|


 

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

لأن حرمتها قَطعية فيكفر مستحلها ويحد شاربها , وإن لم يسكر ولو قطرة ونجاستها غليظة

keharaman khamar termasuk perkara yang sudah qathi' dan siapa saja yang menghalalkannya maka dia kafir, dikenai had (dicambuk) bagi peminum khamar walaupun tidak sampai mabuk ataupun hanya meminum setetes saja. khamar itu najis dan kenajisannya termasuk najis mughaladzah.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 6 hal. 45 | Aqil

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

قال الفاضل الشهير بقاضي زاده: بقي ها هنا شيء وهو أن عين الخمر مثلا ليس بحدث مع أنه نجس في الشرع بلا ريب

Berkata ulama mulia yang terkenal dengan sebutan Qadli Zadah, “Kemudian tersisa satu pemasalahan lagi, yaitu tentang dzat khamr misalnya. Zat itu tidak termasuk hadats meskipun ia zat yang tidak diragukan lagi kenajisannya dalam hukum syar’i.

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 19 | Faisal

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

قَوله وهي نجسة نجاسة مغلظة ) لأن الله تعالى سماها رجسا فكانت كالبول والدم المسفوح أتقاني

Khamar itu najis dan derajat kenajisannya adalah najis mughaladzah (berat), karena Allah Ta’ala telah menamainya dengan kata rijsun (najis). Maka khamar najis sebagaimana najisnya kencing dan darah yang mengalir.

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 27 hal. 191 | Ajib

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

ونجاسة الخمر معللة بالْإِسكار وبطلب الْإبعاد، والقول بنجاستها يفضي إلى إبعادها

Illah (sebab) najisnya khamr adalah karena ia merupakan sesuatu yang memabukkan dan ada perintah untk menjauhinya.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 164 | Syarif

Muhammad 'Illisy (w. 1299 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

والحكم ينتفي بانتفاء علته كذهاب حرمة الخمر ونجاستها بذهاب إسكارها بتخللها

sebuah hukum bisa saja ditiadakan jika ilat (sebab) hukum itu hilang, sebagaimana ditiadakannya hukum keharaman dan kenajisan khamar jika ilatnya yaitu memabukkan hilang dengan perubahannya menjadi cuka. .

Muhammad 'Illisy, Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 42 | Imam

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وأما الخمر فهو نجس لقوله عز وجل: {إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [المائدة:90] و

khamr itu hukumnya najis, sebagaimana firman Allah : “…Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”(Al-Maidah : 90).

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 93 | Ajib

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

(الشرح ) الخمر نجس عندنا

Menurut kami khamar itu najis. .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 564 | Amrozi

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

فصل : والخمر نجسة . في قول عامة أهل العلم ; لأن اللهَ تعالى حرمها لعينها , فكانت نجسة , كالخنزير . وكل مسكر فهو حرام , نجس لما ذكرنا

khamar itu najis menurut mayoritas ulama, karena Allah Ta'ala sendiri yang mengharamkan dzatnya maka khamar itu najis sebegaimana babi. setiap yang memabukkan hukumnya haram dan najis sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 8 hal. 171 | Syarif

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

قوله (ولا يطهر شيء من النجاسات بالاستحالة، ولا بنار أيضا إلّا الخمرة) ، هذا المذهب بلا ريب. وعليه جماهير الْأصحاب. ونصروه.

Dan perkataannya, “Benda-benda najis itu tidak bisa disucikan dengan cara istihalah atau dengan api kecuali khamar”. Inilah pendapat madzhab hanbali tanpa harus diragukan lagi, juga pendapat mayoritas ulama madzhab dan mereka juga mendukungkannya.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1 hal. 318 | Syarif

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

والخمر والميسر والْأنصاب والْأزلام رجس حرام واجب اجتنابه، فمن صلى حاملا شيئا منها بطلت

Khamr, judi, berhala, anak panah (yang digunakan mengundi nasib) Adalah sesuatu yang najis, haram serta wajib dijauhi. siapa saja yang shalat dengan membawa salah satu dari benda tersebut maka batal sholatnya.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 188 | Faisal

Baca Lainnya :