|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله وأعلمهم بالسنة وأفضلهم ورعا وأكبرهم سنا

Suatu kaum itu hendaknya diimami oleh mereka yang paling baik bacaan Al Qur’annya, yang paling wara’ dan yang paling tua umurnya.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 41 | Kartika

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

أفضل هؤلاء أعلمهم بالسنة وأفضلهم ورعا وأقرؤهم لكتاب الله - تعالى - وأكبرهم سنا

Yang paling utama dari mereka adalah yang paling mengetahui Fiqh Sholat, yang paling wara’, yang paling bagus bacaan shalatnya dan yang paling tua umurnya.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 157 | Kartika

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وَالْأَعْلَمُ أَحَقُّ بِالْإِمَامَةِ يَعْنِي الْأَعْلَمُ بِالسُّنَّةِ

Dan orang yang paling baik pemahamannya lebih berhak menjadi imam, yaitu yang paling faham dengan sunnah.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 133 | Ahda

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

ورب المنزل أولى بالإمامة فيه إن كان يحسن الصلاة من الفقيه وغيره. ولا يتقدمه في منزله أحد إلا بإذنه

Pemilik rumah lebih berhak menjadi imam jika ia mengerti hukum shalat seperti orang yang faqih dan semisalnya. Tidak boleh mendahului tuan rumah kecuali seizinnya.

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 210 | Anis

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

ويقدم من له مزية بد الشروط الواجبة فالوالي وصاحب المنزل أحق من غيرهما والفقيه أولى من القاريء خلافا لأبي حنيفة والأعلم أولى من الأصلح

Didahulukan orang yang mempunyai hak lebih jika sudah memenuhi syarat sahnya imam. Seorang pemimpin dan tuan rumah itu lebih berhak dari selain keduanya. Orang yang faqih lebih utama dari qari� yang mana pendapat ini bertentangan dengan madzahab Abu Hanifah. Seorang yang pandai lebih utama dari orang yang saleh. .

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 48 | Anis

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

وَيَؤُمُّ النَّاسَ أَفْضَلُهُمْ وَأَفْقَهُهُمْ

Yang menjadi imam sholat adalah yang paling banyak memiliki keutamaan dan paling faqih diantara mereka..

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 1 hal. 205 | Ahda

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

ينبغي أن يتقدم إلى الإمامة من جميع أوصافها، وهي خمسة: القراءة والفقه والنسب والسن والهجرة بعد صحة الدين وحسن الاعتقاد

Yang berhak menjadi imam adalah seseorang yang dalam dirinya terkumpul lima sifat yaitu bacaan yang baik, pemahaman yang baik, keturunan yang baik, usianya lebih tua dan lebih dahulu hijrah, tentunya setelah memenuhi dua kriteria inti yaitu agama dan aqidah yang benar.. .

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 2 hal. 352 | Sofyana

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

الأسباب التي يترجح بها الإمام ستة: الفقه، والقراءة، والورع، والسن، والنسب، والهجرة

Sebab-sebab yang mengutamakan seseorang menjadi imam ada 6 hal : Paham Agama, bagus bacaannya, wara', usianya yang lebih tua, baik keturunannya, dan yang hijrah lebih dulu..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 354 | Irma

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

والأصح أن الأفقه أولى من الأقرأ والأورع، ويقدم الأفقه والأقرأ على الأسن النسيب. والجديد تقديم الأسن على النسيب

Pendapat yang paling shahih menurut madzhab kami adalah bahwa yang paling berhak menjadi imam adalah yang al-afqah yaitu yang paling paham dibanding al-aqra (yang paling banyak hafalannya) dan al-awra’ (yang paling wara’, yaitu yang meninggalkan perkara syubhat karena takut pada Allah), dan didahulukan al-afqah dan al-aqra dari yang lebih tua atau keturunan mulia.Dan menurut pendapat jadid dari imam syafi’i bahwa seorang yang usianya lebih tua lebih didahulukan dari saudara..

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 486 | Sofyana

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Kubra sebagai berikut :

مسألة: في رجلين: أحدهما حافظ للقرآن، وهو واعظ، يحضر الدف والشبابة، والآخر عالم متورع. فأيهما أولى بالإمامة؟ الجواب: ثبت في صحيح مسلم عن أبي مسعود البدري أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: «يؤم القوم أقرأهم لكتاب الله، فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة. فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواء فأقدمهم سنا» .

Permasalahan: salah satu dari dua orang laki-laki adalah seorang penghafal Al-Qur'an, dan juga seorang penasehat,dia pemain rebana dan klarinet dan yang satunya lagi seorang yang berilmu dan wara', manakah diantara mereka yang berhak menjadi imam? Jawab : Ditetapkan dalam shohih Muslim dari sahabat Mas'udiin Al Badri Radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum, ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Jika mereka dalam bacaan sama, maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika mereka dalam sunnah sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). .

Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa Al-Kubra, jilid 2 hal. 306 | Irma

Baca Lainnya :