Wajibkah Mengumumkan Pernikahan?

Thu 8 October 2015 23:16 | 0
Siska

Islam menganjurkan supaya pernikahan diumumkan dan diberitahukan kepada orang banyak. Cara mengumumkan pernikahan pun bisa dengan sarana apa saja disesuaikan dengan adat setempat, dengan syarat asal tidak ada perbuatan maksiat yang melanggar syariat. Haditsst Rasulullah SAW tentang dianjurkannya menyiarkan pernikahan: حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ وَالْخَلِيلُ بْنُ عَمْرٍو قَالَا حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ خَالِدِ بْنِ إِلْيَاسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالْغِرْبَالِ Umumkanlah pernikahan ini, & tabuhlah rebana. [HR. ibnumajah No.1885]. Paparan ulama dalam hal ini terdapat dua pendapat,ada yang mengatakan wajib dan ada yang mengatakan sunah. kesepaktan jumhur ulama berpendapat bahwa hukum dari mengumumkan atau menyiarkan pernikahan adalah sunah. Adapun madzhab Dzahiri dan sebagian ulama dari madzhab Syafi'i berpendapat bahwa menyiarkan pernikahan adalah wajib.

 

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

قوله: ويندب إعلانه) أي إظهاره والضمير راجع إلى النكاح بمعنى العقد)

Al-Hashkafi dalam kitabnya menyebutkan :“Disunnahkannya mengumumkan pernikahan”, yakni menampakkannya dan dhamir ( kata ganti ه ) kembali ke kata nikah yang bermakna akad..

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 3 hal. 8 | Achad

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

ويستحب إعلان النكاح وإشهاره وإطعام الطعام عليه

Dianjurkan mengumumkan pernikahan dan menyebarkannya serta menyajikan makanan didalamnya..

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 408 | Nisa

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

وإعلانه أي وندب إعلانه أي إظهاره وإشهاره بإطعام الطعام عليه

Dianjurkan untuk mengumumkannya pernikahan dan menyebarkannya serta menyajikan makanan didalamnya..

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 216 | Nisa

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

فأما وليمة العرس فقد علق الشافعي الكلام في وجوبها فاختلف أصحابنا في وجوبها على وجهين،.... ومنهم من خرجه على قولين: أحدهما: أنها واجبة............والثاني: وهو الأصح أنها غير واجبة،

Menurut Imam Syafi'i mengumumkan pernikahan adalah wajib..... namun ulama syafi'iyah berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian berpendapat bahwa hukumnya wajib.......... dan sebagian lagi mengatakan tidak wajib dan pendapat ini yang lebih shohih dalam madzhab .

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 556 | Zuria

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

ويستحب إعلان النكاح

Dianjurkan untuk mengumumkan pernikahan.

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 23 | Siska

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وفرض على كل من تزوج أن يولم بما قل أو كثر

Dan wajib bagi orang yang menikah untuk mengadakan walimah baik dengan sedikit makanan ataupun banyak..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 20 | Nisa

Setelah menghadirkan beberapa pendapat fuqaha dalam madzhabnya masing-masing, dapat kita lihat bahwa hukum menyiarkan pernikahan ada dua pendapat (wajib dan sunah). Menyiarkan pernikahan juga bukan termasuk rukun nikah, sehingga tidak adanyapun tidak membatalkan pernikahan, hanya tentu saja menyiarkan pernikahan kepada khalayak umum, lebih utama karena itu yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu 'alam bishowab.

Baca Lainnya :

Kapankah Ibu Mertua Menjadi Mahram Bagi Menantu, Sejak Akad Atau Setelah Jima'?
Siti Sarah Fauzia | 12 May 2015, 05:24 | published
Bolehkah Menikahkan Orang Gila?
Zuria Ulfi | 21 November 2015, 17:04 | approved
Makna Nikah Hakiki : Akad atau Jima?
Achadiah | 21 September 2015, 15:01 | published
Bolehkah Nikah Dengan Meminta Syarat Tertentu?
Ipung Multiningsih | 10 September 2015, 09:29 | draft
Berbagai Kondisi Yang Mewajibkan Nikah
Siska | 24 September 2015, 04:00 | published
Haruskah Akad Dengan Bahasa Arab?
Siti Maryam | 17 September 2015, 11:06 | published
Haruskah Nikah Dengan Perawan?
Zuria Ulfi | 23 September 2015, 16:10 | published
Apakah Keridhaan Kedua Belah Pihak Menjadi Syarat Sahnya Akad?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | draft
Wajibkah Suami Menjima' Istrinya ?
Achadiah | 7 October 2015, 01:59 | published
Wajibkah Mengumumkan Pernikahan?
Siska | 8 October 2015, 23:16 | published
Nasab Anak Zina
Nur Azizah Pulungan | 10 October 2015, 16:48 | draft
Nasab Anak dari Hubungan Syubhat
Fatimah Khairun Nisa | 10 October 2015, 16:49 | draft
Wajibkah Seorang Istri Mengkhidmah Suaminya?
Ipung Multiningsih | 10 October 2015, 16:52 | draft
Kadar Nafkah Suami untuk Istri Menurut 4 Mazhab
Siti Maryam | 10 October 2015, 16:53 | draft
Pengaruh Khalwah Dalam Ketetapan Nasab
Zuria Ulfi | 29 October 2015, 01:16 | published
Siapa yang berhak menikahkan anak dibawah umur?
Fatimah Khairun Nisa | 7 November 2015, 06:03 | approved
Hukum menikahkan orang gila
Nur Azizah Pulungan | 7 November 2015, 14:13 | approved