Hukum Menikahi Pasangan yang Tidak Sekufu

Tue 13 October 2015 05:37 | 0
Siti Maryam

menikah dengan sekufu memang menjadi impian hampir semua orang, karena hal ini dapat meminimalisir masalah rumah tangga, baik masalah yang berasal dari pasangan suami-istri itu sendiri maupun yang berasal dari keluarga besar. Namun jika wali menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang tidak sekufu, bagaimana status pernikahanya?

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

(قال:) وإذا زوجت المرأة نفسها من غير كفء فللأولياء أن يفرقوا بينهما؛ ولا يكون التفريق بذلك إلا عند القاضي؛

(beliau berkata : ) apabila seorang wanita menikahkan dirinya dengan seorang lelaki yang tidak sekufu dengannya, maka hendaknya bagi para wali wanita agar memisahkan antara mereka berdua, dan yang memutuskan untuk memisahkan antara meeka berdua adalah hakim. .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 25 | Fatimah

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

(قال:) وإذا تزوجت المرأة غير كفء فرضي به أحد الأولياء جاز ذلك،

(beliau berkata : ) apabila seorang wanita menikah dengan seorang lelaki yang tidak sekufu, lalu salah satu walinya ridha dengan hal ini, maka hal ini diperbolehkan .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 26 | Fatimah

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

(قال:) وإذا تزوجت المرأة رجلا خيرا منها فليس للولي أن يفرق بينهما؛ لأن الكفاءة غير مطلوبة من جانب النساء

(beliau berkata : ) apabila seorang wanita menikahkan dirinya dengan seorang lelaki yang lebih baik daripada dia, maka wali tidak perlu memisahkan antara mereka berdua, karena kafa’ah tidak dituntut dari sisi seorang wanita.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 29 | Fatimah

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

" ومن زوج ابنته وهي صغيرة عبدا أو زوج ابنه وهو صغير أمة فهو جائز " قال رضي الله عنه " وهذا عند أبي حنيفة رحمه الله

“Dan barangsiapa yang menikahkan anak perempuannya ketika dia masih kecil dengan seorang hamba sahaya, atau dia menikahkan anak laki-lakinya dengan seorang hamba sahaya, maka hal itu diperbolehkan. Beliau mengatakan bahwa ini adalah pendapat Abu Hanifah – semoga Allah merahmatinya - .

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 197 | Fatimah

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

قوله وإذا زوجت المرأة نفسها من غير كفء فللأولياء) وإن لم يكونوا محارم كابن العم (أن يفرقوا بينهما دفعا للعار عن أنفسهم) ما لم يجئ من الولي دلالة الرضا كقبضه المهر أو النفقة

Apabila seorang wanita menikahkan dirinya dengan lelaki yang tidak sekufu maka bagi para walinya hendaknya memisahkan keduanya (walaupun walinya bukan mahramnya seperti sepupunya) supaya terhindar dari aib, selama belum ada yang memberikan persetujuan dari wali seperti menerima mahar atau nafaqah. .

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 294 | Azizah

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قال - رحمه اللّه - (من نكحت غير كفء فرّق الوليّ)

Beliau – semoga Allah merahmatinya – berkata (apabila seorang wanita menikahkan dirinya dengan seorang lelaki yang tidak sekufu dengannya, hendaknya wali wanita memisahkan mereka berdua).

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 128 | Fatimah

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

م: (وإذا زوجت المرأة نفسها من غير كفء فللأولياء أن يفرقوا بينهما دفعا لضرر العار عن أنفسهم) ش: أما التفريق فما لم تلد المرأة، وفيه خلاف قد مضى، ولا يبطل حق الولي بالسكوت بعد العلم، وإن طال السكوت، ولا يكون التفريق إلا عند القاضي؛ لأنه مجتهد فيه.

(Apabila seorang wanita menikahkan dirinya dengan orang yang tidak sekufu maka para walinya dapat memisahkan keduanya, supaya terhindar dari aib). Perpisahan ini dilakukan selama sang istri belum melahirkan, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah berlalu, dan hak seorang wali itu tidak akan batal ketika ia diam walaupun ia tahu tentang adanya ketidak sepadanan, walaupun diamnya itu lama. Dan wewenang menjatuhkan pemisahan diantara keduanya ada di tangan Qadhi/hakim. .

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 5 hal. 109 | Azizah

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

ولو زوجها الولي برضاها ولم يعلم بعدم الكفاءة، ثم علم لا خيار له هذا إذا لم يشترط بالكفاءة أما إذا اشترط أو عقد على أنه حر فإذا هو عبد مأذون فله الخيار (في) وقت (النكاح)

Apabila seorang wali menikahkan seorang wanita dengan ridha darinya dan wali ini tidak tahu bahwa sang calon suami tidak sekufu,kemudian ia tahu, maka si wali ini tidak ada hak untuk memilih, hal ini apabila wali belum mensyaratkan kafa’ah. Tapi apabila sudah mensyaratkan kafa’ah, maka wali boleh untuk memilih pada saat pernikahan. .

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 340 | Azizah

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

فإن زوجها من غير كفؤ فيصل فيه إن كان كافرا أو فاسقا بالاعتقاد رد نكاحه ولو رضيت به المرأة لأن الكفاءة في الدين حق لله ليس لأحد إسقاطها، بخلاف لو زوجها لدنيء في النسب أو فقير أو فاسق بجارحة أو بذي عيب يوجب الخيار للزوجة فلا يرد به مطلقا،

Ketika seorang wanita dinikahkan dengan yang tidak sekufu, jika lelaki itu kafir atau fasik dalam aqidah, maka pernikahannya ditolak, meskipun wanita itu ridha. Sebab kafaah dalam hal agama merupakan hak Allah, tidak berhak seorang pun menggugurkannya, beda halnya ketika seorang wanita dinikahkan dengan seorang yang lebih rendah nasabnya, atau faqir, atau fasik (selain fasik dalam aqidah), atau laki-laki yang punya aib, maka wanita punya hak untuk khiyar(memilih), dan tidaklah pernikahan itu ditolak secara mutlak..

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 2 hal. 9 | Isna

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

فصل: القول فيما إذا تزوجت المرأة من غير كفء فإذا تقرر ما وصفنا من شروط الكفاءة ونكحت المرأة غير كفء لم يخل نكاحها من ثلاثة أقسام: أحدهما: إن يكون قد رضيته الزوجة وكرهه الأولياء، فالنكاح باطل على ما قدمناه اعتبارا بحقوق الأولياء فيه. والقسم الثاني: أن يكون قد رضيه الأولياء وكرهته الزوجة فالنكاح باطل اعتبارا لحقها فيه حتى لا يعرها من لا يكافئها. والقسم الثالث: أن يكون قد رضيته الزوجة والأولياء فالنكاح جائز.

Pasal: perkataan jika perempuan menikah dengan lelaki tidak sekufu. Jika syarat - syarat kafa'ah telah ditetapkan dan ternyata wanita menikah dengan lelaki yang tidak sepadan, maka pernikahannya bisa dipandang dari 3 sudut: 1. jika si perempuan ridha dan para walinya tidak ridha, maka pernikahannya tidak sah. Karena wali memiliki hak dalam pernikahan. 2. Jika para walinya ridha sedangkan si perempuannya tidak ridha, maka pernikahannya tidak sah, karena si perempuan memiliki hak dalam pernikahan, sehingga lelaki yang tidak sekufu itu tidak menjadi aib baginya. 3. Si perempuan dan para wali ridha, maka pernikahannya boleh..

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 107 | Ipung

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

فصل : وإن دعت المنكوحة إلى غير كفء لم يلزم الولي تزويجها لأنه يلحقه العار فإن رضيا جميعاً جاز تزويجها ... ولأن المنع من نكاح غير الكفء لحقهما فإن رضيا زال المنع فإن زوجت المرأة من غير كفء من غير رضاها أو من غير رضا سائر الأولياء فقد قال في الأم: النكاح باطل

Fasl : Jika seorang wanita minta dinikahkan dengan laki-laki yang tidak sekufu maka wali tidak harus menikahkan mereka supaya terhindar dari aib. Akan tetapi jika masing-masing pihak telah ridha maka wali boleh menikahkan wanita tersebut ... dan karena larangan menikah dengan yang tidak sekufu itu demi memenuhi hak mereka. Jika mereka merelakan haknya maka sebab pelarangan tersebut hilang. Jika seorang wanita dinikahkan dengan laki-laki yang tidak sekufu tanpa seizinnya dan para walinya, maka Imam Syafi'i telah mengatakan di dalam kitab Al-Umm bahwa pernikahan tersebut bathil (tidak sah). .

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 432 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin sebagai berikut :

...ويجري القولان في تزويج الأب بكرا صغيرة أو بالغة غير كفء بغير رضاها ففي الأظهر باطل وفي الآخر يصح وللبالغة الخيار وللصغيرة إذا بلغت

Seorang ayah yang menikahkan anak gadisnya dengan seseorang yang tidak sekufu tanpa izinnya baik usianya masih kecil ataupun sudah baligh dalam hal ini ada dua pendapat, menurut pendapat yang paling kuat pernikahan tersebut bathil. Dan menurut pendapat lain anak gadis yang telah baligh boleh memilih (khiyar) adapun yang belum baligh maka ditunda hingga sudah baligh. .

An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 1 hal. 208 | Qathrin

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

اختلفت الرواية عن أحمد في اشتراط الكفاءة لصحة النكاح، فروي عنه أنها شرطٌ له... والرواية الثانية عن أحمد أنها ليست شرطا في النكاح… والثانية، هو صحيحٌ؛ بدليل أن المرأة التي رفعت إلى النبي - صلى الله عليه وسلم - أن أباها زوجها من غير كفئها خيرها، ولم يبطل النكاح من أصله.

Terdapat perbedaan riwayat dari imam ahmad apakah kafaah syarat sah nikah, riwayat pertama mengatakan bahwa kafaah adalah syarat sah nikah… Riwayat kedua mengatakan bahwa kafaah bukan syarat… dan yang shahih adalah riwayat yang kedua. Dengan dalil bahwa nabi memberikan hak khiyar (hak memilih antara melanjutkan pernikahan atau dipisahkan) kepada seorang wanita yang dinikahkan ayahnya dengan seorang laki-laki yang tidak sekufu dengannya, dan pernikahan tersebut pada dasarnya tidak batal..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 33 | Maryam

Baca Lainnya :

Apakah Status Perbudakan Termasuk Kriteria Sekufu?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | published
Kriteria sekufu dalam Syari'ah
Isnawati | 20 September 2015, 21:17 | published
Haruskah menikah dengan sekufu?
Isnawati | 11 October 2015, 05:01 | published
Hukum Menikahi Pasangan yang Tidak Sekufu
Siti Maryam | 13 October 2015, 05:37 | published
Apakah kecantikan atau ketampanan termasuk kriteria kafa'ah?
Qathrin Izzah Fithri | 16 October 2015, 04:53 | published
Apakah Kafaah Menjadi Syarat Dalam Pernikahan?
Ipung Multiningsih | 12 October 2015, 05:21 | published
Apakah Nasab Termasuk Kriteria Sekufu?
Fatimah Khairun Nisa | 14 October 2015, 06:00 | published
Apakah Kondisi Finansial Merupakan Standar Kafaah?
Isnawati | 31 October 2015, 05:59 | published
Apakah Kesamaan Profesi Termasuk Kriteria Kafaah?
Qathrin Izzah Fithri | 27 October 2015, 05:00 | published
Apakah Gila, Kusta dan Belang Termasuk Aib?
Isnawati | 14 November 2015, 06:33 | published