|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فإن كان مما يمكن عصره كالثياب فإن كانت النجاسة مرئية فطهارته بالغسل والعصر إلى أن تزول العين وإن كانت غير مرئية فطهارته بالغسل ثلاثا والعصر في كل مرة لأن الماء لا يستخرج الكثير إلا بواسطة العصر ولا يتم الغسل بدونه وروي عن محمد أنه يكتفي بالعصر في المرة الأخيرة ويستوي الجواب عندنا بين بول الصبي والصبية

Jika memungkinkan untuk diperas seperti baju dan najisnya dapat dilihat maka cara mensucikannya adalah dengan mencuci dan memerasnya sampai hilangnya dzat yang najis tersebut. Namun jika najisnya tidak terlihat maka cara menyucikannya adalah dengan mencuci sebanyak tiga kali dan diperas sekali saja dikarenakan tidak bisa mengeluarkan air yang banyak (dari baju) melainkan dengan diperas. Dan juga tidak sempurna memeras tanpa mencuci. Diriwayatkan dari Muhammad bahwasannya cukup dengan sekali perasan diakhir. dalam pandangan kami inilah jawaban yang sesuai dengan (kenajisan dan cara mensucikan) kencing bayi laki-laki dan perempuan. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 88 | Ajib

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

الصورة السابعة قال ثوب المرضع يعفى عن بول الصبي فيه مالم يتفاحش

Gambaran yang ke tujuh : baju orang yang menyusui bayi dima’fu jika terkena kencing bayi laki-laki selama tidak banyak..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 119 | Amrozi

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

ويعفى عن ثوب المرضعة أو جسدها يصيبه بول أو غائط من الطفل سواء كانت أما أو غيرها , إذَا كانت تجتهد في درء النجاسة عنها حال نزولها , بخلاف المفرطة.. غاية الأمر أنه يندب لها غسله إن تفاحش

Dima’fu jika baju dan badan yang menyusui terkena air kencing ataupun kotoran buang hajat dari bayi, baik itu yang terkena adalah ibunya ataupun selainnya. Jika dia benar-benar berusaha untuk tidak terkena najis ketika keluarnya air kencing bayi itu. Namun hukumnya tetap najis bagi yang meremehkannya (tidak berusaha mengindari air kencing).....Adapun tujuan perintah disini adalah sunah baginya (yang menyusui) untuk mencucinya jika air kencingnya banyak.

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 73 | Aqil

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وأما بول الصبي الذي لم يطعم فنجس عندنا وعند العلماء كافة وحكى العبدري وصاحب البيان عن داود أنه قال هو طاهر دليلنا عموم الأحاديث والقياس على الكبير وثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم نضح ثوبه من بول الصبي وأمر بالنضح منه فلو لم يكن نجسا لم ينضح.

Adapun air kencingnya bayi laki-laki yang belum memakan makanan (selain Asi) maka dihukumi najis menurut pendapat kami dan juga semua ulama. ‘Abdari pengarang kitab Al-Bayan menceritakan tentang pendapat Imam Daud yang menyatakan bahwa kencing bayi itu suci. Dalil kami (Imam Nawawi) didapati dari keumumuman hadits dan qiyas kepada orang dewasa. Dan juga telah dikuatkan pendapat ini dengan hadits Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bahwasannya beliau memercikkan air ke bajunya yant terkena air kencing bayi laki-laki (untuk menghilangkan najisnya) dan mememerintahkan untuk memercikkan air saja. Jika saja tidak najis maka tidak perlu dipercikkan air .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 548 | Faisal

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

في بول الصبي والصبية اللذين لم يأكلا غير اللبن من الطعام للتغذي ثلاثة أوجه الصحيح أنه يجب غسل بول الجارية ويجزئ النضح في بول الصبي والثاني يكفي النضح فيهما حكاه الخراسانيون والثالث يجب الغسل فيهما حكاه المتولي وهذان الوجهان ضعيفان والمذهب الْأول وبه قطع المصنف والجمهور

Ada 3 pendapar mengenai Air kencing bayi laki-laki dan perempuan yang keduanya belum memakan makanan untuk mendapatkan gizi selain dari ASI. Dan pendapat yang paling shohih adalah wajib mencuci benda yang terkena air kencing bayi perempuan. Sedangkan untuk bayi laki-laki maka cukup dengan hanya memercikkan air saja. Adapun pendapat yang ke 2 adalah cukup dengan memercikkan air kepada keduanya, pendapat inilah yang dipaparkan oleh ulama dari Khurosan. Dan pendapat yang ke 3 adalah wajib mencuci keduanya sebagaimana yang dipaparkan oleh Al Mutawalli. Kedua pendapat ini lemah dan pendapat yang pertama adalah pendapat mazhab syafii dan pendapat ini juga yang dipegang oleh pengarang kitab ini dan juga jumhur ulama .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 549 | Imam

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

فِي الْقِسْمِ الثَّانِي مِنْ النَّجَاسَةِ وَهِيَ الْمُخَفَّفَةُ فَقَالَ : ( وَمَا تَنَجَّسَ ) مِنْ جَامِدٍ ( بِبَوْلِ صَبِيٍّ لَمْ يَطْعَمْ ) بِفَتْحِ الْيَاءِ : أَيْ يَتَنَاوَلُ قَبْلَ مُضِيِّ حَوْلَيْنِ ( غَيْرَ لَبَنٍ ) لِلتَّغَذِّي ( نُضِحَ) . بِخِلافِ الصَّبِيَّةِ وَالْخُنْثَى لا بُدَّ فِي بَوْلِهِمَا مِنْ الْغَسْلِ عَلَى الأَصْلِ

Bagian kedua dari najis mukhoffafah yaitu : sesuatu benda mati yang terkena najis air kencing bayi laki-laki yang belum diberikan makanan untuk memenuhi gizinya selain air susu ibunya dan belum mencapai umur 2 tahun lebih, maka (mensucikannya cukup dengan) dipercikan air saja... Hukum yang berbeda jika menyangkut kencing bayi perempuan dan banci, maka diharuskan mencucinya.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 84 | Syarif

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

أن بول الغلام الذي لم يطعم الطعام يجزئ فيه الرش وبول الجارية يغسل وإن لم تطعم..

Bahwasannya air kencing anak bayi laki-laki yang belum memakan makanan selain air susu ibunya, maka sah (menghilangkannya) dengan memercikkan air saja..Dan air kencing bayi perempuan (dihilangkan najisnya) dengan mencucinya walaupun dia belum makan selain air susu ibunya. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 68 | Amrozi

Al-Buhuti (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarh Muntaha Al-Iradat sebagai berikut :

( وَيُجْزِي فِي بَوْلِ غُلامٍ ) وَمِثْلُهُ قَيْئُهُ ( لَمْ يَأْكُلْ طَعَامًا لِشَهْوَةٍ نَضْحُهُ , وَهُوَ غَمْرُهُ بِمَاءٍ ) وَإِنْ لَمْ يَقْطُرْ مِنْهُ شَيْءٌ . وَلا يَحْتَاجُ إلَى مَرْسٍ وَعَصْرٍ . لِحَدِيثِ أُمِّ قَيْسِ بِنْتِ مُحْصِنٍ " أَنَّهَا { أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَجْلَسَهُ فِي حِجْرِهِ , فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ , فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ , وَلَمْ يَغْسِلْهُ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَلِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم : { إنَّمَا يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الأُنْثَى , وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ } رَوَاهُ أَبُو دَاوُد عَنْ لُبَابَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ . وَعُلِمَ مِنْهُ أَنَّهُ يُغْسَلُ مِنْ الْغَائِطِ مُطْلَقًا وَبَوْلِ الأُنْثَى وَالْخُنْثَى وَبَوْلِ صَبِيٍّ أَكَلَ الطَّعَامَ لِشَهْوَةٍ . فَإِنْ كَانَ لِغَيْرِ شَهْوَةٍ نُضِحَ . لأَنَّهُ قَدْ يَلْعَقُ الْعَسَلَ سَاعَةَ يُولَدُ . وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَنَّكَ بِالتَّمْرِ

Air kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan dengan keinginannya sendiri maka cukup mengambil air dan memercikinya atau memenuhinya dengan air (ditempat yang terkena air kencing) walapun tidak menetes air tersebut, Sama halnya dengan mensucikan muntahnya. Tidak perlu merendam (seperti baju yang terkena kencing) dan memerasnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Binti Muhshin bahwasannya dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa anak bayi laki-laki yang belum memakan makanan kecuali ASI. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendudukkannya di pangkuannya. Kemudian bayi itu mengencingi pakaian beliau. Lalu beliau meminta air dan memercikannya tanpa mencucinya. H.R. Bukhori dan Muslim. Begitupula dengan sabda Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : (cara menghilangkan) air kencing bayi perempuan adalah dengan mencuci sedangkan air kencing bayi laki-laki cukuplah dengan hanya memercikinya dengan air. H.R Abu Dawud dari Lubabah Binti Al Harits. Maka dari hadits ini dapat diketahui bahwa wajibnya mencuci najis yang keluar dari 2 lubang secara mutlak. Begitupula dengan kencing bayi perempuan, banci dan bayi laki-laki yang sudah memakan makanan dengan keinginannya sendiri. Adapun jika bayi itu memakan makanan bukan karena keinginannya sendiri maka cukup dengan memercikinya dengan air. Dikerenakan terkadang anak bayi menjilati madu ketika baru dilahirkan dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mentahniknya dengan kurma.

Al-Buhuti, Syarh Muntaha Al-Iradat, jilid 1 hal. 98 | Aqil

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مَسْأَلَةٌ: وَتَطْهِيرُ بَوْلِ الذَّكَرِ - أَيِّ ذَكَرٍ كَانَ فِي أَيِّ شَيْءٍ كَانَ - فَبِأَنْ يَرُشَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ رَشًّا يُزِيلُ أَثَرَهُ، وَبَوْلُ الْأُنْثَى يُغْسَلُ، فَإِنْ كَانَ الْبَوْلُ فِي الْأَرْضِ - أَيُّ بَوْلٍ كَانَ - فَبِأَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ صَبًّا يُزِيلُ أَثَرَهُ فَقَطْ

cara mensucikan kencing bayi laki-laki adalah dengan memercikan air padanya hingga menghilangkan bekas kencingnya. adapun cara mensucikan sesuatu yang terkena air kencing bayi perempuan adalah dengan mencucinya. jika air kencingnya di lantai maka lantai tersebut harus diguyur dengan air sampai hilang bekas kencingnya.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 113 | Faisal

Baca Lainnya :