Bolehkah Tuna Netra Menjadi Saksi?

Thu 17 September 2015 11:56 | 1
Nur Azizah Pulungan

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

أمّا عندنا فلأنّ الأعمى إنّما لا تقبل شهادته؛ لأنّه لا يميّز بين المشهود له والمشهود عليه إلّا بدليل مشتبه، وهو النّغمة والصّوت

Dalam madzhab kami, orang yang buta tidak diterima persaksiannya, lantaran dia tidak bisa membedakan pihak-pihak yang disaksikannya kecuali dengan petunjuk yang samar, seperti nada dan suara, .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 32 | Fatimah

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وكذا بصر الشاهد ليس بشرط فينعقد النكاح بحضور الأعمى

Dan juga penglihatan seorang saksi itu tidak menjadi syarat, maka pernikahan yang saksinya tuna netra sah hukumnya. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 255 | Azizah

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

فإن النكاح ينعقد بشهادتهم بالإجماع

Maka sesungguhnya kesaksian mereka (tuna netra) itu diterima secara ijma’.

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 5 hal. 17 | Azizah

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

(و) شرط (حضور) شاهدين (حرين) أو حر وحرتين (مكلفين سامعين قولهما معا) على الاصح (فاهمين) أنه نكاح على المذهب. بحر(مسلمين لنكاح مسلمة ولو فاسقين أو محدودين في قذف أو أعميين أو ابني الزوجين أو ابني أحدهما وإن لم يثبت النكاح بهما) بالاثنين

(dan) disyaratkan (hadir) dua orang saksi (dua lelaki merdeka) atau seorang lelaki merdeka dan dua orang wanita merdeka (mukallaf, bisa mendengar perkataan dua orang yang berakad) pendapat yang benar dalam madzhab (faham) itulah pendapat dalam madzhab kami dalam bab pernikahan. (dua orang muslim dalam pernikahan seorang muslimah, walaupun dua orang fasik, atau dua orang yang sudah dijatuhi hukuman karena suatu tuduhan, atau dua orang buta atau dua anak lelaki pasangan nikah atau salah satu anak lelaki dari keduanya, dan tidak sah pernikahan nya kecuali dengan hadirnya mereka) maksudnya adalah dua orang. .

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 0 hal. 178 | Fatimah

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

ولا تقبل شهادة الأعمى عندنا؛ لأنّه لا يقدر على التّمييز بين المدّعي والمدّعى عليه والإشارة إليهما فلا يكون كلامه شهادة ولا ينعقد النّكاح بحضرته. اهـ

Menurut pendapat kami, tidak diterima kesaksian seorang yang buta, karena dia tidak mampu membedakan antara yang dituduh dan yang tertuduh, juga tidak dapat memberi isyarat kepada mereka berdua, maka perkataan seorang yang buta tidak bisa dijadikan suatu kesaksian, dan tidak lah sah pernikahan dengan kehadirannya. .

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 3 hal. 24 | Fatimah

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

لا يمنع الأعمى من الضبط ولأنه جوز شهادته في النسب والنكاح والموت

Tidak ada yang menghalangi untuk mempercayai seorang tuna netra, karena diterima persaksiannya dalam nasab, pernikahan dan kematian..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 10 hal. 164 | Isna

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

شهادة الأعمى جائزة فيما وقع له العلم به بسماع الصوت أو لمس أو غير ذلك ما عدا النظر

Persaksian tuna netra pada apa yang diketahuinya bisa diterima, baik dengan mendengarkan suara, atau sentuhan, atau selainnya, asal bukan lewat penglihatan. .

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 203 | Isna

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

شهادة الأعمى في الأقوال المشهور فيها أنها جائزة وشهادته في غير الأقوال لا تجوز

Persaksian orang buta dalam hal perkataan, menurut yang masyhur (dalam madzhab) diterima, sedang persaksian untuk selain yang berupa perkataan tidak diterima..

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 6 hal. 154 | Isna

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وإن عقد بشهادة أعميين ففيه وجهان: أحدهما أنه يصح لأن الأعمى يجوز أن يكون شاهدا والثاني لا يصح لأنه لا يعرف العاقد فهو كالأصم الذي لا يسمع لفظ العاقد

Jika akad disaksikan oleh dua orang tuna netra terdapat dua pendapat : Pendapat yang pertama, sah karena tuna netra boleh menjadi saksi. Pendapat yang kedua, tidak sah karena dia tidak mengetahui orang yang melakukan akad maka dia seperti tuna rungu yang tidak mendengar akad. .

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 436 | Qathrin

Di dalam masalah ini Imam Asy-Syairazi hanya menyebutkan pendapat para ulama yakni sah dan tidak sah tanpa merajihkan salah satunya. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

أحدهما ينعقد، لان الاعمى من اهل الشهادة، والثانى: لا يصح لانه لا يعرف العاقد فهو كالاصم الذى لا يسمع لفظ... العاقد

... Pendapat yang pertama, sah karena tuna netra boleh menjadi saksi. Pendapat yang kedua, tidak sah karena dia tidak mengetahui orang yang melakukan akad maka dia seperti tuna rungu yang tidak mendengar akad..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 201 | Qathrin

Dalam hal ini Imam An-Nawawi pun memaparkan pendapat para ulama tanpa merajihkan salah satunya. Al-Malibari (w. 987 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Mu'in sebagai berikut :

وشرط في الشاهدين أهلية شهادة تأتي شروطها في باب الشهادة وهي حرية كاملة وذكورة محققة وعدالة ومن لازمها الإسلام والتكليف وسمع ونطق وبصر ...وفي الأعمى وجه لأنه أهل للشهادة في الجملة الأصح لا وإن عرف الزوجين ...ومعرفة لسان المتعاقدين.

Dua orang yang menjadi saksi diharuskan memiliki kapasitas sebagai saksi sebagaimana disebutkan syaratnya dalam bab persaksian yakni kemerdekaan secara penuh, laki-laki dan sudah dipastikan kelelakiannya, adil yang lazimnya adalah islam dan taklif, bisa mendengar, berbicara, dan melihat ... dan bagi tuna netra ada pandangan lain, meskipun dia orang yang berhak menjadi saksi secara umum, tetapi menurut pendapat yang paling shahih tidak boleh, meski dia mengenal mempelai pengantin ... dan mengenal suara yang melakukan akad ....

Al-Malibari, Fathul Mu'in, jilid 1 hal. 461 | Qathrin

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

ولا تشترط الحرية، ولا البصر؛ لأنها شهادة لا توجب حدا، فقبلت شهادتهما فيه

Seorang saksi dalam pernikahan tidak disyaratkan orang merdeka juga tidak disyaratkan orang yang dapat melihat, karena persaksian dalam pernikahan tidak mewajibkan had, maka dari itu dalam hal ini persaksian budak maupun tuna netra dapat diterima..

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 17 | Maryam

keterangan-keterangan para ulama diatas sudah jelas sekali. Bahkan ulama dalam satu mazhab Hanafi pun masih berbeda pendapat.Maka dari itu kita tidak perlu menafikan saudara kita yang tuna netra dari suatu persaksian dalam pernikahan

Baca Lainnya :

Apakah Saksi Nikah Harus Orang Merdeka?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:14 | published
Apakah Saksi Nikah Harus Berstatus Adil
Siska | 12 September 2015, 13:14 | draft
Kedudukan Saksi Dalam Akad Nikah
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:14 | published
Bolehkah Tuna Netra Menjadi Saksi?
Nur Azizah Pulungan | 17 September 2015, 11:56 | published
Suami istri tidak sekufu siapa wali yang berhak memfasakh?
Fatimah Khairun Nisa | 30 October 2015, 05:48 | approved