|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

إذا قال: يا لوطي لا حد عليه بالاتفاق؛ لأنه نسبة إلى نبي من أنبياء الله تعالى فلا يكون هذا اللفظ صريحا في القذف

Jika ada orang berkata: Hei Luthi...maka ulama sepakat dia tidak dihudud, karena perkataan itu hanya penisbatannya ke nabi Luth, sehingga tidak jelas (sharih) sebagai praktek qadzf..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 9 hal. 102 | Anam

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

الفصل الثاني: في معنى القذف وحده الرمي بوطء حرام في قبل أو دبر أو نفي من النسب للأب بخلاف النفي من الأم أو تعريض بذلك

Fasal Kedua: Tentang definisi qadzf yaitu menuduh orang berzina baik pada qubul atau dubur, atau menafikan nasab seseorang dari ayahnya, berbeda kalau dari ibunya, atau penyindirin (untuk menuduh orang berzina).

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 234 | Anam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولم يأت نص قرآن، ولا سنة صحيحة، بجلد الشاهد في الزنى إذا لم يكن معه غيره - وقد فرق القرآن؛ والسنة، بين الشاهد من البينة وبين القاذف الرامي، فلا يحل ألبتة أن يكون لأحدهما حكم الآخر - فهذا حكم القرآن والسنة الثابتة.

Tidak ada teks al-Quran ataupun Sunnah yang shohih yang menunjukkan dijilidnya saksi dalm kasus zina jika dia sendirian. Al-Quran dan as-Sunnah telah membedakan hukum antara saksi dengan bukti dan yang hanya menuduh (tanpa dasar). Maka tidak halal sama sekali jika salah satu dari keduanya (saksi dan penuduh) mengambil hukum yang lain. dan inilah hukum al-Quran dan Sunnah yang shohih..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 12 hal. 211 | Wahab

Baca Lainnya :