Hukum Makan dan Minum Dengan Sengaja Di Bulan Puasa, Apakah Wajib Kafarat ?

Sat 25 April 2015 22:07 | 0
Faisal Reza Amaradja

 

Al-Qaduri (w. 428 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mukhtashar Al-Qaduri sebagai berikut :

و من جامع عامدا في أحد السبيلين أو أكل أو شرب ما يتغذى به أو يتداوى به فعليه القضاء و الكفارة مثل كفارة الظهار

Siapa saja yang berjima di salah satu dari kedua 2 kemaluan (qubul atau dubur) dengan sengaja ataupun makan dan minum untuk mengambil asupan gizi darinya ataupun untuk pengobatan maka wajib baginya untuk mengqadha dan membayar kafarat seperti kafarat zhihar..

Al-Qaduri, Al-Mukhtashar Al-Qaduri, jilid 0 hal. 63 | Aqil

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

ولوأكل أو شرب ما يصلح به البدن إما على وجه التغذى أو التداوى متعمدا فعليه القضاء والكفارة عندنا و الأكل و الشرب إفساد لصوم رمضان متعمدا من غير عذر ولا سفر فكان إيجاب الكفارة هناك إيجابا ههنا دلالة.

Menurut kami Jika seorang dengan sengaja makan dan minum sesuatu yang bermanfaat bagi badan, baik manfaatnya untuk asupan gizi ataupun untuk berobat maka wajib baginya mengqadha puasa dan membayar kafarat. Makan dan minum itu membatalkan puasa ramadhan apabila dilakukan dengan sengaja tanpa udzur ataupun safar. Maka dapat dipahami bahwa dilalah (petunjuk) pewajiban kafarat (dalam kasus jima) sama dengan pewajiban kafarat dalam kasus makan dan minum ini..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 98 | Ajib

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

ولو أكل أو شرب ما يتغذى به أو ما يداوى به فعليه القضاء والكفارة

Jika seseorang makan dan minum untuk mendapatkan asupan gizi ataupun untuk pengobatan maka wajib baginya mengqadha puasa dan membayar kafarat..

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 124 | Faisal

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

أن الكفارة لا تجب إلا بالفطر صورة ومعنى ففي الأكل الفطر صورة هو الابتلاع والمعنى كونه مما يصلح به البدن من الغذاء أو دواء , فلا تجب في ابتلاعِ نحو الحصاة لوجود الصورة فقط , ولا في نحوِ الاحتقان لوجود المعنى فقط

Kafarat tidak wajib melainkan dengan Fithr (sesuatu yang membatalkan puasa) secara shurah (gambaran) dan maknanya. Dalam masalah makan, gambaran batalnya puasa adalah ketika sebuah benda terlelan masuk ke dalam perut sedangkan secara makna dari fithr adalah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dan bermanfaat baginya, baik sebagai asupan gizi ataupun sebagai obat. Maka tidak wajib jika menelan semisal batu kerikil dikarekan perbuatan itu hanya berupa gambaran fithr saja. begitupula dengan suntik dikarenakan dalam hal itu hanya terdapat makna fithr saja..

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 2 hal. 109 | Amrozi

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

ومن أكل أو شرب أو جامع عامدا ذاكرا لصومه فإن كان صومه تطوعا فعليه القضاء وكذلك كل صوم واجب غير رمضان لا كفارة على المفطر فيه عامدا وإنما فيه الإثم والمعصية. وإن كان ذلك في رمضان فعليه الكفارة مع القضاء

Dan seorang yang makan, minum ataupun berjima dengan sengaja serta dia sadar akan dirinya yang sedang berpuasa maka wajib baginya mengqadha puasanya jika puasa itu adalah puasa sunah, begitu pula dengan puasa yang wajib selain puasa ramadhan dan Tidak dikenai kafarat baginya namun pembatalan puasa tersebut dianggap sebagai perbuatan dosa dan maksiat. Jika hal itu (makan, minum dan jima dengan sengaja) terjadi di bulan Ramadhan maka wajib baginya membayar kafarat dan qadha..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 0 hal. 124 | Ajib

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وفي التلقين الكفارة كفارتان صغرى لتأخير القضاء عن زمنه وكبرى وهي لا تجب إلا لرمضان بتعمد إفطاره على وجه الهتك من غير عذر من جماع أو أكل أو غيرهما

Kafarat ada 2 : Pertama yaitu kafarat shughra yang disebabkan mengakhirkan qadha dari waktunya. Kedua yaitu kafarat kubra, kafarat yang wajib dibayarkan jika seseorang membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tanpa ada udzur dan hal itu dianggap sebagai perbuatan yang menodai kesucian bulan Ramadhan, pembatalannya bisa saja karena jima, makan atau selainnya..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 517 | Amrozi

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

ولا تجب الكفارة في فطر في غير جماع ولا طعام ولا شراب ولا غيره

Membatalkan puasa tidak wajib membayar kaffarat kecuali dengan berjima’. membatalkan puasa dengan minum, makan dan selainnya tidak wajib membayar kaffarat.

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 2 hal. 252 | Imam

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

قال أصحابنا إذا أفطر الصائم في نهار رمضان بغير الجماع من غيرعذر عامدا مختارا عالما بالتحريم بأن أكل أو شرب أو استعط أو باشر فيما دون الفرج فأنزل أو استمني فأنزل أثم ووجب عليه القضاء وإمساك بقية النهار ولا يلزمه الكفارة العظمي وهى عتق رقبة

Berkata ashhab kami : jika seorang yang berpuasa berbuka di siang hari bulan ramadhon dengan melakukan sesuatu selain jima’ tanpa udzur dalam keadaan sengaja, tanpa paksaan dan mengetahui bahwa makan, minum, memasukkan air ke dalam hidung, menyentuh tubuh wanita selain kemaluannya (tidak sampai penetrasi) dan keluar mani, onani sehingga keluar mani maka berdosa dan wajib baginya mengqadha dan menahan semua yang membatalkan puasa di sisa waktu siang harinya sampai terbenamnya matahari dan tidak wajib baginya kafarat udzma yaitu memerdekakan seorang budak..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal. 358 | Syarif

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ومن أكل أو شرب أو احتجم أو استعط أو أدخل إلى جوفه شيئا من أي موضع كان أو قبل فأمنى أو أمذى أو كرر النظر فأنزل أي ذلك فعل عامدا وهو ذاكر لصومه فعليه القضاء بلا كفارة إذا كان صوما واجبا

Seseorang yang makan, minum, berbekam, memasukan air ke hidung, memasukkan sesuatu ke perut melalui tempat masuk manapun, mencium wanita lalu keluar mani atau madzi, melihat wanita berulang kali lalu keluar mani dan melakukan semua hal tersebut dengan sengaja dan sadar sedang berpuasa maka wajib baginya mengqadha tanpa kafarat jika puasa itu adalah puasa wajib..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 4 hal. 349 | Syarif

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

ولا تجب الكفارة بغير الجماع كأكل وشرب ونحوهما في صيامِ رمضان أداء ; لأنه لم يرد به نص وغير الجماع

Tidak wajib membayar kafarat selain membatalkan puasa dengan jima. Makan dan minum atau sepertinya di bulan ramadhan tidak wajib membayar kafarat dikarenakan selain jima tidak ada nash yang menjelaskan tentang kafarat..

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 2 hal. 327 | Imam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولا قضاء إلا على خمسة فقط: وهم الحائض والنفساء، فانهما يقضيان أيام الحيض والنفاس، لا خلاف في ذلك من أحد، والمريض، والمسافر سفرا تقصر فيه الصلاة، لقول الله تعالى (شهر رمضان الذى أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر) والمتقئ عمدا، بالخبر الذى ذكرنا قبل.... ولا كفارة على من تعمد فطرا في رمضان بما لم يبح له

Tidak ada kewajiban qadha melainkan untuk kelima orang saja dan mereka adalah : wanita yang haid dan nifas, keduanya mengqadha hari-hari yang mereka terkena haid dan nifas dan tidak ada seorangpun yang berbeda pendapat dalam masalah ini. Wajib qadha juga bagi seorang yang sakit dan musafir yang safar atau perjalanannya menempuh jarak yang dibolehkannya mengqashar shalat sebagaimana firman Allah Ta’ala : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah: 185). Orang yang muntah dengan disengaja sebagaimana hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya... Tidak wajib kafarat terhadap siapa yang sengaja membatalkan puasa dengan apa-apa yang tidak boleh dilakukan disaat berpuasa..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 185 | Faisal

Baca Lainnya :

Hukum Puasa Ramadhan Bagi Wanita Yang Hamil Dan Menyusui
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 30 April 2015, 09:43 | published
Tua Renta Tak Mampu Puasa, Apakah Wajib Bayar Fidyah?
Muhamad Amrozi | 28 April 2015, 06:43 | published
Ukuran memberi makan dalam kafarat jima`
Muhammad Syarif Hidayatullah | 5 May 2015, 09:44 | published
Apa yang Wajib bagi Orang yang Meninggal dan Memiliki Hutang Puasa?
Tajun Nashr, Lc | 10 September 2015, 09:44 | draft
Mengulangi Jima Siang Ramadhan, Berapa Banyak Kafaratnya?
Muhamad Amrozi | 8 May 2015, 05:45 | published
Jima' Siang Ramadhan, Yang Wajib Membayar Kafarat Hanya Suami?
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 7 May 2015, 09:45 | published
Belum Qadha Puasa Sampai Ramadhan Berikutnya. Bagaimana Hukumnya?
Muhammad Aqil Haidar | 9 May 2015, 09:45 | published
Siapakah wali yang harus mengqodho puasa mayit?
Muhammad Syarif Hidayatullah | 21 May 2015, 09:46 | published
Hukum Makan dan Minum Dengan Sengaja Di Bulan Puasa, Apakah Wajib Kafarat ?
Faisal Reza Amaradja | 25 April 2015, 22:07 | published
Ukuran Memberi Makan Dalam Kafarah dan Bolehkah Menggantinya Dengan Uang ?
Faisal Reza Amaradja | 2 May 2015, 23:04 | published
Apa Saja Kafarah Membatalkan Puasa Dengan Sengaja Berjima di Bulan Ramadhan? Apakah Berurutan Atau Boleh Memilih Salah Satu?
Faisal Reza Amaradja | 6 May 2015, 20:55 | published