|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وكذا وطء المرأة الميتة لا يوجب الحد ويوجب التعزير؛ لعدم وطء المرأة الحية. وكذا وطء البهيمة وإن كان حراما؛ لانعدام الوطء في قبل المرأة فلم يكن زنا

.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 7 hal. 34 | Mardoni

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

الخامس: أن يزنى بآدمية فإن أتى بهيمة فلا حد عليه خلافا للشافعي ولكنه يعزر ولا تقتل البهيمة ولا بأس بأكلها خلافا للشافعي

Syarat Kelima: Zina dilakukan dengan manusia, jika seseorang berzina dengan hewan, maka tidak ada hududnya, berbeda dengan pendapat imam Syafi'i, namun tetap dita'zir. Sedangkan hewannya tidak dibunuh dan boleh dimakan, berbeda dengan pendapat imam Syafi'i..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 232 | Anam

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

ولا يحد بالبهيمة عند ابن القاسم لتعذر قياسها على الآدمية

Tidak ada hudud bagi yang berzina denga hewan menurut Ibnul Qasim, karena hewan tidak bisa diqiyaskan dengan manusia dalam masalah zina..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 12 hal. 48 | Anam

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ويحرم إتيان البهيمة...فإن أتى البهيمة وهو ممن يجب عليه حد الزنا ففيه ثلاثة أقوال: أحدها أنه يجب عليه القتل...والقول الثاني: أنه كالزنا فإن غير محصن جلد وغرب وإن كان محصناً رجم لأنه حد يجب بالوطء فاختلف فيه البكر والثيب كحد الزنا والقول الثالث أنه يجب فيه التعزير

Haram hukumnya menyetubuhi hewan. Jika seseorang melakukan hal itu - dan dia memiliki kriteria hudud zina, maka ada tiga pendapat: pertama pelaku dibunuh. pendapat kedua hukumannya seperti hudud pelaku zina, dalam arti ghairu muhshon dicambuk dan diasingkan, muhshon dirajam. Sehingga beda hukumannya antara pelaku yang masih bikr dan yang tidak. ؛endapat terakhir adalah orang yang menyetubuhi hewan hukumannya ditakzir..

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 340 | Wahyudi

Dalil-dalil sengaja tidak dicantumkan, karena penulis lebih memfokuskan pada pemaparan hukum.

Baca Lainnya :