Hukum menunda shalat untuk menunggu adanya air

Fri 18 September 2015 17:17 | 0
Neng Ani

 

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

لَوْ تَيَقَّنَ وُجُودَ الْمَاءِ فِي آخِرِ الْوَقْتِ لَزِمَهُ التَّأْخِيرُ عَلَى ظَاهِرِ الرِّوَايَةِ

“ Jika seseorang yakin di akhir waktu sholat akan ada air, maka wajib baginya mengakhirkan sholat, berdasarkan dzahir riwayat.”.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 136 | Nimah

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

لم يتيمم عند مالك إلا في آخر الوقت استحبابا

“ Menurut Imam Malik bahwa tidaklah seseorang bertayammum kecuali di akhir waktu (sholat) adalah mustahab”..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 180 | Nimah

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

أن التأخير مستحب

"Bahwa menunda shalat untuk menunggu adanya air hukumnya adalah sunnah".

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal. 446 | Mega

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

لجواز التأخير لنا آية التيمم

"Bahwa salah satu sebab yang diperbolehkannya menunda shalat menurut kami (madzhab maliki) adalah tayammum" .

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 358 | Mega

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

طلبا لا يشق به

“Mencari air sesuai kemampuan (tidak memberatkan)” .

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal. 424 | Mega

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

ومن تيقن الماء أي وجوده آخر الوقت فانتظاره أفضل من تعجيل التيمم

Apabila seseorang meyakini adanya air pada akhir waktu shalat maka menunggu air tersebut lebih afdhal daripada menyegerakan tayammum.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 73 | Rahmi

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

يتيمم المحدث والجنب لفقد الماء والبرد، والمرض، فإن تيقن فقد الماء تيمم بلا طلب، وإن توهم الماء أو ظنه أو شك فيه فتش في منزله وعند رفقته، وتردد قدر حد الغوث، وقدره بعضهم بغلوة سهم، فإن لم يجد ماء تيمم، وإن تيقن وجود الماء وجب طلبه في حد القرب -وهو ستة آلاف خطوة- فإن كان فوق حد القرب تيمم، والأفضل تأخير الصلاة إن تيقن وصول الماء آخر الوقت

“Seorang yang berhadats kecil maupun besar (Junub) bertayamum dikarenakan tidak adanya air, atau karena dingin dan sakit. Apabila telah yaqin tidak adanya air maka ia bertayamum tanpa mencari lagi (air), akan tetapi jika ragu (lebih condong akan tidak adanyanya air) atau menyangka (adanya air) atau prasangka yang setengah-setengah (antara ada atau tidak adanyanya air) di tempat ia berada maka ia diharuskan memeriksa air di dalam rumahnya dan dirumah tetangganya, dan (apabila) merasa ragu akan takaran/intensitas air hujan (yang turun sedikit), lalu tidak menemukan air (sama sekali) maka ia bertayamum, sedangkan apabila ia yakin akan adanya air, maka wajib baginya mencari air tersebut (dalam jarak dekat yang memungkinkan) –yaitu dalam radius enam ribu langkah- dan jika melebihi jarak tersebut, maka ia bertayamum, dan yang lebih afdhol adalah mengakhirkan sholat apabila yakin akan dapatnya air di akhir waktu. .

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 57 | Neng

Ar-Ramli (w. 1004 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj sebagai berikut :

(وَلَوْ) (تَيَقَّنَهُ) أَيْ وُجُودَ الْمَاءِ (آخِرَ الْوَقْتِ) مَعَ كَوْنِ التَّيَمُّمِ جَائِزًا لَهُ فِي أَثْنَائِهِ وَفِي الْوَقْتِ مَا يَسَعُهَا كُلَّهَا وَطُهْرُهَا فِيهِ (فَانْتِظَارُهُ أَفْضَلُ) مِنْ تَعْجِيلِ التَّيَمُّمِ لِأَنَّ التَّقْدِيمَ مُسْتَحَبٌّ وَالْوُضُوءَ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةُ فَرْضٌ فَثَوَابُهُ أَكْثَرُ. وَلِهَذَا يَجُوزُ التَّأْخِيرُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى التَّقْدِيمِ بِخِلَافِ التَّيَمُّمِ عِنْدَ الْقُدْرَةِ عَلَى الْوُضُوءِ

“Meskipun yakin akan adanya air di akhir waktu, dengan kebolehan tayamum pada waktu tersebut dan pada keluasan waktu (untuk melaksanakan sholat) maka mengakhirkan tayamum adalah lebih afdhol daripada menyegerakannya, karena menyegerakan tayamum itu termasuk mustahab (sunnah) sedangkan wudhu (secara keseluruhan) hukumnya adalah wajib maka pahalanya lebih banyak . Oleh karena itu, bolehnya mengakhirkan sholat dengan kebolehan melakukan Tayamum di awal waktu, lain halnya apabila bertayamum dengan kemungkinan masih bisa melakukan wudhu”. .

Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, jilid 1 hal. 271 | Neng

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ويستحب تأخيرها لإدراك الجماعة، فتأخيرها لإدراك الطهارة المشترطة أولى

Sebagaimana disunnahkannya mengakhirkan shalat agar bisa mengikuti shalat berjamaah, maka sunnahnya mengakhirkan shalat agar bisa mengerjakan thaharah yang seharusnya (wudhu) tentu lebih utama.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 179 | Rahmi

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Majmu' Fatawa sebagai berikut :

قال علي:... وأن الله تعالى أسقط عنا ما لا نقدر عليه، وأبقى علينا ما نقدر عليه، بقوله تعالى {فاتقوا الله ما استطعتم} [التغابن: 16] فصح أن قوله - عليه السلام -: «لا تقبل صلاة من أحدث حتى يتوضأ» إنما كلف ذلك من يقدر على الوضوء أو الطهور بوجود الماء أو التراب، لا من لا يقدر على وضوء ولا تيمم

Ali berkata:... Allah menggugurkan (kewajiban) yang kita tidak mampu,dan membiarkan apa yang kita mampu, dengan firmannya:"bertaqwalah kepada Allah sebisamu," (at taghabun:16). sabda Rasulullah SAW, "Allah tidak menerima shalat orang yang berhadats," sebenarnya kewajiban bagi yang mampu berwudhu atau bersuci karena ada air atau debu, bukan bagi yang tidak mampu wudhu atau tayamum.

Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 1 hal. 364 | Taslima

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

قال أبو محمد: والصلاة فرض معلق بوقت محدود، وقد قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - «إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم» فوجدنا هذا الذي حضرته الصلاة هو مأمور بالوضوء وبالغسل إن كان جنبا وبالصلاة، فإذا عجز عن الغسل والوضوء سقطا عنه، وقد نص - عليه السلام - على أن الأرض طهور إذا لم يجد الماء فأما المسافر سفرا يقع عليه اسم سفر والمريض الذي له التيمم فالأفضل لهما أن يتيمما في أول الوقت

abu Muhammad berkata: Shalat adalah fardhu yang terikat dengan waktu yang terbatas. Rasulullah SAW bersabda: jika aku perintahkan sesuatu padamu maka kerjakanlah sebisamu. jika berhalangan mandi atau wudhu maka (kewajiban ini) gugur. terdapat nash dari Rasulullah SAW: bahwa tanah itu suci jika tidak ada air. musafir yang memenuhi syarat safar dan orang sakit yang dibolehkan tayamum, maka lebih baik tayamum diawal waktu .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 348 | Taslima

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

قال علي: ويتيمم من كان في الحضر صحيحا إذا كان لا يقدر على الماء إلا بعد خروج وقت الصلاة

Ali berkata: orang yang berada didalam kota bertayamum, benar, jika tidak mendapat air kecuali setelah habis waktu shalat.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 347 | Taslima

Baca Lainnya :

Tayammum, Sampai Siku atau Pergelangan Tangan?
Imamuddin Mukhtar | 3 April 2015, 10:09 | published
Pengertian Istilah Shaid Dalam Ayat Tayammum
Kartika Ande | 11 September 2015, 19:57 | published
Mengusap Tangan dalam Tayammum Sampai Siku atau Pergelangan?
Muhammad Aqil Haidar | 17 April 2015, 10:10 | published
Apakah Tayamum Menghilangkan Hadats Atau Sekedar Membolehkan Shalat
Isnaini Mangasiroh | 11 September 2015, 20:00 | published
Waktu Diperbolehkannya Tayammum
Khanif Fatoni Sofyana | 11 September 2015, 20:01 | published
Apakah Tayammum Hanya Untuk Satu Kali Shalat?
Anisah Nurul Sholihah | 11 September 2015, 20:02 | published
Bolehkah Tayammum Shalat Sunnah Dipakai lagi Untuk Shalat Wajib
Mega Cahyati | 11 September 2015, 20:03 | published
Tayammum itu Rukhsah Atau Azimah?
Rahmi Fitriani | 11 September 2015, 20:04 | published
Apakah Tartib Dalam Tayammum Itu Termasuk Rukun?
Kholisnawati | 11 September 2015, 20:05 | published
Apakah Muwalat Termasuk Rukun Dalam Tayammum?
Mardliyatun Nimah | 11 September 2015, 20:07 | published
Batasan Mengusap Tangan Dalam Tayammum
Irma Suri Handayani | 11 September 2015, 20:07 | published
Tayammum Itu Satu Tepukan Atau Dua kali?
Ahda Sabila | 11 September 2015, 20:08 | published
Hukum menunda shalat untuk menunggu adanya air
Neng Ani | 18 September 2015, 17:17 | published
Seberapa jauh radius jarak yang harus ditempuh dalam mencari air ?
Taslima Husin | 18 September 2015, 17:19 | published