Suami Istri Berbeda Pendapat dalam Penyebutan Mahar Saat Akad

Sat 31 October 2015 19:38 | 0
Siti Sarah Fauzia

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فإن كان الاختلاف في أصل التسمية يجب مهر المثل

Apabila perselisihan itu terjadi pada asal penentuan mahar itu sendiri, maka wajib bagi sang suami untuk memberikan mahar mitsl.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 305 | Achad

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

إن اختلفا) في المهر (ففي أصله) حلف منكر التسمية، فإن نكل ثبت، وإن حلف (يجب مهر المثل)

Dan apabila suami dan istri berselisih tentang penentuan mahar, maka bagi yang mengingkari wajib untuk bersumpah, selanjutnya apabila terjadi penentangan maka harus ditetapkan, apabila ia telah bersumpah maka wajib baginya membayar mahar mitsl.

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 3 hal. 148 | Achad

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

(المسألة الخامسة) في التنازع في الصداق إن اختلف في مقدار الصداق فإن كان قبل الدخول تحالفا وتفاسخا وبدئت باليمين ومن نكل منهما قضي عليه مع يمين صاحبه وإن اختلفا بعد الدخول فالقول قول الزوج مع يمينه

Permasalahan kelima: Masalah perselisihan dalam mahar. Jika terjadi perselisihan dalam ukuran mahar, dan apabila perselisihan itu terjadi sebelum jima’ maka keduanya harus bersumpah dan fasakh dan sumpahnya itu dimulai oleh istri terlebih dahulu. Dan siapa diantara keduanya yang enggan untuk bersumpah maka dia dikalahkan oleh sumpah yang diucapkan oleh pasangannya. Dan jika perselisihan itu terjadi setelah dukhul, maka yang diambil adalah perkataan suami dengan sumpahnya..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 136 | Nisa

Ar-Rafi'i (w. 623 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyyah menuliskan dalam kitabnya Fathu Al-Aziz bi Syarhi Al-Wajiz sebagai berikut :

ولو ادعت المرأة مهرا مسمى، وأنكر الزوج أصل التسمية، فوجهان أحدهما: أن القول قول الزوج مع يمينه؛ لأن الأصل عدم التسمية. وأصحهما: وبه قال القاضي الحسين أنهما يتحالفان

Apabila istri mengakui bahwa mahar telah disebutkan saat akad, namun suami mengingkarinya maka ada dua pendapat. Pertama: pendapat yang diterima adalah perkataan suami disertai dengan sumpah karena pada dasarnya tidak ada penyebutan mahar. Namun yang paling benar sebagaimana yang dikatakan Qodhi Al-Husain : bahwa keduanya harus saling bersumpah.

Ar-Rafi'i, Fathu Al-Aziz bi Syarhi Al-Wajiz, jilid 8 hal. 334 | Zuria

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

إذا اختلفا في قدره، ولا بينة على مبلغه، ففيه روايتان إحداهما: القول قول من يدعي مهر المثل منهما. فإن ادعت مهر المثل أو أقل، فالقول قولها. وإن ادعى مهر مثلها أو أكثر، فالقول قوله والرواية الثانية: القول قول الزوج بكل حال؛

Jika suami istri berbeda dalam menentukan kadar mahar, dan tidak ada kejelasan dalam jumlah nominalnya, maka dalam hal ini ada dua riwayat: yang pertama: Perkataan yang diambil adalah perkataan yang mengklaim mahar mistl diantara keduanya. Jika perempuan yang mengklaim mahar mitsl atau lebih sedikit, maka yang diambil adalah perkatannya. Dan jika laki-laki yang mengklaim mahar mitsl atau lebih banyak, maka perkataan yang diambil adalah perkataannya. Riwayat yang kedua: Perkataan yang diambil adalah perkataan suami dalam kondisi apapun. .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 75 | Siska

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: فإذا طلبت المنكحة التي لم يفرض لها صداق قضي لها به، فإن تراضت هي وزوجها بشيء يجوز تملكه، فهو صداق، لا صداق لها غيره، فإن اختلف قضي لها بصداق مثلها - أحب هو أو هي، أو كرهت هي أو هو.

apabila wanita yang dinikahi meminta mahar yang belum ditentukan maka suaminya menetapkan untuknya. apabila keduanya menyepakati mahar yang sah untuk dimiliki, maka itulah maharnya tanpa ada mahar yang lainnya, dan apabila berselisih maka ditetapkan baginya mahar mitsl baik salah satunya suka atau tidak. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 50 | Sarah

Baca Lainnya :

Akad Nikah Tanpa Mahar, Sah atau Tidak?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:16 | draft
Batas Minimal Mahar
Miratun Nisa | 7 October 2015, 18:28 | published
Bolehkah Manfaat Dijadkan Mahar?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:17 | published
Suami Mengatakan Sudah Menyerahkan Mahar, Namun Istri Mengingkarinya
Miratun Nisa | 14 October 2015, 15:50 | published
Mengajarkan Al-Quran Bisakah Dijadikan Mahar?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:18 | draft
Standar Mahar Mitsl
Miratun Nisa | 9 October 2015, 07:00 | published
Suami Istri Berbeda Pendapat dalam Penyebutan Mahar Saat Akad
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:38 | published
Pengertian Mahar Menurut Ulama
Zuria Ulfi | 11 October 2015, 13:03 | published
Batasan waktu mencicil mahar
Nur Azizah Pulungan | 18 November 2015, 06:00 | published
Hukum meminta pelunasan mahar saat suami kesulitan
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:04 | approved
Ketentuan adil dalam menggilir para istri
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:17 | approved
اشتراط الولي شيئاً من المهر لنفسه
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:18 | draft
Membunuh Suami Sebelum Dukhul, Gugurkah Hak Mendapatkan Mahar ?
Achadiah | 21 November 2015, 16:00 | published
Menikah dibawah umur, Siapakah yang Berhak Memegang Maharnya?
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:43 | approved