|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

المرأة تصلح للإمامة في الجملة، حتى لو أمت النساء جاز، وينبغي أن تقوم وسطهن لما روي عن عائشة - رضي الله عنها - أنها أمت نسوة في صلاة العصر وقامت وسطهن وأمت أم سلمة نساء وقامت وسطهن؛ ولأن مبنى حالهن على الستر وهذا أستر لها، إلا أن جماعتهن مكروهة عندنا

“Wanita boleh menjadi imam dalam shalat berjama’ah, sehingga jikapun menjadi imam bagi para wanita maka itu diperbolehkan, dan diharuskan berdiri (ditengah) sejajar diantara para wanita sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah –Radhiyallahu’anha- bahwasanya beliau menjadi imam bagi para wanita dalam shalat ‘Ashar kemudian beliau berdiri diantara mereka dan demikian juga Umu Salamah ketika mengimami para wanita dan berdiri diantara mereka; karena dengan membentuk keadaan demikian seperti sater (penghalang) sejatinya merupakan penghalang baginya, karena berjama’ahnya wanita dalam madzhab kami hukumnya makruh karahah at Tanziih .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 157 | Neng

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

واختلف العلماء في إقامتها في البيت والأصحّ أنها كإقامتها في المسجد إلاّ في الأفضلية

ia berkata dalam kitab Qunyah: ulama berbeda pendapat jika melaksanakannya dirumah, dan yang paling benar adalah pelaksanaannya sama seperti di masjid, kecuali dalam keutamaannya.

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal. 554 | Taslima

Ahmad Az-Zarqani (w. 1099 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarah Az-Zarqani 'ala Muskhtashar Al-Khalil sebagai berikut :

أن صلاة الرجل في المسجد الفريضة مع الجماعة أفضل من صلاته مع أهل بيته جماعة ولو لزم صلاة أهله فرادى

“Sholat seorang laki-laki di masjid dalam sholat fardlu secara berjamaah lebih utama daripada sholat bersama keluarganya di rumahnya secara berjamaah meskipun itu menjadikan sholat keluarganya munfarid”..

Ahmad Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani 'ala Muskhtashar Al-Khalil, jilid 1 hal. 506 | Nimah

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

أن صلاة الرجل في المسجد الفريضة مع الجماعة أفضل من صلاته مع أهل بيته جماعة ولو لزم صلاة أهل بيته فرادى

“Sholat seorang laki-laki di masjid dalam sholat fardlu secara berjamaah lebih utama daripada sholat bersama keluarganya di rumahnya secara berjamaah meskipun itu menjadikan sholat keluarganya munfarid”..

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal. 15 | Nimah

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

ولا تؤم المرأة في فريضة ولا نافلة لا رجالا ولا نساء

“Wanita tidak diperbolehkan menjadi imam dalam shalat wajib maupun shalat sunnah, tidak dalam mengimami laki-laki dan tidak pula dalam mengimami wanita”..

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 1 hal. 205 | Neng

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

ويحوز فضيلتها) أي الجماعة (بصلاته في بيته) ، أو نحوه (بزوجة، أو ولد أو رقيق) ، أو غيرهم إذ أقلها اثنان (وهي) في البيت ونحوه (أفضل من الانفراد بمسجد).

“Dan tetap memperoleh keutamaan shalat berjamaah orang yang shalat berjamaah di rumahnya atau lainnya, bersama istri, anak maupun budaknya atau selain mereka karena minimal berjamaah adalah dua orang . dan itu (shalat berjamaah di rumah dg jumlah minimal) lebih utama dibandingkan shalat sendirian di masjid”..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 210 | Kholisnawati

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

والجماعة للرجال في المساجد أفضل إلا إذا كانت الجماعة في البيت أكثر

“dan shalat berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki dalah lebih utama kecuali apabila jumlah jamaah di rumah lebih banyak”. .

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 146 | Kholisnawati

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

.

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 0 hal. 0 | Kholisnawati

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

والجماعة في المسجد لغير المرأة ومثلها الخنثى أفضل منها في غير المسجد كالبيت

Shalat berjamaah dimasjid (selain wanita/banci) lebih baik dari pada diselain masjid (rumah).

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 230 | Mega

bisa difahami dari redaksi diatas bahwa diperbolehkan shalat berjamaah dirumah namun alangkah lebih baik berjamaah dimasjid Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

وله فعلها أي الجماعة في بيته وفي صحراء

Diperbolehkan shalat berjamaah dirumah dan di padang pasir.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 456 | Mega

Baca Lainnya :