Hukum Khitan

Wed 1 April 2015 04:55 | 0
Muhammad Aqil Haidar

 

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

والأصل أن (الختان سنة) كما جاء في الخبر (وهو من شعائر الإسلام) وخصائصه (فلو اجتمع أهل بلدة على تركه حاربهم) الإمام فلا يترك إلا لعذر وعذر شيخ لا يطيقه ظاهر وختان المرأة ليس سنة بل مكرمة للرجال وقيل سنة

Dan hukum dari khitan adalah sunnah. Seperti yang diperintahkan dalam hadist. Dan khitan merupakan syiar dan keistimewaan agama Islam. namun ketika ditinggalkan oleh skelompok penduduk suatu daerah secara berjamaah maka harus diperangi. Karena khitan termasuk sesuatu yang tidak boleh ditinggal tanpa udzur. Namun sseorang yang sudah tua dan tidak mampu adalah sebuah udzur yang jelas. Adapun khitan bagi perempuan hukumnya tidak sunnah, akan tetapi sebuah penghormatan untuk laki-laki (suaminya), dan dikatakan hukumnya sunnah.

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 6 hal. 751 | Ajib

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

ومن فطرة الإسلام عشر خصال الختان وهو سنة للرجال ومكرمة للنساء وقد روي عن مالك أنه سنة

Dan termasuk dalam Fitrah Islam 10 perbuatan, (diantaranya) khitan. Dan hukumnya dalah sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi perempuan. Namun diriwayatkan dari Malik bahwa khitan bagi perempuan juga sunnah .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 2 hal. 1136 | Amrozi

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

قال ابن يونس الختان سنة مؤكدة في الذكور والإناث

Ibnu Yunus berkata: khitan hukumnya sunnah muakkadah bagi perempuan dan laki-laki.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 166 | Aqil

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

الختان واجب على الرجال والنساء عندنا

Dan khitan hukumnya wajib baik laki-laki maupun perempuan menurut Mazhab kami.

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 300 | Faisal

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

والختان واجب وإنما يجب بالبلوغ لا بد من كشف جميع الحشفة في الختان للرجل بقطع الجلدة التي تغطيها فلا يكفي قطع بعضها ويقال لتلك الجلدة القلفة (و) من قطع شيء من بظر المرأة

Dan khitan hukumnya wajib. Dan kewajibanya dalah ketika seseorang sudah baligh. Ketika dikhitan maka harus sampai terbuka kepala kemaluan laki-laki. Yaitu dengan memotong semua kulit yang menutupi kepala kemaluan. Dan tidak cukup hanya dipotong sebagiannya saja. Dan kulit tersevut disebut kulfah. Dan pada perempuan dipotong sebagian dari klitoris .

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 4 hal. 164 | Imam

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

فصل: فأما الختان فواجب على الرجال، ومكرمة في حق النساء، وليس بواجب عليهن

Fashl; adapun khitan maka hukumnya wajib bagi laki-laki, dan sebuah kehormatan bagi perempuan. Bukan merupakan kewajiban bagie kaum hawa.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 64 | Syarif

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Kubra sebagai berikut :

ويجب الختان إذا وجبت الطهارة والصلاة وينبغي إذا راهق البلوغ أن يختتن كما كانت العرب تفعل لئلا يبلغ إلا وهو مختون

Dan wajib khitan ketika seseorang telah dibebani kewajiban bersuci dan shalat. Dan seyogyanya seseorang ketika mendekati baligh untuk dikhitan seperti kebiasaan bangsa Arab. Hal ini dilakukan supaya seseorang tidak mencapai baligh kecuali telah dikhitan.

Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa Al-Kubra, jilid 5 hal. 302 | Ajib

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

السواك مستحب ولو أمكن لكل صلاة لكان أفضل ونتف الإبط والختان

Dan siwak hukumnya sunnah. Ketika memungkunkan untuk dilakukan setiap sebelum shalat maka afdhol. Begitu juga dengan mencabut bulu ketiak dan khitan.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 423 | Aqil

Baca Lainnya :

Hukum Khitan
Muhammad Aqil Haidar | 1 April 2015, 04:55 | published
Hukum Istinja Wajibkah atau Sunnah?
Imamuddin Mukhtar | 16 April 2015, 09:56 | published
Hukum Kencing Berdiri
Muhamad Amrozi | 13 April 2015, 09:57 | published
Samak Itu Mensucikan Bangkai Atau Tidak
Muhammad Syarif Hidayatullah | 13 October 2015, 13:53 | draft
Hukum Buang Hajat Membawa Ayat Quran atau Lafadz Allah
Imamuddin Mukhtar | 11 September 2015, 13:54 | draft
Bolehkah istinja Menggunakan Tangan Kanan
Imamuddin Mukhtar | 20 October 2015, 20:49 | draft
Media Yang Digunakan Dalam Istinja
Imamuddin Mukhtar | 27 October 2015, 21:32 | draft
Apakah Disyariatkan Tiga Batu Dalam Istinja
Imamuddin Mukhtar | 3 November 2015, 21:36 | draft
Hukum Menggunakan Sutroh (Penghalang) Ketika Istinja
Imamuddin Mukhtar | 10 November 2015, 21:55 | draft
Hukum Menghadap Kiblat Ketika Beristinja
Imamuddin Mukhtar | 18 November 2015, 18:12 | draft
Hukum istinja bagi orang yang sering hadats
Muhammad Syarif Hidayatullah | 1 November 2015, 07:50 | draft
Apakah Istijmar mensucikan tempat keluarnya najis
Imamuddin Mukhtar | 1 December 2015, 19:54 | draft