Suami Mengatakan Sudah Menyerahkan Mahar, Namun Istri Mengingkarinya

Wed 14 October 2015 15:50 | 0
Miratun Nisa

Kehidupan berumah tangga tak pernah lepas dari perselisihan. Apalagi untuk pasangan yang baru menikah. Karena saat itu mereka baru mengenal pribadi pasangannya. Namun jika perselisihan itu terjadi pada masalah mahar. Jika suami mengatakan:"aku sudah menyerahkan mahar semuanya". Sedangkan istri mengatakan:"tidak, aku belum menerimanya". Bagaimana para ulama fiqih memandang hal tersebut?. Berikut penjelasannya:

 

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

وان تصادقا على الصداق واختلفا في قبضه فإن كان دخل بها فالقول قول الزوج مع يمينه هذا هو المشهور من قول مالك وقال إسماعيل بن اسحاق وجماعة من أصحابه إنما قال هذا مالك بالمدينة لان عادتهم جرت بدفع الصداق قبل الدخول فإن كانت العادة في غيرها كذلك وإلا فالقول قول المرأة لان الرجل قد أقر بالصداق وادعى البراءة منه مدعى عليها في ذلك فالقول قولها مع يمينها

Jika suami istri mengakui adanya mahar, tapi berselisih dalam hal penerimaannya, maka jika itu terjadi sesudah dukhul, maka yang diambil adalah perkataan suami disertai dengan sumpah. Dan ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Malik. Ismail bin Ishaq dan beberapa pengikutnya berkata: Malik berkata demikian karena adat yang ada di Madinah adalah pemberian mahar sebelum dukhul, maka jika adatnya bukan seperti itu maka sebaliknya. maka yang berlaku adalah perkataan istri karena suami yakin telah memberi mahar dan telah berlepas tangan darinya. Dan jika perselisihan itu terjadi sebelum dukhul maka yang berlaku adalah perkataan istri disertai dengan sumpah..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 2 hal. 557 | Nisa

Ibnu Rusyd Al-Hafid (w. 595 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid sebagai berikut :

وقال مالك: القول قولها قبل الدخول، والقول قوله بعد الدخول. وقال بعض أصحابه: إنما قال ذلك مالك؛ لأن العرف بالمدينة كان عندهم أن لا يدخل الزوج حتى يدفع الصداق، فإن كان بلد ليس فيه هذا العرف كان القول قولها أبدا. والقول بأن القول قولها أبدا أحسن؛ لأنها مدعى عليها.

Imam Malik berkata: perkataan yang diambil adalah perkataan istri, jika perselisiahan mengenai penyerahan terjadi sebelum dukhul. Dan jika terjadi sesudah dukhul maka yang berlaku adalah perkataan suami. Dan sebagian pengikut Malik berkata: Imam Malik berkata demikian karena ‘urf yang ada di Madinah adalah seorang suami tidak melakukan dukhul sampai membayar mahar. Akan tetapi jika di suatu negri itu tidak ada urf seperti itu maka yang berlaku adalah perkataan istri selamanya. Dan ini lebih baik karena si istri berada di pihak yang tertuduh..

Ibnu Rusyd Al-Hafid, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 3 hal. 55 | Nisa

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

و) إن تنازعا (في قبض ما حل) من الصداق (فقبل البناء) القول (قولها وبعده) القول (قوله) أنها قبضته (بيمين فيهما)

Jika terjadi perselisihan dalam masalah status penerimaan mahar, maka jika itu terjadi sebelum dukhul maka yang diambil adalah perkataan istri, dan jika terjadi sesudah dukhul, maka yang diambil adalah perkataan suami bahwasanya istrinya telah menerimanya. Masing-masing (sebelum dan sesudah dukhul) disertai dengan sumpah..

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 335 | Nisa

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

إذا اختلف الزوجان في قبض المهر مع اتفاقهما على قدره، فقال الزوج: قد أقبضتك مهرك، وقالت الزوجة لم أقبضه، فالقول قول الزوجة مع يمينها أنها لم تقبضه، وسواء كان قبل الدخول أو بعده، أو قبل الزفاف أو بعده.

Apabila suami istri berbeda pendapat dalam penerimaan mahar sementara mereka sudah bersepakat dalam jumlah maharnya, maka saat suami berkata “aku telah menyerahkan maharmu” kemudian istri berkata “aku belum menerimanya”, dalam hal ini perkataan yang diterima adalah perkataan istri disertai dengan sumpahnya bahwa dia belum menerimanya, baik itu terjadi sebelum atau sesudah dukhul, ataupun jika itu terjadi sebelum atau sesudah zafaf (jima' pertama kali).

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 500 | Zuria

Abu Ishaq Burhanudin (w. 884 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mubdi' Syarhul Muqni sebagai berikut :

(فإن اختلفا في قبض المهر، فالقول قولها) مع يمينها

Jika keduanya berselisih dalam penyerahan mahar, maka perkataan yang diambil adalah perkataan isteri dengan disertai sumpahnya.

Abu Ishaq Burhanudin, Al-Mubdi' Syarhul Muqni, jilid 6 hal. 220 | Siska

Semoga kita mendapat manfaat dari penjelasan diatas. Wallahu a'lam bishshawab.

Baca Lainnya :

Akad Nikah Tanpa Mahar, Sah atau Tidak?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:16 | draft
Batas Minimal Mahar
Miratun Nisa | 7 October 2015, 18:28 | published
Bolehkah Manfaat Dijadkan Mahar?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:17 | published
Suami Mengatakan Sudah Menyerahkan Mahar, Namun Istri Mengingkarinya
Miratun Nisa | 14 October 2015, 15:50 | published
Mengajarkan Al-Quran Bisakah Dijadikan Mahar?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:18 | draft
Standar Mahar Mitsl
Miratun Nisa | 9 October 2015, 07:00 | published
Suami Istri Berbeda Pendapat dalam Penyebutan Mahar Saat Akad
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:38 | published
Pengertian Mahar Menurut Ulama
Zuria Ulfi | 11 October 2015, 13:03 | published
Batasan waktu mencicil mahar
Nur Azizah Pulungan | 18 November 2015, 06:00 | published
Hukum meminta pelunasan mahar saat suami kesulitan
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:04 | approved
Ketentuan adil dalam menggilir para istri
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:17 | approved
اشتراط الولي شيئاً من المهر لنفسه
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:18 | draft
Membunuh Suami Sebelum Dukhul, Gugurkah Hak Mendapatkan Mahar ?
Achadiah | 21 November 2015, 16:00 | published
Menikah dibawah umur, Siapakah yang Berhak Memegang Maharnya?
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:43 | approved