Hukum Memakai Cadar

Fri 29 May 2015 01:00 | 0
Miratun Nisa

Cadar, yang dalam Bahasa Arab dikenal sebagai an-niqob adalah kain yang menutup seluruh wajah wanita atau sebagiannya. Dan tentang status hukum memakainya maka sangat erat kaitannya dengan hukum wajah wanita itu sendiri. Apakah itu termasuk aurat atau tidak.

Lalu bagaimana para ulama fiqih memandang hal tersebut? Berikut penjelasannya:

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وَلِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَا تُغَطِّي وَجْهَهَا بِالْإِجْمَاعِ مَعَ أَنَّهَا عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ فَإِنَّ فِي كَشْفِ الْوَجْهِ مِنْهَا خَوْفَ الْفِتْنَةِ

Ketika berihram, para ulama sepakat bahwa perempuan tidak diperbolehkan menutup wajahnya walaupun wajah adalah aurat yang harus ditutup. Karena dengan memperlihatkan wajah dikhawatirkan terjadi fitnah..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 4 hal. 7 | Nisa

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فَلَا يَحِلُّ النَّظَرُ لِلْأَجْنَبِيِّ مِنْ الْأَجْنَبِيَّةِ الْحُرَّةِ إلَى سَائِرِ بَدَنِهَا إلَّا الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ لِقَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى {قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ} [النور: 30] إلَّا أَنَّ النَّظَرَ إلَى مَوَاضِعِ الزِّينَةِ الظَّاهِرَةِ وَهِيَ الْوَجْهُ وَالْكَفَّانِ رُخِّصَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31] وَالْمُرَادُ مِنْ الزِّينَةِ مَوَاضِعُهَا وَمَوَاضِعُ الزِّينَةِ الظَّاهِرَةِ الْوَجْهُ وَالْكَفَّانِ

Dan tidak diperbolehkan bagi seorang laki-laki melihat seluruh badan seorang wanita merdeka yang bukan mahram kecuali wajah dan kedua telapak tangan sebagaimana Allah SWT berfirman:" dan katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya" (QS.An-Nur 30). Kecuali melihat kepada perhiasan yang biasa nampak yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT: "dan janganlah kalian menampakkan perhiasan kalian kecuali yang biasa nampak" (QS.An-Nur 31). Dan adapun yang dimaksud dengan perhiasan disini adalah anggota badan yang biasa nampak yaitu wajah dan kedua telapak tangan..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 5 hal. 121 | Nisa

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قَالَ - رَحِمَهُ اللَّهُ - (وَبَدَنُ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إلَّا وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا وَقَدَمَيْهَا

Seluruh badan wanita merdeka adalah aurat kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kakinya..

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 96 | Nisa

Dari pemaparan ketiga ulama diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam madzhab Al-Hanafiyah terjadi perbedaan pendapat terkait apakah wajah wanita aurat atau bukan.

Pertama sebagaimana yang ditulis As-Sarakhsi bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang mencakup didalamnya wajah. Namun dikecualikan ketika berihram maka wanita tidak diperbolehkan menutup wajahnya.

Kedua sebagaimana yang dituliskan Al-Kasani bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukanlah aurat.

Ketiga sebagaimana yang ditulis Az-Zaila’i bahwa wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki bukanlah aurat. Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

إنْ خُشِيَ مِنْ الْمَرْأَةِ الْفِتْنَةُ يَجِبُ عَلَيْهَا سَتْرُ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ

Jika ditakutkan fitnah dari wanita, maka diwajibkan untuk menutup wajahnya dan kedua telapak tangannya..

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 0 hal. 0 | Nisa

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

الضَّرْبُ] الْأَوَّلُ: نَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى الْمَرْأَةِ، فَيَحْرُمُ نَظَرُهُ إِلَى عَوْرَتِهَا مُطْلَقًا، وَإِلَى وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا إِنْ خَافَ فِتْنَةً. وَإِنْ لَمْ يَخَفْ، فَوَجْهَانِ، قَالَ أَكْثَرُ الْأَصْحَابِ لَا سِيَّمَا الْمُتَقَدِّمُونَ: لَا يَحْرُمُ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: (وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا) [الْأَحْزَابِ: 31] وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ، لَكِنْ يُكْرَهُ، قَالَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَغَيْرُهُ. وَالثَّانِي: يَحْرُمُ, قَالَهُ الِاصْطَخْرِيُّ وَأَبُو عَلِيٍّ الطَّبَرِيُّ، وَاخْتَارَهُ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ، وَالْإِمَامُ، وَبِهِ قَطَعَ صَاحِبُ (الْمُهَذَّبِ) وَالرُّويَانِيُّ

Seorang laki-laki diharamkan melihat aurat wanita secara mutlak juga tidak dibolehkan memandang wajah dan kedua telapak tangan jika khawatir terjadi fitnah. Tapi jika bebas dari fitnah maka ada dua pendapat: yang pertama tidak diharamkan, dan ini adalah pendapat sebagian besar ulama madzhab ini terutama para ulama pendahulu As-Syafiiyah, dengan dalil firman Allah SWT: ”dan janganlah para wanita menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak” dan itu ditafsirkan sebagai wajah dan telak tangan. Walaupun itu tidak diharamkan tetapi hal itu makruh menurut Syaikh Abu Hamid dan lainnya. Sedangkan pendapat yang kedua adalah tetap diharamkan meskipun itu bebas dari fitnah dan pendapat yang kedua ini adalah pendapat Ishthahriy, Abu Ali Ath-Thabari, Syaikh Abu Muhammad, Imam Al-Haramain, juga penulis kitab Al-Muhadzab (Asy-Syairozi) dan Ar-Ruyani..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 21 | Nisa

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

فَصْلٌ نَظَرُ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ) فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاظِرِ مِنْ نَفْسِهِ (مِنْ الْمَرْأَةِ إلَى الرَّجُلِ وَعَكْسِهِ جَائِزٌ) وَإِنْ كَانَ مَكْرُوهًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي الثَّانِيَةِ {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31] وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ

Hukum melihat wajah dan kedua telapak tangan saat bebas dari fitnah itu boleh, baik itu wanita yang memandang laki-laki ataupun sebaliknya. Namun meskipun boleh tapi makruh sebagaimana firman Allah SWT: ”dan janganlah para wanita menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak” dan itu ditafsirkan sebagai wajah dan telak tangan..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 112 | Nisa

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

وَ) عَوْرَةُ (الْحُرَّةِ) وَلَوْ غَيْرَ مُمَيِّزَةٍ وَالْخُنْثَى الْحُرِّ (مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ)

Dan aurat wanita yang merdeka terlepas apakah ia bukan mumayizah ataupun khuntsa (perempuan yang mempunyai alat kelamin ganda) adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan..

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 2 hal. 111 | Nisa

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

وَلَا يَنْظُرُ) مِنْ الْحُرَّةِ (غَيْرَ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ)

Seorang laki-laki yang akan meminang wanita merdeka, ia tidak boleh memandang kepadanya kecuali wajah dan telapak tangan..

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 208 | Nisa

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وقال بعض أصحابنا: المرأة كلها عورة؛ لأنه قد روي في حديث عن النبي - صلى الله عليه وسلم -: «المرأة عورة

Dan sebagian dari ulama kami berkata: bahwa perempuan seluruhnya adalah aurat, telah diriwayatkan dalam hadits nabi SAW berkata: bahwa perempuan itu aurat..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 431 | Nisa

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ أَنَّ الْوَجْهَ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ. وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ

Pendapat yang benar dari mazhab kami adalah bahwa wajah bukan termasuk aurat..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1 hal. 452 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

فَأَمَرَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى بِالضَّرْبِ بِالْخِمَارِ عَلَى الْجُيُوبِ، وَهَذَا نَصٌّ عَلَى سَتْرِ الْعَوْرَةِ، وَالْعُنُقِ، وَالصَّدْرِ. وَفِيهِ نَصٌّ عَلَى إبَاحَةِ كَشْفِ الْوَجْهِ

Dalam ayat tersebut Allah SWT menyuruh wanita untuk menjulurkan kerudung mereka sampai menutup dada dan ini adalah dalil bahwa wajibnya menutup aurat diantaranya leher dan dada. Dan ini juga menjadi dalil atas bolehnya wanita memperlihatkan wajahnya.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 247 | Nisa

Wallahu a'lam bishshawab

Baca Lainnya :

Batasan Aurat Wanita Di hadapan Mahramnya
Ipung Multiningsih | 16 November 2015, 05:22 | published
Apakah Suara Wanita Itu Aurat?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:23 | draft
Aurat Wanita Di Hadapan Laki-Laki Bukan Mahram
Siska | 12 September 2015, 13:23 | draft
Hukum Memakai Cadar
Miratun Nisa | 29 May 2015, 01:00 | published
Apakah Kedua Telapak Kaki Termasuk Aurat?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:24 | draft