Hukuman Bagi yang Bersetubuh Dengan Mayat

Wed 16 September 2015 23:24 | 2
Khaerul Anam

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وكذا وطء المرأة الميتة لا يوجب الحد ويوجب التعزير؛ لعدم وطء المرأة الحية.

.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 7 hal. 34 | Mardoni

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Istidzkar sebagai berikut :

التجربة

maaf mau mencoba.

Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, jilid 1 hal. 1 | Tajun

pendapat pribadi percobaan Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

(العاشر) أن تكون المرأة حية ويحد واطىء الميتة في المشهور

Syarat kesepuluh adalah perempuan yang dizinai saat itu masih hidup, namun pendapat al-masyhur, orang yang berzina dengan mayat perempuan pun wajib dihudud (rajam atau cambuk).

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 232 | Anam

Ad-Dardir (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Asy-Syarhu Ash-Shaghir sebagai berikut :

(وإن) كان الفرج المولج فيه (دبرا) لذكر أو أنثى حيا (أو ميتا)

Walaupun farji yang dimasuki berupa dubur laki-laki atau perempuan, baik masih hidup atau sudah meninggal.

Ad-Dardir , Asy-Syarhu Ash-Shaghir, jilid 4 hal. 448 | Anam

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وإن وطئ امرأة ميتة وهو من أهل الحد ففيه وجهان: أحدهما: أنه يجب عليه الحد لأنه إيلاج في فرج محرم ولا شبهة له فيه فأشبه إذا كانت حية والثاني أنه لا يجب لأنه لا يقصد فلا يجب فيه الحد.

Barangsiapa menjima' wanita yang sudah meninggal - dan pelaku memiliki kriteria seseorang dikenai hudud zina -, maka ada dua pendapat: pelaku dikenai hudud, karena menjima' wanita yang sudah meninggal adalah jima' yang diharamkan, dan tidak ada syubhat didalamnya. Sehingga hukum wanita yang telah meninggal sama seperti yang masih hidup. Pendapat kedua, pelaku tidak dihudud, karena perbuatan seperti ini tidak diingini pada umumnya, sehingga tidak perlu adanya hudud..

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 341 | Wahyudi

Hudud berfungsi mencegah orang melakukan zina, dan karena menjima' mayat tidak sesuai dengan fitrah keinginan manusia, maka tidak perlu adanya hudud. Manusia normal dengan sendirinya tidak mau melakukan hal seperti itu. Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وإن وطئ ميتة، ففيه وجهان؛ أحدهما، عليه الحد. وهو قول الأوزاعي؛ لأنه وطىء في فرج آدمية، فأشبه وطء الحية، ولأنه أعظم ذنبا، وأكثر إثما؛ لأنه انضم إلى فاحشة هتك حرمة الميتة. والثاني: لا حد عليه. وهو قول الحسن. قال أبو بكر: وبهذا أقول؛ لأن الوطء في الميتة كلا وطء، لأنه عضو مستهلك، ولأنها لا يشتهى مثلها، وتعافها النفس، فلا حاجة إلى شرع الزجر عنها، والحد إنما وجب زجرا.

Jika seseorang menjima' mayat, dalam hal ini ada dua pendapat para ulama: Pendapat pertama : Pelaku tersebut di hukum hudud. Ini pendapat Al-Auza'i, alasannya orang tersebut telah menjima' di farji wanita meski sudah meninggal, maka hukumnya seperti menjima' wanita yang masih hidup. Bahkan dosanya lebih besar karena disamping dosa zina, pelaku juga mendapat dosa merusak kehormatan si mayat. Pendapat kedua: Pelaku tidak dihudud. Ini pendapat Al-Hasan dan ditarjih oleh Abu Bakar. Beliau berkata : "Pendapat inilah yang saya pilih, karena menjima' mayat seperti tidak berjima', kan tubuh mayat itu sudah tidak layak dijima'. Di samping itu mayat bukanlah sesuatu yang menimbulkan gairah, bahkan menjijikkan. Sehingga tidak membutuhkan adanya hukuman yang mencegah orang melakukannya. Dan hudud diwajibkan supaya orang tidak melakukan zina. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 9 hal. 55 | Ali

j

Baca Lainnya :

Apakah Pengasingan Selama Setahun Termasuk Hudud?
Ali Shodiqin | 16 September 2015, 22:30 | published
Siapa yang Memulai Proses Rajam, Saksi atau Hakim?
Ahmad Wahyudi | 16 September 2015, 23:08 | published
Dirajam dengan Berdiri, Diikat, atau Dikubur Setengah Badan?
Mardoni Saputra | 16 September 2015, 23:13 | published
Hukuman Cambuk Dilakukan di Bagian Tubuh yang Mana?
Khaerul Anam | 16 September 2015, 23:17 | published
Tempat Pelaksanaan Hukuman Hudud
Tajun Nashr, Lc | 16 September 2015, 23:19 | draft
Apakah Liwath Sama Hukumnya Dengan Zina??
Muhammad Abdul Wahab | 16 September 2015, 23:21 | published
Kriteria Orang yang Bisa Dikenai Hukuman Hudud
Tajun Nashr, Lc | 4 October 2015, 05:38 | draft
Hukuman Bagi yang Bersetubuh Dengan Mayat
Khaerul Anam | 16 September 2015, 23:24 | published
Pelaku Zina Sakit, Tetapkah Dihudud?
Tajun Nashr, Lc | 18 October 2015, 20:07 | draft
Zina Sebab Dipaksa, Tetap Dirajam/Dihudud?
Ali Shodiqin | 28 September 2015, 10:45 | draft
Bolehkah Terdakwa Zina Merujuk Pengakuannya?
Ahmad Wahyudi | 28 September 2015, 10:46 | draft
Berapa Kali Harus 'Iqrar' (Mengaku) Untuk Dilaksanakan Hudud?
Mardoni Saputra | 28 September 2015, 10:49 | draft
Apa Hukuman Bagi Yang Menyutubuhi Hewan?
Khaerul Anam | 28 September 2015, 14:16 | draft
Hukuman Bagi Hewan Yang Disetubuhi Manusia?
Muhammad Abdul Wahab | 28 September 2015, 14:21 | draft
Apa Itu Muhshan?
Muhammad Abdul Wahab | 28 September 2015, 14:25 | draft