|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

باب دعوة الولد من الزنا، والنكاح الصحيح (قال - رحمه الله -: رجل أقر أنه زنى بامرأة حرة، وأن هذا الولد ابنه من الزنا، وصدقته المرأة) فإن النسب لا يثبت من واحد منهما لقوله - صلى الله عليه وسلم - «الولد للفراش وللعاهر الحجر»، ولا فراش للزاني

Bab tuduhan anak dari hubungan zina, dan pernikahan yang sah (Beliau – semoga Allah merahmatinya – berkata : seorang lelaki mengakui bahwa dia telah berzina dengan seorang perempuan merdeka, dan anak yang dibawa adalah anaknya dari hubungan zina, dan si wanita membenarkan akan hal itu) maka nasabnya tidak diikutkan oleh keduanya, sebab sabda rasul (nasab anak diikutkan kepada yang sah berhubungan dengannya dan seorang yang berzina dengannya tidak memiliki hak atas anak itu) karena seorang yang berzina tidak mempunyai firasy .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 17 hal. 154 | Fatimah

Beliau yang dimaksud diatas adalah Al-Maruzi penulis kitab Al-Kafi.

Firasy adalah : Hubungan yang terjadi dalam ikatan yang sah atau halal. Seperti hubungan suami istri dalam pernikahan yang sah atau antara tuan dan budak perempuannya. As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

قال: وإذا ولدت امرأة الرجل على فراشه فقال الزوج زنى بك فلان، وهذا الولد منه وصدقته المرأة، وأقر فلان بذلك فإن نسب الولد ثابت من الزوج؛ لأنه صاحب الفراش، وثبوت النسب باعتبار الفراش

Beliau berkata : Jika ada seorang wanita yang melahirkan anak dari seorang yang telah berhubungan dengannya kemudian suaminya berkata: seorang lelaki telah berzina denganmu dan anak ini anknya, kemudian si wanita membenarkannya, dan si fulan juga mengakuinya, maka nasab anak tersebut diikutkan ke suaminya, karena dia adalah suami nya yang sah, dan jalur penasaban diakui dengan hal ini .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 17 hal. 155 | Fatimah

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

قال: وإذا قال الرجل لصبي في يدي امرأة: هو ابني من زنا، وقالت المرأة من نكاح، ثم قال الرجل بعد ذلك هو من نكاح ثبت نسبه منه؛ لأن كلامه الأول نفي للنسب عن نفسه، وكلامه الثاني دعوة للنسب بعد النفي صحيح؛

Beliau berkata : Jika ada seorang lelaki mengatakan kepada anak yang dibawa oleh seorang wanita : dia adalah anakku dari hubungan zina, lalu si wanita berkata : dia anakmu dari pernikahan (hubungan yang sah), kemudian setelah itu si lelaki mengatakan bahwa itu anknya dari pernikahan dengannya, maka dengan ini nasab anak tersebut diikutkan kepadanya. Hal ini dikarenakan di perkataan pertama dia menafikan nasab anak tersebut darinya, lalu di perkataannya yang kedua dia menetapkan nasab setelah menafikannya .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 17 hal. 157 | Fatimah

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

فلا يرث ولد الزنى والده ولا يرثه هو لأنه غير لاحق به

Anak zina tidak bisa mewarisi ayah biologisnya, karena dia tidak dinasabkan kepadanya..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 259 | Isna

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

فمن اغتصب امرأة وزنى بها فعليه حد الزنى... ولا يلحق به الولد

Siapa yang menzinai seorang wanita, maka dia harus dikenai hukuman hudud, dan anak dari zina tersebut tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinai ibunya. .

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 219 | Isna

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

(قال الشافعي) : فإن ولدت امرأة حملت من الزنا اعترف الذي زنا بها أو لم يعترف فأرضعت مولودا فهو ابنها ولا يكون ابن الذي زنى بها

Syafi’I berkata : jika seorang wanita melahirkan, hamil karena zina baik yang menzinainya mengakui ataupun tidak, lalu si wanita itu menyusui anak tersebut, maka anak ini adalah anak wanita dan bukan anak laki-laki yang menzinainya. .

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 32 | Ipung

Jadi anak yang lahir dari wanita pezina, tidak boleh di nasabkan kepada laki-laki yang menzinainya, baik laki-laki tersebut mengakui ataupun tidak. Al-Imam Al-Haramain (w. 478 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab sebagai berikut :

ولد الزنا لا يرث الزاني [ولا يرثه الزاني] (1)، إذ لا نسب بينهما

Anak hasil zina tidak mewarisi laki laki yang menzinai ibunya ( dan pezina juga tidak mendapat warisan dari anak tersebut), karena tidak ada nasab dari keduanya. .

Al-Imam Al-Haramain, Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab, jilid 9 hal. 186 | Ipung

Anak zina tidak ada nasan kepada ayahnya. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

حكم ولد الزنا حكم ولد الملاعنة لانه ثابت النسب من أمه وغير ثابت النسب من أبيه

Hukum anak dari hubungan zina sama seperti hukum anak dari mula'anah karena nasabnya kembali kepada ibu bukan kepada bapak. .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 105 | Qathrin

Pengertian li'an sama dengan mula'anah. Ada di penjelasan berikutnya. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وان لاعن الزوج ونفى نسب الولد انقطع التوارث بينهما لا نتفاء النسب بينهما، ويبقى التوارث بين الام والولد لبقاء النسب بينهما

Jika seorang suami me-li'an istrinya dan menafikan nasab anak tersebut maka hak waris diantara mereka terputus karena hubungan nasab mereka telah terputus, sedangkan hak waris antara ibu dan anak tersebut masih ada karena nasab mereka masih tersambung....

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 102 | Qathrin

Li'an adalah sumpah seorang suami apabila dia menuduh istrinya berzina tanpa mempunyai empat orang saksi kecuali dirinya, maka hendaklah dia bersumpah empat kali “bahwa dia adalah orang yang benar” dan dan yang kelima “bahwa dia akan dilaknati Allah jika dia berdusta”. Jika istri menolak tuduhan tersebut, maka hendaklah dia bersumpah sebanyak empat kali “bahwa suaminya itu berdusta” dan pada yang kelimanya “bahwa dia akan dilaknati Allah jika suaminya benar”.

Dan hukum anak li'an dan anak zina sama karena dari hubungan di luar pernikahan. Dalam hal ini nasab anak zina dan anak li'an terputus dari ayahnya dan dinasabkan ke ibu. Abu Ishaq Burhanudin (w. 884 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mubdi' Syarhul Muqni sebagai berikut :

ولد الزاني لا يلحق به، وإن اعترف به. نص عليه. واختار الشيخ تقي الدين أنه إذا استلحق ولده من الزنا، ولا فراش لحقه، وفي " الانتصار ": يسوغ فيه الاجتهاد.. وفي " الانتصار " يلحقه بحكم الحاكم. وذكر أبو يعلى الصغير مثله.

Anak hasil zina tidak dinasabkan kepada ayah biologisnya, walaupun ayahnya mengakui, dan itu telah disebutkan dalam nash. Ibnu Taimiyah memilih pendapat apabila seorang ingin menisbahkan nasab kepada anak itu, maka di dalam al-inthishar, dalam kasus demikian diperlukan adanya ijtihad, dan juga disebutkan laki-laki tersebut dapat menasabkan kepada anaknya dengan keputusan hakim, sebagaimana juga yang disebutkan Abu Ya'la Ash-Shagir..

Abu Ishaq Burhanudin, Al-Mubdi' Syarhul Muqni, jilid 7 hal. 70 | Isna

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

فكل نكاح عقد على أن لا صحة له إلا بصحة الشروط المذكورة فلا صحة له فإذ لا صحة له فليست زوجة، وإذ ليست زوجة -: فإن كان عالما فعليه حد الزنا ولا يلحق به الولد... فإن كان جاهلا فلا حد عليه والولد لاحق به

Setiap pernikahan yang dilakukan tanpa memenuhi syarat sah, maka pernikahannya tidak sah. Apabila pernikahannya tidak sah, wanitanya bukan istrinya, maka ketika wanitanya bukan menjadi istrinya, dan lelaki itu mengetahui hal tersebut, dia harus dikenai hukuman hudud zina, dan anak dari hubungan keduanya tidak dinasabkan kepada laki-laki tersebut. Namun, apabila suami tidak mengetahui bahwa syarat sahnya tidak terpenuhi, maka dia tidak dikenai hukuman hudud zina, dan anaknya tetap dinasabkan kepadanya..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 87 | Isna

Baca Lainnya :