|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فلا يجوز لأحد أن يضحي قبل طلوع الفجر الثاني من اليوم الأول من أيام النحر ويجوز بعد طلوعه سواء كان من أهل المصر أو من أهل القرى ، غير أن للجواز في حق أهل المصر شرطا زائدا وهو أن يكون بعد صلاة العيد ، لا يجوز تقديمها عليه عندنا

maka tidak boleh bagi seorang pun yang menyembelih hewan qurban sebelum terbitnya fajar ke dua pada hari pertama dari hari - hari qurban, dan boleh setelah terbitnya fajar bagi penduduk luar maupun penduduk setempat, hanya saja bagi penduduk luar ada satu syarat tambahan yaitu penyembelihan harus dilakukan setelah sholat ied, tidak boleh mendahuluinya itu menurut kami. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 10 hal. 288 | Hamam

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

يذبح الإِمَام بالمصلى بعد الصَّلَاة ليراه النَّاس فيذبحوا بعده فَلَا تجزي من ذبح قبل الصَّلَاة وَلَا قبل ذبح الإِمَام بعد الصَّلَاة

Seorang imam hendaknya menyembelih dekat tempat shalat, agar dilihat oleh orang-orang. Kemudian setelah itu barulah mereka menyembelih hewan qurbannya. Maka tidak sah orang yang menyembelih sebelum shalat ied atau sebelum imam menyembelih hewan qurban setelah shalat..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 125 | Wahab

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

وهو مذهب الشافعي إن أول وقتها في الأمصار والقرى للحاضر والمسافر واحد، وهو معتبر بوقت الصلاة لا بفعلها، فإذا طلعت الشمس وارتفعت حتى خرجت عن كراهة التنفل بالصلاة ومضى بعد ذلك قدر ركعتين وخطبتين دخل وقت النحر، وجاز ذبح الأضحية فيه سواء صلى الإمام في المصر، أو لم يصل

Dalam madzhab Imam Syafi’i waktu berqurban itu tergantung waktu shalat Bukan pelaksanaanya, bagi musafir maupun yang menetap. Dan apabila matahari mulai terbit dan meninggi sampai keluar waktu yang di makruhkan untuk melaksanakan sholat sunah di tambah shalat dua rakaat dan dua khutbah maka sudah masuk waktu berqurban .

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 15 hal. 85 | Ali I

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وإذا مضى من نهار يوم الأضحى بقدر صلاة الإمام العيد وخطبته فقد حل الذبح

Dan apabila sudah masuk pagi hari Idul Adha, dengan kadar shalat 'Ied dan khutbahnya imam, maka sudah diperbolehkan untuk menyembelih (qurban)..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 9 hal. 452 | Ali

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

وَاعْلَمْ أَنَّ الصَّحِيحَ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَنَّ وَقْتَ الذَّبْحِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ فَقَطْ فِي حَقِّ أَهْلِ الْأَمْصَارِ وَالْقُرَى مِمَّنْ يُصَلِّي

Dan ketahuilah bahwa yang shahih dalam madzhab (Hanbali) adalah bahwa waktu penyembelihan itu setelah shalad 'Ied bagi penduduk suatu daerah yang ikut mengerjakan shalat 'Ied..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 4 hal. 84 | Ali

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ووقت ذبح الأضحية أو نحرها هو أن يمهل حتى تطلع الشمس من يوم النحر، ثم تبيض وترتفع، ويمهل حتى يمضي مقدار ما يصلي ركعتين يقرأ في الأولى بعد ثمان تكبيرات " أم القرآن " وسورة " ق " وفي الثانية بعد ست تكبيرات " أم القرآن " وسورة: " اقتربت الساعة وانشق القمر " بترتيل ويتم فيهما الركوع والسجود، ويجلس، ويتشهد، ويسلم. ثم يذبح أضحيته أو ينحرها - البادي، والحاضر، وأهل القرى، والصحاري، والمدن سواء في كل ذلك؛ فمن ذبح، أو نحر قبل ما ذكرنا ففرض عليه أن يضحي ولا بد بعد دخول الوقت المذكور، ولا معنى لمراعاة صلاة الإمام، ولا لمراعاة تضحيته.

waktu menyembelih hewan qurban adalah setelah matahari terbit terang dan meninggi, dengan menambah jeda waktu yang cukup untuk shalat ‘ied 2 rakaat dengan bertakbir 8 kali, membaca fatihah dan surat Qaaf pada rakaat pertama, takbir 6 kali, membaca fatihah dan surat al-Qomar pada rakaat kedua dengan tartil, cukup untuk ruku’, sujud, dan duduk bertasyahud. Baru setelah jeda waktu tersebut, yang hendak berqurban – baik penduduk pedalaman, desa, maupun kota - bisa memulai menyembelih hewan qurbannya. Jika ada yang menyembelih hewannya sebelum waktu yang ditentukan, maka ia harus menyembelih lagi karena yang pertama tidak sah. Meskipun ia berpatokan bahwa imam telah selesai sholat (namun sholatnya tidak sesuai dengan yang didiskripsikan di atas, pent.), atau ikut-ikutan imam yang menyembelih hewannya sebelum waktu tersebut, ia tetap wajib menyembelih lagi. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 6 hal. 35 | Wahyudi

Baca Lainnya :