|


 

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

وإذا سرق جماعة نصابا ولم يكن في نصيب أحدهم نصاب قطعوا

Jika Sekelompok orang mencuri harta yang melebihi nishab jika digabungkan, maka mereka semua dipotong.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 236 | Anam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

إن من جهل - أحرام هذا الشيء أم حلال؟ فالورع له أن يمسك عنه، ومن جهل أفرض هو أم غير فرض؟ فحكمه أن لا يوجبه، ومن جهل أوجب الحد أم لم يجب؟ ففرضه أن لا يقيمه، لأن الأعراض والدماء حرام ... وأما السرقة: فإن المالكيين ... يقطعون جماعة سرقت ربع دينار فقط

Orang yang tidak tahu apakah sesuatu itu haram atau halal, maka sikap yang wara' adalah dengan menahan diri. Dan seseorang yang tidak tahu apakah sesuatu itu fardhu atau tidak, maka hukumnya, ia tidak boleh mewajibkannya. dan seseorang yang tidak tahu apakah had itu wajib atau tidak (dalam kasus tertentu) maka wajib baginya untuk tidak melaksanakan had tersebut, karena kehormatan dan darah itu haram. Adapun dalam kasus mencuri, Ulama-ulama madzhab Maliki menerapkan hukum potong tangan terhadap sekolompok orang yang mencuri seperempat dinar saja. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 12 hal. 62 | Wahab

Baca Lainnya :