|


 

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قال - رحمه اللّه - (ولشبهة الفعل إن ظنّ حلّه كمعتدّة الثّلاث وأمة أبويه وزوجته وسيّده) أي يسقط الحدّ لأجل الشّبهة في الفعل إن ظنّ أنّ وطأها حلال له ويسمّى هذا النّوع من الشّبهة شبهة في الفعل --- فلم يبق له فيها ملك ولا حقّ غير أنّه بقي فيها بعض الأحكام كالنّفقة والسّكنى والمنع من الخروج وثبوت النّسب

Beliau – semoga Allah merahmatinya – berkata (Dikarenakan suatu keraguan atau ( si lelaki) meyakini bahwa (si wanita) masih berstatus sebagai istrinya, seperti yang terjadi pada, istri yang sudah di talak tiga kali, atau budak orangtuanya, atau istrinya atau tuannya) maksudnya adalah dikarenakan sebab ini si lelaki dijatuhi hukum had, atau karena dia berhubungan dengannya karena meyakini bahwa itu istrinya. ----- maka dia (si lelaki) tidak berhak lagi memilikinya. Akan tetapi ada beberapa hukum yang masih menjadi tanggungannya, seperti hukum nafkah, memberikan tempat tinggal, tidak boleh keluar, dan ditetapkan nasab (anak yang dibawa wanita) kepadanya .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 177 | Fatimah

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وله وجد بأن وطئها بشبهة وهي في العدّة هكذا ذكروه، وفيه نظر لأنّ المبتوتة بالثّلاث إذا وطئها الزّوج بشبهة كانت شبهة في الفعل، وفيها لا يثبت النّسب،

Jika terbukti dia berhubungan dengan si wanita dengan hubungan yang syubhat (meragukan) yaitu disaat masa ‘iddah seperti yang telah mereka sebutkan, dalam hal ini ada permasalahan karena seorang wanita yang sudah di talak tiga jika suami nya berhubungan dengannya dengan keraguan, maka nasabnya tidak diikutkan dengannya .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 41 | Fatimah

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

إذا دعاها فأجابته وقالت أنا زوجتك أو أنا فلانة باسم زوجته فواقعها؛ ….، وإن جاءت بولد يثبت نسبه

Jika si lelaki memanggil wanita kemudian si wanita berkata, saya istrimu atau saya fulanah dengan menyebutkan nama istri kemudian si lelaki berhubungan dengannya,.. jika di kemudian hari si wanita datang dengan membawa seorang anak, maka nasabnya diikutkan kepada lelaki tersebut .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 5 hal. 15 | Fatimah

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

وقال ابن يونس: قال ابن القاسم: القضاء إن كان وطئ بشبهة فالولد فيه لاحق، ولا يلحق في الوطء بغير شبهة وإن الولد بخلاف الغلة في الاستحقاق

Dan berkata Ibnu yunus,berkata Ibnu Qasim: Sebuah hukum, jika terjadi hubungan syubhat, maka anak dari hub tersebut dinasabkan kepada ayah biologisnya.

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 7 hal. 352 | Isna

Al-Imam Al-Haramain (w. 478 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab sebagai berikut :

فإن نكاح الشبهة فراش يترتب عليه النسب، كما يترتب على النكاح الصحيح.

Bahwa nikah syubhat memiliki nasab sebagaimana dengan nikah yang shahih. .

Al-Imam Al-Haramain, Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab, jilid 15 hal. 283 | Ipung

Anak dari pernikahan syubhat memiliki nasab sebagaimana nasab pernikahan yang sah. Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

(فإذا ولدت) تلك الموطوءة في المسائل المذكورة (لما بين ستة أشهر وأربع سنين) وكذا (من وطأيهما وادعياه) أي الولد (عرض عليه) أي القائف فيلحق من ألحقه به منهما.

(Jika wanita tersebut melahirkan) yakni wanita yang berhubungan (jima') syubhat dalam keadaan yang telah disebutkan (antara 6 bulan sampai 4 tahun) yakni (sejak terjadinya hubungan tersebut dan pengakuan) yakni anak tersebut (dibawa kepada laki-laki yang berjima' dengannya) maka anak tersebut dinisbahkan kepada kepadanya (laki-laki yang berjima' dengannya).

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 6 hal. 442 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini dalam ktabnya Mughni Al-Muhtaj telah menjelaskan pada paragraf sebelumnya pengertian dari hubungan syubhat dan contoh kondisinya. Kemudian di paragraf ini beliau menjelaskan hukum anak dari hubungan syubhat. Ar-Ramli (w. 1004 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj sebagai berikut :

ولا يتعين الزوج للإلحاق لأنه موضع الاشتباه والثاني يلحق الزوج لقوة الفراش، ولا يكفي اتفاق الزوجين على الوطء بل لا بد من بينة به لأن للولد حقا في النسب وتصديقهما ليس بحجة عليه، فإن قامت به بينة عرض على القائف وهذا ما ذكره المصنف في الروضة هنا وهو المعتمد

Anak tersebut tidak dinasabkan kepada suaminya karena dalam kondisi syubhat (tidak jelas). Pendapat kedua dinisbahkan kepada suaminya karena dia lebih berhak, dan kesepakatan antara suami istri dalam hal ini tidak cukup, harus ada bukti. Karena anak berhak memiliki nasab dan pengakuan suami istri (atas anak tersebut) bukan bukti. Jika terdapat bukti (bahwa anak tersebut bukan dari suami) maka dinisbahkan kepada laki-laki yang berjima' dengannya. Ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Ar-Raudhah dan pendapat ini mu'tamad.

Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, jilid 7 hal. 836 | Qathrin

Abul Barakat (w. 625 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Muharrar fil Fiqhi 'ala Madzhabil Imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut :

وكذلك الحكم إن وطئ اثنان امرأة بشبهة أو أمة لهما في طهر واحد أو وطئت زوجة رجل أو ولد بشبهة وأتت بولد يمكن أنه منهما أرى القافة سواء ادعياه أو جحداه أو أحدهما

Demikian juga hukumnya, jika terdapat dua laki-laki yang menggauli seorang wanita dengan syubhat, atau menggauli budak perempuan mereka dalam keadaan satu suci, atau jika menggauli istri orang lain atau istri anaknya kemudian ia melahirkan dan kemungkinan anak itu dari mereka berdua maka nasab anak tersebut diserahkan kepada keputusan orang yang dapat mengetahui nasab dengan firasatnya, baik keduanya mengakui anak tersebut ataupun mengingkarinya. Atau salah satu dari mereka ada yang mengaku/mengingkari anak tersebut..

Abul Barakat, Al-Muharrar fil Fiqhi 'ala Madzhabil Imam Ahmad bin Hanbal, jilid 2 hal. 102 | Maryam

dari perkataan diatas dapat disimpulkan bahwa anak dari hubungan syubhat dinisbatkan kepada laki-laki yang menggauli perempuan tersebut.

Baca Lainnya :