|


 

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

ولنا قوله عليه الصلاة والسلام " من قاء أو رعف أو أمذى في صلاته فلينصرف

bagi kami sabda Rasulullah SAW: "siapa yang (ingin) muntah, meludah atau keluar madzi boleh pergi.

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 59 | Taslima

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

قوله انصرف أي من غير توقف يفيده إيقاعه جزاء الشرط خبرا فيلزم عنده وإلاّ لزم الكذب, فإن مكث مكانه قدر ركن فسدت

maksud perkataannya 'inshorofa (pergi)' adalah dengan tidak ada jeda. manfaat menjadikannya sebagai jaza' syarat adalah untuk mengabarkan, maka harus jika tidak artinya dia berbohong, jika tetap ia lakukan walau hanya satu rukun maka (shalatnya) rusak.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 377 | Taslima

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

لأن انفراده قبل فراغ الإمام لا يجوز) أي عندنا

“karena memisahkan diri dari imam sebelum selesai dari sholat tidak boleh menurut pendapat kami”..

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 152 | Kholisnawati

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

أن مفارقة الإمام بعد التزام الصلاة معه لا تجوز

“bahwasanya memisahkan diri dari imam sesudah melakukan shalat dgnya tidak diperbolehkan”..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 85 | Kholisnawati

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

(قوله أي لا ينتقل من جماعة للانفراد) أي لأن المأمومية تلزم بالشروع وإن لم تجب ابتداء كالنفل ومحل عدم جواز الانتقال المذكور ما لم يضر الإمام بالمأموم في الطول وإلا جاز له الانتقال

“Perkataaannya : tidak boleh seseorang (makmum) mufaraqah dari jamaah ke sholat munfarid yaitu disebabkan bahwa seorang makmum wajib menyelesaikan sholatnya bersama imam, kecuali apabila sejak awal sholatnya tidak wajib seperti sholat sunnah. Adapun kondisi bolehnya (makmum) berpindah seperti yang telah disebutkan yaitu selama panjangnya bacaan imam tidak memberatkan makmum, Namun apabila makmum merasa berat maka boleh mufaraqah”..

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 1 hal. 340 | Nimah

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

إنما لم يصح نية المفارقة لأن المأمومية تلزم بالشروع، وإن لم تجب ابتداء كصلاة النفل. ومحل منع الانتقال المذكور، ما لم يضر الإمام بالمأمومين في الطول وإلا جاز الانتقال

“Bahwasanya tidaklah sah berniat mufaraqah (memutuskan hubungan jamaah dengan imam), karena seorang makmum harus menyelesaikan sholatnya bersama imam, kecuali sejak awal sholatnya tidak wajib seperti sholat sunnah. Adapun keadaan dilarangnya murafaqah sebagaimana disebut yaitu selama panjangnya bacaan imam yang tidak memberatkan makmum, tetapi jika itu menyulitkannya maka boleh murafaqah”..

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 450 | Nimah

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وإن نوى المأموم مفارقة الإمام وأتم لنفسه فإن كان لعذر لم تبطل صلاته

“apabila makmum berniat mufaraqah dan shalat sendirian, jika hal itu karena adanya udzur maka shalatnya tidak batal”..

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 183 | Kholisnawati

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

خرج الإمام من صلاته انقطعت القدوة فإن لم يخرج وقطعها المأموم جاز

“Apabila Imam keluar dari shalatnya, maka terputuslah hubungan shalatnya dengan jama’ah, apabila sebaliknya (makmum) yang memutuskan jama’ah dengan imam, maka hal itu dibolehkan” .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 43 | Neng

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

( فإن لم يخرج ) أي الإمام ( وقطعها المأموم ) بنية المفارقة بغير عذر ( جاز ) مع الكراهة

Apabila imam tidak keluar (memutuskan shalat jamaahnya kerena suatu hadas atau yang lain) lalu ma’mum memutuskan hubungan jamaah dengan imam tanpa suatu alasan maka hukumnya boleh tapi dibenci.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 259 | Mega

Al-Malibari (w. 987 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Mu'in sebagai berikut :

وتجوز المفارقة بلا عذر مع الكراهة فتفوت فضيلة الجماعة.

“dibolehkan mufaraqah (memisahkan diri dari imam) tanpa adanya udzur akan tetapi makruh karena ia tidak mendapatkan keutamaan berjamaah”..

Al-Malibari, Fathul Mu'in, jilid 1 hal. 174 | Kholisnawati

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وإن أحرم مأموما، ثم نوى مفارقة الإمام، وإتمامها منفردا لعذر، جاز. وإن فعل ذلك لغير عذر، ففيه روايتان: إحداهما، تفسد صلاته؛ لأنه ترك متابعة إمامه لغير عذر، أشبه ما لو تركها من غير نية المفارقة. والثانية: تصح

Apabila seorang makmum telah mengangkat takbiratul ihram kemudian berniat mufaraqah dari jamaah dan melanjutkan shalatnya sendirian karena sebuah uzhur /sebab maka hal itu diperbolehkan. Akan tetapi apabila dia melakukan hal tersebut tanpa adanya sebuah uzhur/sebab maka dalam hal ini ada dua riwayat dari imam Ahmad. Pertama: shalatnya tidak sah karena dia meninggalkan mutabaah(mengikuti) imam tanpa adanya uzhur/sebab dan itu sama halnya dengan dia meninggalkan mutabaah tanpa adanya niat mufaraqah. Kedua: shalatnya sah .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 171 | Rahmi

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

وإن أحرم مأموما ثم نوى الانفراد لعذر يبيح ترك الجماعة

Apabila ma’mum bertakbiratul ihram kemudian berniat untuk shalat sendiri (memutuskan hubungan jamaah dengan imam) karena suatu alasan maka diperbolehkan meninggalkan jamaah.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 320 | Mega

Baca Lainnya :