam Abu Hanifah, seseorang yang bersuci dengan tayamum boleh menjadi imam shalat bagi orang yg bersuci dengan wudhu.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 111 | Kartika

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

ويجوز أن يؤم المتيمم المتوضئين

Dan yang bersuci dengan verwudhu dibolehkan berimam kepada yang bersuci dengan tayammum.

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 58 | Ahda

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

ويجوز أن يؤم المتيمم المتوضئين وهذا عند أبي حنيفة

seseorang yang bersuci dengan tayamum boleh menjadi imam untuk yang bersuci dengan wudhu. Ini adalah pendapatnya Imam Abu Hanifah.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 367 | Kartika

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

وإذا اجتمع متوضئ ومتيمم تقدم المتوضئ وإن تقدم المتيمم كره ذلك وأجزأ

Jika seorang yang berwudhu dan bertayammum shalat berjamaah, yang berwudhu menjadi imam. Jika yang bertayammum menjadi imam, makruh hukumnya dan hukumnya boleh.

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 0 hal. 213 | Anis

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وتكره إمامة المتيمم للمتوضئ

Dan makruh bagi yang berwudhu berimam kepada yang tayammum.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 253 | Ahda

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

ابن يونس: إذ قد تكون هذه صلاته فصحت لهم جماعة فلا يعيدونها في جماعة

Ibnu Yunus berkata, Bisa jadi ini adalah shalatnya yang sebenarnya (orang yang bertayammum dan tidak sedang mengulangi shalat), maka sah jamaah yang mengikutinya dan mereka tidak harus mengulangi shalat jamaah.

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 2 hal. 402 | Anis

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

ولمكتس اقتداء بعار كما يقتدي المتوضئ بالمتيمم

Orang yang berpakaian boleh mengikuti (bermakmum) kepada orang yang tidak berpakaian seperti seorang yang bersuci dengan berwudhu boleh mengikuti orang yang bersuci dengan tayammum.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 177 | Sofyana

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

وتصح القدوة للمتوضئ بالمتيمم الذي لا يلزمه قضاء لكمال صلاته

Hukumnya sah bagi seorang yang bersuci dengan wudhu mengikuti orang yang bersuci dengan tayammum yang tidak mewajibkan qadha karena kesempurnaan shalatnya.

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 2 hal. 288 | Sofyana

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ويصح ائتمام المتوضئ، بالمتيمم لا أعلم فيه خلافا؛ لأن عمرو بن العاص صلى بأصحابه متيمما، وبلغ النبي - صلى الله عليه وسلم - فلم ينكره.

dibenarkan berimam kepada imam yang bersucinya dengan berwudhu dan makmum nya bersuci dengan tayamum , tidak ada masalah didalam hal ini, karena 'Amr bin 'Ash pernah sholat dengan beberapa sahabatnya dan dia dalam keadaan bertayamamum, dan sampailah berita ini kepada baginda Nabi Shollallahu 'alayhi wa salam, dan Nabipun tidak mengingkarinya. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 165 | Irma

Baca Lainnya :