Siapa yang Memulai Proses Rajam, Saksi atau Hakim?

Wed 16 September 2015 23:08 | 0
Ahmad Wahyudi

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

البداية من الشهود في حد الرجم إذا ثبت بالشهادة، حتى لو امتنع الشهود عن البداية أو ماتوا أو غابوا كلهم أو بعضهم - لا يقام الرجم على المشهود عليه، وهذا قول أبي حنيفة ومحمد، وإحدى الروايتين عن أبي يوسف استحسانا

.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 7 hal. 58 | Mardoni

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

وإن كان مقرا ابتدأ الإمام ثم الناس

.

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 2 hal. 341 | Mardoni

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

فان كان الرجم باعتراف بدأ الامام برجمه ثم الناس بعده، وان كان شهادة بدأ الشهود ثم الناس

Jika pelaksanaan rajam berdasarkan (zina) yang terbukti dengan pengakuan, maka yang memulai melakukan rajam adalah pemimpin kemudian dilanjutkan perajaman orang orang-orang (masyarakat). Namun jika rajam berdasarkan kesaksian, maka yang memulai melakukan rajam adalah para saksi kemudian diikuti oleh orang-orang..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 0 hal. 0 | Tajun

Dari komentar ini bisa disimpulkan bahwa pelaksanaan rajam tergantung dari jenis pembuktian dari perbuatan zina yang dilakukan oleh seorang pezina. Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

إذاحضر الإِمَام الرَّجْم جَازَ لَهُ أَن يبْدَأ هُوَ وَأَن يبْدَأ غَيره

Jika kepala negara hadir dalam eksekusi rajam maka boleh baginya untuk memulai merajam atau orang lain.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 233 | Anam

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

قال مالك : مذ أقامت الأئمة الحدود فلم نعلم أحدا منهم تولى ذلك بنفسه

“Imam Malik berkata : Semenjak hukuman hudud dilakukan oleh para Imam, kami belum pernah mengetahui ada di antara mereka (para Imam tersebut) yang melakukan hukuman rajam secara langsung dengan tangan mereka sendiri…..”.

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 12 hal. 119 | Tajun

Dari teks di atas disimpulkan bahwa penulis menyebutkan perkataan Imam Malik bahwasanya Imam tidak terlibat langsung dalam proses hukuman rajam, ia hanya memerintahkan orang-orang untuk melakukan eksekusi hukuman tersebut. Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

والسنة أن يبدأ الإمام بالرجم، ثم الناس إن ثبت بالإقرار، وإن ثبت بالبينة بدأ به الشهود ثم الإمام ثم الناس

Jika zina terbukti dengan adanya pengakuan si pelaku, maka sunahnya Imam ( pemimpin Negara ) yang memulai proses rajam, kemudian diikuti oleh orang-orang. Dan jika zina terbukti dengan adanya 4 saksi, maka yang memulai proses rajam adalah saksi-saksi tersebut, lalu diikuti Pemimpin Negara, lalu orang-orang. .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 5 hal. 455 | Wahyudi

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

فإن كان الزنى ثبت ببينة فالسنة أن يبدأ الشهود بالرجم، وإن كان ثبت بإقرار بدأ به الإمام أو الحاكم، إن كان ثبت عنده، ثم يرجم الناس بعده

Jika zina ditetapkan dengan adanya saksi, maka sunahnya para saksi yang mengawali hukuman rajam. Namun jika zina ditetapkan berdasarkan pengakuan si pelaku dan pengakuannya diterima oleh Al-Imam (kepala negara) atau hakim, maka Al-Imam atau hakimlah yang memulai proses hukuman rajam, baru kemudian orang-orang ikut melanjutkan proses hukumannya..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 9 hal. 37 | Ali

Abu An-Naja (w. 968 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Iqna’ Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal sebagai berikut :

ويسن حضور شهود الزنا وبداءتهم بالرجم وإن كان ثبت بإقرار بدأ الإمام أو الحاكم إن كان ثبت عنده ثم يرجم الناس

.

Abu An-Naja, Al-Iqna’ Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal, jilid 4 hal. 248 | Ali

Baca Lainnya :

Apakah Pengasingan Selama Setahun Termasuk Hudud?
Ali Shodiqin | 16 September 2015, 22:30 | published
Siapa yang Memulai Proses Rajam, Saksi atau Hakim?
Ahmad Wahyudi | 16 September 2015, 23:08 | published
Dirajam dengan Berdiri, Diikat, atau Dikubur Setengah Badan?
Mardoni Saputra | 16 September 2015, 23:13 | published
Hukuman Cambuk Dilakukan di Bagian Tubuh yang Mana?
Khaerul Anam | 16 September 2015, 23:17 | published
Tempat Pelaksanaan Hukuman Hudud
Tajun Nashr, Lc | 16 September 2015, 23:19 | draft
Apakah Liwath Sama Hukumnya Dengan Zina??
Muhammad Abdul Wahab | 16 September 2015, 23:21 | published
Kriteria Orang yang Bisa Dikenai Hukuman Hudud
Tajun Nashr, Lc | 4 October 2015, 05:38 | draft
Hukuman Bagi yang Bersetubuh Dengan Mayat
Khaerul Anam | 16 September 2015, 23:24 | published
Pelaku Zina Sakit, Tetapkah Dihudud?
Tajun Nashr, Lc | 18 October 2015, 20:07 | draft
Zina Sebab Dipaksa, Tetap Dirajam/Dihudud?
Ali Shodiqin | 28 September 2015, 10:45 | draft
Bolehkah Terdakwa Zina Merujuk Pengakuannya?
Ahmad Wahyudi | 28 September 2015, 10:46 | draft
Berapa Kali Harus 'Iqrar' (Mengaku) Untuk Dilaksanakan Hudud?
Mardoni Saputra | 28 September 2015, 10:49 | draft
Apa Hukuman Bagi Yang Menyutubuhi Hewan?
Khaerul Anam | 28 September 2015, 14:16 | draft
Hukuman Bagi Hewan Yang Disetubuhi Manusia?
Muhammad Abdul Wahab | 28 September 2015, 14:21 | draft
Apa Itu Muhshan?
Muhammad Abdul Wahab | 28 September 2015, 14:25 | draft