|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

الأفضل عند أبي حنيفة أن يكبر المقتدي مع الإمام؛ لأنه شريكه في الصلاة

“yang paling utama menurut Abu Hanifah bagi makmum adalah membaca takbir bersama imam, karena imam itu partner dalam shalat”..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 38 | Kholisnawati

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

وجهر الامام بالتكبير بقدر حاجته للاعلام بالدخول والانتقال، وكذا بالتسميع والسلام. وأما المؤتم والمنفرد فيسمع نفسه

imam membaca takbir dengan jahr untuk memberitahu tanda masuk dan tanda pergantian (rukun), begitu juga ketika tasmi' dan salam. sedangkan orang yang mengikuti imam dan yang shalat sendiri cukup terdengar oleh dirinya sendiri.

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 1 hal. 65 | Taslima

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

وأما الجهر بتكبيرة الإحرام فهو مندوب لكل مصل إماما أو مأموما أو فذا وإما الجهر بغيرها من التكبير فيندب للإمام دون غيره فالأفضل له الإسرار به

“Adapun mengeraskan takbiratul ihram adalah sunnah untuk setiap orang yang sholat baik itu imam, makmum atau munfarid, dan mengeraskan selain dari takbiratul ihram adalah sunnah bagi imam (saja) tanpa selainnya. Yang lebih utama bagi selainnya adalah melirihkannya takbir tersebut”..

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 1 hal. 244 | Nimah

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

وأما الجهر كتكبيرة الإحرام فمندوب وبغيرها من التكبير - يندب للإمام دون غيره - فالأفضل له الإسرار

“Adapun mengeraskan seperti takbiratul ihram adalah sunnah, sedangkan takbir selain takbiratul ihram (takbir intiqal) adalah di sunnahkan bagi imam tanpa selainnya. Dan yang lebih utama (bagi yang lainnya) adalah melirihkannya..

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 322 | Nimah

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وهل يكبر للانتقال فيه الوجهان اللذان ذكرهما المصنف أصحهما باتفاق الأصحاب لا يكبر لما ذكره المصنف

“Apakah makmum membaca Takbir Intiqal?, disini ada dua pendapat, yang keduanya disebutkan oleh mushannif (pengarang kitab), pendapat yang paling shahih dari keduanya menurut kesepakatan para pengikut madzhab adalah seharusnya tidak dibaca sebagaimana yang disebutkan oleh mushannif”..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 218 | Neng

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

بخلاف غيره من مأموم ومنفرد فالسنة في حقه الإسرار

Berbeda halnya dengan ma’mum dan shalat sendiri membaca takbir intiqal baginya adalah sunnah untuk dipelankan.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 151 | Mega

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

ويكره جهر مأموم )... ( إلا بتكبير وتحميد وسلام لحاجة ) بأن كان لا يسمع جميعهم ( ولو بلا إذن الإمام )

Makruh bagi ma’mum mengeraskan suara..kecuali dalam takbir, tahmid (i’tidal), dan salam karena suatu alasan suara imam tidak terdengar oleh semua jamaah meskipun tanpa izin dari imam.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 332 | Mega

Baca Lainnya :