Apakah Kondisi Finansial Merupakan Standar Kafaah?

Sat 31 October 2015 05:59 | 0
Isnawati

Kondisi finansial pasangan suami istri di masyarakat kita sekarang,kerap dijadikan tolak ukur selevel atau tidaknya pasangan, sehingga suami yang miskin dianggap tidak selevel dengan istri yang kaya.Ini melalui pandangan masyarakat, lalu bagaimanakah hal tersebut melalui pandangan syariah kita? Berikut pendapat ulama fiqih:

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

(والثالث): الكفاءة من حيث المال فإن من لا يقدر على مهر امرأة ونفقتها لا يكون كفؤا لها؛ لأن المهر عوض بضعها، والنفقة تندفع بها حاجتها

(Kriteria yang ketiga dalam kafaah) : Kafaah dilihat dari segi harta, dan barangsiapa yang tidak mampu memberikan mahar dan nafkah kepada seorang wanita, maka dianggap tidak sekufu dengannya, karena mahar merupakan imbalan atas kehalalan kehormatan seorang wanita, dan nafkah adalah sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 25 | Fatimah

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

ومنها المال، فلا يكون الفقير كفئا للغنية؛ لأن التفاخر بالمال أكثر من التفاخر بغيره عادة، وخصوصا في زماننا هذا؛ ولأن للنكاح تعلقا بالمهر والنفقة تعلقا لازما، فإنه لا يجوز بدون المهر، والنفقة لازمة، ولا تعلق له بالنسب والحرية، فلما اعتبرت الكفاءة ثمة، فلأن تعتبر ههنا أولى، والمعتبر فيه القدرة على مهر مثلها، والنفقة، ولا تعتبر الزيادة على ذلك حتى أن الزوج إذا كان قادرا على مهر مثلها، ونفقتها يكون كفئا لها،

Dan diantara kriteria kafaah adalah harta, maka laki-laki yang faqir tidak sekufu dengan wanita kaya, Karena biasanya orang itu lebih bangga dengan banyaknya harta dibandingkan dengan lainnya, terlebih pada zaman sekarang. Karena pernikahan memiliki hubungan yang erat denagan mahar dan nafkah, sebab pernikahan tidak sah tanpa mahar, berbeda dengan nasab dan status merdeka tidak ada hubungananya dalam akad nikah. Ketika nasab dan status merdeka saja bagian dari kriteria kafaah, maka harta lebih utama. Dan yang diharuskan dalam pernikahan adalah kemampuan suami untuk memberikan mahar misil dan nafkah, tidak lebih dari itu. Sehingga saat suami mampu memberikan mahar misil dan nafkah, dia dianggap sekufu dengan wanitanya. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 319 | Azizah

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

و " تعتبر " في المال وهو أن يكون مالكا للمهر والنفقة " وهذا هو المعتبر في ظاهر الرواية حتى إن من لا يملكهما أو لا يملك أحدهما لا يكون كفؤا

Dan harta termasuk kriteria kafaah, maksudnya adalah pengantin laki-laki memiliki harta yang digunakan sebagai mahar dan sebagai nafkah. Pendapat inilah yang dipilih dari riwayat tersebut. Sampai-sampai jika saja pengantin laki-laki tidak memiliki keduanya (mahar dan nafkah) atau tidak memiliki salah satunya, maka tidak dianggap sekufu .

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 196 | Fatimah

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

(قوله فأما الكفاءة في الغنى) يعني بعد ملكه للمهر والنفقة هل تعتبر مكافأته إياها في غناها، قال: معتبرة في قول أبي حنيفة ومحمد، لكن صرح السرخسي في مبسوطه وصاحب الذخيرة بأن الأصح أن ذلك لا يعتبر؛ لأن كثرة المال مذمومة. وفي شرح الكنز: لا معتبر بالمساواة في الغنى هو الصحيح.

(Masalah kafa'ah dalam finansial atau kekayaan) yaitu kepemilikan suami terhadap mahar dan nafkah apakah dianggap sebagai harta pemberian suami kepada istri ? Beliau berkata: hal tersebut memang dianggap sebagai harta pemberian suami kepada istri dalam perkataan Abu Hanifah dan Muhammad. Akan tetapi Sarakhsi menjelaskan dalam kitab Al-Mabsuth dan Az-Dzakhirah pendapat yang benar adalah hal tersebut tidak dianggap sebagai harta pemberian suami kepada istri, karena banyaknya harta menyebabkan keburukan. Dan di dalam kitab Syarh Al-kanz: hal tersebut tidak dianggap dan pendapat inilah yang benar. .

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 301 | Azizah

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وقوله: ومالا أي تعتبر الكفاءة في المال أيضا لقوله - عليه الصّلاة والسّلام - الحسب المال؛ ولأنّه يقع به التّفاخر وهو أن يكون مالكا للمهر والنّفقة ---وعن أبي حنيفة ومحمّد في غير رواية الأصول أنّ من ملكهما لا يكون كفئا للفائقة، وليس بشيء، وقيل إن كان ذا جاه كالسّلطان والعالم يكون كفئا، وإن لم يملك إلّا النّفقة؛ لأنّ الخلل ينجبر به،

Perkataan beliau : Dan harta, maksudnya adalah harta juga termasuk dalam kriteria kafaah, atas dasar sabda Rasul SAW (kehormatan ada pada harta), karena kebanggaan ada pada harta, maksudnya dia memiliki harta untuk mahar dan memberi nafkah --- dan dari Abu Hanifah dan Muhammad selain dari riwayat usul beliau berdua mengatakan bahwa seseorang yang memiliki keduanya tidak sekufu dengan seorang wanita yang lebih kaya darinya, ---, dan dikatakan jika si laki-laki mempunyai jabatan seperti penguasa atau seorang yang 'alim maka dia dianggap sekufu, walaupun dia tidak mempunyai apa-apa selain nafkah, karena kekurangannya bisa ditutupi dengan hal itu, .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 130 | Fatimah

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

الوصف الخامس المال وفي الجواهر العجز عن حقوقها يوجب مقالها

Kriteria kafaah yang kelima adalah harta, Dalam kitab Al-Jawahir, Apabila seorang laki-laki kesulitan memenuhi hak-hak wanitanya, maka wanitanya memiliki hak untuk menentukan pilihan.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 4 hal. 215 | Isna

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

ولا يشترط اليسار ولها مقال إن زوجت لمن يعجز عن حقوقها

Kekayaan tidak menjadi syarat dalam kafaah, dan wanita memilki hak untuk menentukan pilihan, jika dinikahkan dengan orang yang sulit memenuhi hak-haknya.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 132 | Isna

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

الحاصل أن الأوصاف التي اعتبروها وفاقا وخلافا ستة أشار لها بعضهم بقوله: نسب ودين صنعة حرية ... فقد العيوب وفي اليسار تردد (اهـ) . فإن ساواها الرجل في تلك الستة فلا خلاف في كفاءته وإلا فلا، واقتصر المصنف على ثلاثة منها وهي المماثلة في الدين والحال والحرية ولا يشترط فيها المماثلة في غير ذلك على المعتمد فمتى ساواها الرجل في تلك الثلاثة كان كفئا.

Hasilnya adalah, kriteria-kriteria kafaah yang disepakati dan diperselisihkan dikalangan ulama madzhab malikiyah ada enam:(1)Nasab.(2) Agama.(3)Profesi. (4) Merdeka. (5)Tidak cacat. (6)Kekayaan (akan tetapi faktor kekayaan ini terjadi perbedaan pendapat). Jika Pasangan suami istri ini memiliki kesamaan dalam enam hal tersebut, maka keduanya sudah dipastikan sekufu. Namun penulis membatasi kriteria kafaah bagi pasangan suami istri dalam tiga hal saja, yaitu: agama, keadaan fisik dan status merdeka. Selain itu tidak termasuk kafaah menurut pendapat yang kuat. Jika keduanya memiliki kesamaan dalam tiga hal tersebut sudah bisa dikatakan telah sekufu.

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 400 | Isna

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

فصل: الشرط الخامس: المال وأما الشرط الخامس: وهو المال فلقوله - صلى الله عليه وسلم -: " تنكح المرأة لأربع لمالها " ... .. وإذا كان كذلك فإن كانوا من أهل الأمصار الذين يتفاخرون ويتكاثرون بالأموال دون الأنساب فالمال فيهم معتبر في شرط الكفاءة، وإن كانوا من البوادي وعشائر القرى يتفاخرون ويتكاثرون بالأنساب دون الأموال ففي اعتبار المال في شرط الكفاءة بينهم وجهان: أحدهما: أنه شرط معتبر كأهل الأمصار... والوجه الثاني: أنه ليس بشرط معتبر، لأنه يزول فيفتقر الغني ويستغني الفقير

Pasal: kriteria yang kelima dalam kafaah adalah harta (finansial), Adapun syarat yang kelima dalam kriteria sekufu adalah harta. Sesuai dengan hadist Nabi bahwa wanita dinikahi karena hartanya. Oleh karena itu apabila mereka penduduk kota, yang berbangga -bangga dengan harta, maka harta dianggap syarat kafaah.Kan tetapi jika mereka dari kalangan pedesaan dan pegunungan, yang berbangga-bangga dengan banyaknya keturunan bukan dengan banyaknya harta, maka dalam hal ini, syarat kafaah itu pada mereka diihat dari dua sisi: 1. Bahwasanya harta dianggap syarat kafaah, sebagimana bagi penduduk kota. 2. Bahwasanya harta bukanlah syarat kafaah, karena harta bisa hilang. Dan orang kaya bisa menjadi miskin, sedangkan orang miskin bisa menjadi kaya. .

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 105 | Ipung

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

السادسة: اليسار على وجه. والأصح: أنه غير معتبر.

Poin Keenam (dalam hal kafaaah) : Kemapanan, menurut salah satu pendapat. Dan tidak termasuk kriteria kafaah menurut pendapat yang paling shahih dalam mazhab ini..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 82 | Qathrin

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(ولا أثر لليسار فيها) أي الكفاءة فالمعسر كفؤ للموسرة

(Kemapanan tidak terlalu dipertimbangkan) dalam pembahasan kafaah, maka laki-laki yang tidak mapan sekufu dengan wanita yang mapan..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 138 | Qathrin

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

(والأصح أن اليسار) عرفا (لا يعتبر) في بدو ولا حضر ولا عرب ولا عجم

(Kemapanan) secara adat masyarakat (tidak termasuk kriteria kafaah menurut pendapat yang paling shahih dalam mazhab ini) baik di kalangan masyarakat pedalaman, perkotaan, arab dan selain arab. .

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 7 hal. 283 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

(والأصح أن اليسار لا يعتبر) في خصال الكفاءة

(Kemapanan tidak termasuk) dalam kriteria kafaah (menurut pendapat yang paling shahih dalam mazhab ini)...

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 276 | Qathrin

Ar-Ramli (w. 1004 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj sebagai berikut :

(والأصح أن اليسار) عرفا (لا يعتبر) في بدو ولا حضر ولا عرب ولا عجم

(Kemapanan) secara adat masyarakat (tidak termasuk kriteria kafaah menurut pendapat yang paling shahih dalam mazhab ini) baik di kalangan masyarakat pedalaman, perkotaan, arab dan selain arab. ..

Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, jilid 6 hal. 260 | Qathrin

Al-Qalyubi wa Umairah (w. 1069 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah sebagai berikut :

(والأصح أن اليسار لا يعتبر) ؛ لأن المال غاد ورائح، ولا يفتخر به أهل المروءات والبصائر. والثاني يعتبر؛ لأنه إذا كان معسرا تتضرر هي بنفقته، وبعدم إنفاقه على الولد، وعلى هذا قيل يعتبر اليسار بقدر المهر والنفقة فيكون بهما كفؤا

Pendapat pertama, bahwa kondisi finansial tidak dianggap syarat kafa'ah. Dan inilah pendapat yang benar dalam madzhab ini. Sebab harta dapat hilang dan pergi, kemudian orang yg punya muru'ah dan ilmu tidak berbangga-bangga dengan hartanya. Pendapat Kedua, bahwa harta dianggap syarat kafaah, sebab apabila seorang lelaki kesulitan secara finansial, maka itu akan mendatangkan madharat dalam proses pemberian nafkah terhadap isteri dan anaknya. Oleh karena itu, kondisi finansial termasuk kriteria kafa'ah, disesuaikan dengan kemampuannya dalam membayar mahar dan memberi nafkah. .

Al-Qalyubi wa Umairah, Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah, jilid 3 hal. 237 | Ipung

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

فصل: فأما اليسار، ففيه روايتان؛ إحداهما، هو شرط في الكفاءة؛ لقول النبي - صلى الله عليه وسلم -: الحسب المال. وقال: إن أحساب الناس بينهم في هذه الدنيا هذا المال. وقال لفاطمة بنت قيس، حين أخبرته أن معاوية خطبها: أما معاوية فصعلوك، لا مال له والرواية الثانية، ليس بشرط؛ لأن الفقر شرف في الدين، وقد قال النبي - صلى الله عليه وسلم -: اللهم أحيني مسكينا، وأمتني مسكينا . ..واليسار المعتبر ما يقدر به على الإنفاق عليها، حسب ما يجب لها، ويمكنه أداء مهرها

Adapun kriteria: kelapangan dalam hal harta terdapat dua riwayat, riwayat yang pertama mengatakan bahwasanya ia termasuk syarat dalam kafa'ah. Sebagaimana hadits: "Sesungguhnya manusia yang dipandang terhormat diantara mereka di dunia ini adalah yang memiliki harta". Beliau juga pernah berkata kepada Fatimah bint Qais ketika Muawiyah meminangnya: sedangkan muawiyah adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta." Riwayat kedua mengatakan bahwa kekayaan bukan kriteria kafa'ah, karena kemiskinan merupakan kemuliaan dalam islam, Rasulullah pernah berdoa: Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin. Dan yang termasuk mempunyai kelapangan dalam harta adalah : minimal ia dapat memberikan nafkah yang pokok dan mampu membayar mahar. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 37 | Maryam

Inilah pendapat ulama empat madzhab tentang apakah harta menjadi tolak ukur kafaah? Mayoritas mereka mengatakan dia bagian dari kafaah, berdasarkan hadis nabi,ditambah lagi di dalam pernikahan ada kewajiban suami memberikan mahar dan nafkah untuk istri dan keluarganya, karena setelah menikah nafkah wanita menjadi tanggungan penuh suami.Dan tidaklah tercela pula ketika seorang wanita menjadikan keluasan rejeki sebagai salah satu kriteria untuk calon suaminya, meskipun harta memang bukan segalanya dalam pernikahan, tapi dia penunjang untuk terciptanya keluarga yang makmur dan sejahtera. wallahua'alam.

Baca Lainnya :

Apakah Status Perbudakan Termasuk Kriteria Sekufu?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | published
Kriteria sekufu dalam Syari'ah
Isnawati | 20 September 2015, 21:17 | published
Haruskah menikah dengan sekufu?
Isnawati | 11 October 2015, 05:01 | published
Hukum Menikahi Pasangan yang Tidak Sekufu
Siti Maryam | 13 October 2015, 05:37 | published
Apakah kecantikan atau ketampanan termasuk kriteria kafa'ah?
Qathrin Izzah Fithri | 16 October 2015, 04:53 | published
Apakah Kafaah Menjadi Syarat Dalam Pernikahan?
Ipung Multiningsih | 12 October 2015, 05:21 | published
Apakah Nasab Termasuk Kriteria Sekufu?
Fatimah Khairun Nisa | 14 October 2015, 06:00 | published
Apakah Kondisi Finansial Merupakan Standar Kafaah?
Isnawati | 31 October 2015, 05:59 | published
Apakah Kesamaan Profesi Termasuk Kriteria Kafaah?
Qathrin Izzah Fithri | 27 October 2015, 05:00 | published
Apakah Gila, Kusta dan Belang Termasuk Aib?
Isnawati | 14 November 2015, 06:33 | published