|


 

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

لَا يَجُوزُ اسْتِئْجَارُ أُمِّ الصَّبِيِّ إذَا كَانَتْ تَحْتَهُ أَوْ فِي عِدَّتِهِ لِأَنَّ الْإِرْضَاعَ مُسْتَحَقٌّ عَلَيْهَا دِيَانَةً قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ} [البقرة: 233] الْآيَةَ، وَهُوَ أَمَرَ بِصِيغَةِ الْخَبَرِ، وَهُوَ آكَدُ فَلَا يَجُوزُ أَخْذُ الْأَجْرِ عَلَيْهِ، وَلِهَذَا لَا يَجُوزُ أَنْ تَأْخُذَ الْأُجْرَةَ عَلَى خِدْمَةِ الْبَيْتِ مِنْ الْكَنْسِ وَغَيْرِهِ وَإِنَّمَا لَا تُجْبَرُ عَلَيْهِ لِاحْتِمَالِ عَجْزِهَا فَعُذِرَتْ فَإِذَا أَقْدَمَتْ عَلَيْهِ ظَهَرَتْ قُدْرَتُهَا فَلَا تُعْذَرُ،

Tidaklah dibolehkan seorang suami menyewa ibu dari anaknya, selama dia masih dalam tanggungannya atau dalam masa iddah, karena menyusui hak anak terhadap ibunya menurut agama. Sebagaimana Allah berfirman: Para ibu menyusui anak-anaknya. Perintah menyusui itu dengan konteks khabar, dimana perintah itu menujukkan dengan tegas. Maka, tidak dibolehkan dia meminta upah kepada suaminya, begitu juga dia tidak dibolehkan mengambil upah dari pekerjaan rumahnya, seperti menyapu, dan lainnya. Tetapi wanita tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan tersebut dikarenakan bisa jadi dia tidak mampu atau tidak ingin melakukannya maka dia punya alasan yang dibenarkan untuk itu. Kalau semisal dia sendiri yang ingin melakukan perkerjaan itu maka tidak apa-apa baginya.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 62 | Fatimah

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

فإن كانت الزوجة ذات منصب وحال والزوج مليء فليس عليها من خدمة بيتها شيء ولزمه أخدامها وإن كانت بخلاف ذلك والزوج فقير فعليها الخدمة الباطنة من عجن وطبخ وكنس وفرش واستقاء ماء إذا كان معها في البيت

Jika seorang istri adalah wanita yang memilki posisi terhormat, dan suaminya orang yang mampu, maka istri tidak diwajibkan melakukan pekerjaan rumah, tapi wajib bagi suami untuk melakukan semua pekerjaan itu, Tapi jika istrinya tidak memilki posisi terhormat dan suaminya orang yang fakir, maka istri wajib mengkhidmahnya, seperti menggiling tepung, memasak, menyapu, menata perabotan, menuang air, apabila keduanya tinggal bersama di rumah.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 147 | Isna

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

إن لم تكن ذات شرف ولا في صداقها ثمن خادم فعليها الخدمة الباطنة: العجن والكنس والطبخ والفرش واستسقاء الماء.

Jika seorang wanita, bukan dari golongan terhormat, dan dalam nafkahnya tidak ditentukan untuk membayar seorang pembantu, maka dia diharuskan melakukan pekerjaan rumahnya, seperti membuat tepung, menyapu, memasak, menata perabotan, dan menuang air .

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 5 hal. 547 | Isna

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

فصل: ولا يجب عليها خدمته في الخبز والطحن والطبخ والغسل وغيرها من الخدم لأن المعقود عليها من جهتها هو الاستمتاع فلا يلزمها ما سواه.

Tidak wajib bagi istri melayani suami dalam hal membuatkan roti, menggiling tepung, memasak, mencuci dan sebagainya karena tujuan akad dari sisi istri adalah istimta', maka selain itu tidak wajib. . .

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 482 | Qathrin

Maksud Istimta' di atas adalah melayani kebutuhan biologis suami.

Baca Lainnya :