Dirajam dengan Berdiri, Diikat, atau Dikubur Setengah Badan?

Wed 16 September 2015 23:13 | 0
Mardoni Saputra

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وأما كيفية إقامة الحدود فأما حد الرجم فلا ينبغي أن يربط المرجوم بشيء، ولا أن يمسك، ولا أن يحفر له إذا كان رجلا بل يقام قائما

.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 7 hal. 59 | Mardoni

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

يحيط به الناس فيرجمونه مطلقا دون أن يحفروا له وقد قيل انه يحفر له حفير تغيب فيه قدماه الى نصف ساقه لئلا يفر

Orang-orang mengelilingi (orang yang terbukti berzina tersebut) kemudian mereka merajamnya dalam kondisi pezina tersebut tidak dikubur (setengah badan). Ada pendapat yang menyebutkan bahwa pezina tersebut harus dikubur namun hanya sampai telapak kakinya saja, dengan tujuan agar tidak melarikan diri..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 0 hal. 0 | Tajun

Pada kutipan tadi dijelaskan mengenai pelaksanaan hukuman bagi seorang muhshan yang telah terbukti melakukan zina Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

ولا يربط المرجوم ولا يحفر له ولا للمرأة

“Orang yang dirajam itu tidak perlu diikat atupun dikubur, hal ini juga berlaku bagi wanita.” .

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 12 hal. 76 | Tajun

Disebutkan dari pendapat di atas bahwasanya orang yang dirajam itu dibiarkan berdiri tanpa diikat atau dikubur setengah badan. Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

لا تحفر للمرجوم حفرة يرجم فيها خلافا للشافعي

Orang yang akan dirajam tidak perlu dipendam (sebagian badannya), berbeda dengan pendapat imam Syafi'i.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 233 | Anam

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

فان كان المرجوم رجلاً لم يحفر له لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يحفر لماعز ولأنه ليس بعورة وإن كان امرأة حفر لها

Jika yang dirajam adalah laki-laki, maka tidak perlu dipendam, karena Rasulullah saw tidak melakukan itu ketika merajam Ma’iz, disamping itu laki-laaki bukan aurat. Tapi jika yang dirajam adalah wanita, maka proses rajamnya dengan dipendam. .

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 344 | Wahyudi

Ketika proses rajam berjalan, sangat berpotensi pakaian yang dirajam sobek atau terbuka. Inilah alasan wanita dirajam dengan dipendam, sehingga kalau pakaiannya sobek auratnya tidak kelihatan. Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وإذا كان الزاني رجلا أقيم قائما، ولم يوثق بشيء ولم يحفر له، سواء ثبت الزنى ببينة أو إقرار لا نعلم فيه خلافا

Jika pezina yang akan dihukum adalah laki-laki, maka ia dihukum sambil berdiri, tidak diikat atau dikubur badannya. Ketentuan ini berlaku baik zina ditetapkan dengan adanya saksi atau berdasarkan pengakuan si pelaku. Saya ( Syekh Ibnu qudamah )tidak mengetahui pendapat yang berbeda dengan yang di atas..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 9 hal. 36 | Ali

Baca Lainnya :

Apakah Pengasingan Selama Setahun Termasuk Hudud?
Ali Shodiqin | 16 September 2015, 22:30 | published
Siapa yang Memulai Proses Rajam, Saksi atau Hakim?
Ahmad Wahyudi | 16 September 2015, 23:08 | published
Dirajam dengan Berdiri, Diikat, atau Dikubur Setengah Badan?
Mardoni Saputra | 16 September 2015, 23:13 | published
Hukuman Cambuk Dilakukan di Bagian Tubuh yang Mana?
Khaerul Anam | 16 September 2015, 23:17 | published
Tempat Pelaksanaan Hukuman Hudud
Tajun Nashr, Lc | 16 September 2015, 23:19 | draft
Apakah Liwath Sama Hukumnya Dengan Zina??
Muhammad Abdul Wahab | 16 September 2015, 23:21 | published
Kriteria Orang yang Bisa Dikenai Hukuman Hudud
Tajun Nashr, Lc | 4 October 2015, 05:38 | draft
Hukuman Bagi yang Bersetubuh Dengan Mayat
Khaerul Anam | 16 September 2015, 23:24 | published
Pelaku Zina Sakit, Tetapkah Dihudud?
Tajun Nashr, Lc | 18 October 2015, 20:07 | draft
Zina Sebab Dipaksa, Tetap Dirajam/Dihudud?
Ali Shodiqin | 28 September 2015, 10:45 | draft
Bolehkah Terdakwa Zina Merujuk Pengakuannya?
Ahmad Wahyudi | 28 September 2015, 10:46 | draft
Berapa Kali Harus 'Iqrar' (Mengaku) Untuk Dilaksanakan Hudud?
Mardoni Saputra | 28 September 2015, 10:49 | draft
Apa Hukuman Bagi Yang Menyutubuhi Hewan?
Khaerul Anam | 28 September 2015, 14:16 | draft
Hukuman Bagi Hewan Yang Disetubuhi Manusia?
Muhammad Abdul Wahab | 28 September 2015, 14:21 | draft
Apa Itu Muhshan?
Muhammad Abdul Wahab | 28 September 2015, 14:25 | draft