Hukum Adzan Bagi Perempuan

Fri 25 September 2015 12:56 | 0
Muhammad Aqil Haidar

Yang sudah umum kita ketahui adalah disyariatkan adzan dan iqamah bagi laki-laki. Namun bagaimana ketika perempuan-perempun berkumpul lantas melakukan shalat jamaah? Apakah disyariatkan juga bagi perempuan untuk mengumandangkan adzan dan iqamah? Dan juga bagaimana kalau yang mengumandangkan adzan bagi jamaah laki-laki adalah seorang perempuan? Sahkah adzan tersebut? Berikut adalah pendapat berbagai madzhab tentang hukum adzan dan iqamah bagi perempuan.

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

(وليس على النساء أذان ولا إقامة) لأنهما سنة الصلاة بالجماعة وجماعتهن منسوخة لما في اجتماعهن من الفتنة وكذلك إن صلين بالجماعة صلين بغير أذان ولا إقامة

Tidak disyariatkan bagi perempuan untuk mengumandangkan adzan ataupun iqamah. Karena keduanya merupakan perbuata sunnah ketika shalat berjamaah. Sedangkan keberadaan mereka dalam jamaah dalam shalat terhapus(tidak disyariatkan) karena adanya potensi fitnah di dalamnya. Sehingga, meskipun mereka shalat berjamaah maka berjamaah tanpa adzan dan iqamah..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 133 | Aqil

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فيكره أذان المرأة باتفاق الروايات؛ لأنها إن رفعت صوتها فقد ارتكبت معصية، وإن خفضت فقد تركت سنة الجهر؛ ولأن أذان النساء لم يكن في السلف فكان من المحدثات

Adzan merupakan perbuatan makruh bagi perempuan menurut kesepakatan riwayat. Karena ketika seorang perempuan mengeraskan suaranya maka itu sebuah kemaksiatan baginya. Dan ketika dia memelankan suaranya maka telah meninggalkan kesunnahan mengeraskan suara (dalam adzan). Dan juga adzan bagi perempuan tidak ditemukan pada zaman salaf. Maka termasuk dalam perkara yang diada-adakan.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 150 | Amrozi

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وكره أذان الجنب وإقامته وإقامة المحدث وأذان المرأة والفاسق والقاعد والسكران

Dimakruhkan adzan dan iqamahnya seorang yang junub, iqamahnya orang yang berhadst, adzanya perempuan, adzanya orang fasik, adzan dalam posisi duduk, dan adzanya orang yang mabuk.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 93 | Ajib

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

وأنه يكره أذان المرأة والصبي العاقل

Dan dimakruhkan adzanya seorang perempuan dan anak kecil yang berakal..

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal. 394 | Imam

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

وليس على النساء أذان ولا إقامة وإن أقامت المرأة فلا تجهر

Tidak ada syariat adzan dan iqamah bagi perempuan. Dan ketika seorang perempuan mengumandangkan iqamah maka tidak dengan suara keras.

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 198 | Aqil

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

ليس على النساء أذان ولا إقامة وإن أقمن فحسن

Tidak disyariatkan adzan dan iqamah. Namun ketika dia mengumandangkan iqamah maka itu perbuatan baik.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 73 | Aqil

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

فلا يصح أذان امرأة

Tidak sah adzanya seorang wanita.

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 434 | Faisal

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ويكره للمرأة أن تؤذن ويستحب لها أن تقيم لأن في الأذان ترفع الصوت وفي الإقامة لا ترفع الصوت فإن أذنت للرجال لم يعتد بأذانها لأنه لا تصح إمامتها للرجال فلا يصح تأذينها لهم

Dimakruhkan bagi perempuan mengumandangkan adzan. Tetapi disunnahkan baginya beriqamah. Karena pada saat adzan dia mengeraskan suara. Sedangkan pada saat iqamah maka tidak mengeraskan suara. Dan ketika dia adzan untuk laki-laki maka tidak sah. Sebagaimana tidak sah seorang perempuan mengimami laki-laki maka tidak sah juga adzan untuk mereka.

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 111 | Aqil

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin sebagai berikut :

ويندب لجماعة النساء الإقامة لا الأذان على المشهور

Disunnahkan bagi jamaah perempuan untuk mengumandakan iqamah. Lain halnya dengan adzan berdasarkan pendapat yang masyhur.

An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 1 hal. 23 | Aqil

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

وتقيم المرأة) لها وللنساء ندبا (ولا تؤذن) أي لا يندب أذانها لها ولا لهن لأنه يخاف من رفعها الصوت به الفتنة (فإن أذنت) لها أو لهن (سرا لم يكره) وكان ذكر الله تعالى (أو جهرا) بأن رفعت صوتها فوق ما تسمع صواحبها وثم أجنبي (حرم) كما يحرم تكشفها بحضرة الرجال

Disunnahkan bagi perempuan mengumandangkan iqamah bagi dirinya dan perempuan lainya. Namun tidak disunnahkan mengumandangkan adzan bagi mereka. Karena dikhawatirkan terjadinya fitnah ketika dikeraskan suaranya. Namun ketika adzan dengan suara pelan maka tidak dimakruhkan. Dan dihitung sebagai dzikir kepada Allah. Dan ketika mengeraskan suaranya sampai terdengar orang disekitarnya dan di sana terdapat ajnabi maka haram. Seperti halnya keharaman membuka (auratnya) dihadapan laki-laki.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 126 | Aqil

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولا يعتد بأذان المرأة؛ لأنها ليست ممن يشرع له الأذان، فأشبهت المجنون

Tidak dianggap adzanya seorang perempuan. Karena pada dasarnya tidak disyariatkan adzan bagi mereka. Sehingga menyerupai (adzanya) orang gila.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 300 | Aqil

Abu An-Naja (w. 968 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Iqna Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal sebagai berikut :

ويكرهان للنساء والخناثى ولو بلا رفع صوت

Dimakruhkan (adzan dan iqamah) bagi perempuan dan banci meskipun tanpa mengeraskan suara.

Abu An-Naja, Al-Iqna Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal, jilid 1 hal. 75 | Aqil

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

ولأنها لا تؤذن للرجال فلم يجز أن تؤمهم

Dan karena seorang perempuan tidak mengumandangkan adzan untuk laki-laki, maka tidak boleh pula mengimami mereka.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 479 | Aqil

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولا أذان على النساء ولا إقامة؛ فإن أذن، وأقمن فحسن

Tidak ada syariat adzan bagi perempuan dan tidak juga iqamah. Namun ketika melakukanya maka merupakan perbuatan baik.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 169 | Aqil

Demikian pendapat ulama tentang hukum adzan bagi perempuan. Wallahu a'lam.

Baca Lainnya :

Hukum Mengumandangkan Adzan Untuk Shalat Fardhu
Muhammad Syarif Hidayatullah | 21 September 2015, 09:25 | published
Adzan Shubuh, Sekali Atau Dua Kali?
Imamuddin Mukhtar | 22 September 2015, 14:00 | draft
Hukum Mengadzani Bayi Yang Baru Lahir
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 23 September 2015, 14:00 | draft
Hukum Adzan Untuk Selain Shalat
Muhamad Amrozi | 24 September 2015, 14:00 | draft
Hukum Adzan Bagi Perempuan
Muhammad Aqil Haidar | 25 September 2015, 12:56 | published
Hukum Mengumandangkan Adzan Saat Menguburkan Jenazah
Faisal Reza Amaradja | 26 September 2015, 13:00 | draft