Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina

Thu 7 May 2015 13:22 | 0
Zuria Ulfi

Dewasa ini, umat islam semakin jauh dari nilai-nilai agama ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang semakin tak terbendung, menjadikan manusia bebas melakukan apapun tanpa batas dan tidak memperhatikan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Sehingga kemaksiatan dan kejahatan semakin merajalela dan hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak lagi memiliki batasan antara keduanya.

Pergaulan bebas inilah yang kini menjadi trend hidup remaja masa kini, sehingga banyak kita dapati perempuan-perempuan yang hamil diluar nikah dan perbuatan zina yang bahkan terang-terangan dilakukan di depan umum.

Lalu apabila mereka ingin menikah dan bertaubat dari perbuatan maksiat yang dilakukan, bagaimanakah hukumnya? Adakah larangan syari’at dalam masalah ini?

Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat terhadap kebolehan dalam kehalalan pernikahannya. Jumhur ulama membolehkan menikahi wanita yang pernah berzina walaupun dengan syarat-syarat yang berbeda.

Ulama dari kalangan al-Hanafiyah mengatakan bahwa tidak adanya larangan menikahi wanita yang pernah berzina. Namun ulama Malikiyah dan Syafi'iyah bersepakat bahwa hukum menikahinya adalah makruh tetapi tidak harus difasakh. Sedangkan dalam madzhab Hambali mensyaratkan harus istibro' ar-rahim atau dipastikan tidak adanya janin dalam rahimnya. Yang menarik adalah pendapat dari ulama madzhab Azh-Zhahiriyah yang melarang menikahi wanita tersebut kecuali jika ia benar-benar bertaubat. Hal ini berdasarkan pada firman Allh swt dalam al-qur’an surah An-Nuur : 3

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Laki-laki penzina tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita penzina. Dan wanita penzina tidak akan menikah kecuali dengan lelaki penzina. Dan mereka diharamkan bagi orang-orang beriman” (An-Nuur : 3)

 

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

وكذا إذا رأى امرأة تزني فتزوجها حل له وطؤها قبل أن يستبرئها عندهما. وقال محمد: لا أحب له أن يطأها ما لم يستبرئها وعند زفر: لا يصح العقد عليها ما لم تحض ثلاث حيض

Begitu juga ketika seorang (laki-laki) melihat perempuan yang sedang berzina kemudian ia menikahinya, maka dibolehkan baginya untuk menggaulinya bahkan sebelum diketahui tidak adanya janin dalam rahimnya. Berbeda dengan pendapat Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang mengatakan bahwa ia tidak menyukai perbuatan tersebut (menggauli istrinya) sampai jelas bahwa tidak ada janin didalam rahimnya. Sedangkan menurut Zufar : tidak sah akad (nikahnya) sampai ia mengalami tiga kali masa haidh.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 246 | Isna

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

أي حل نكاح الموطوءة بزنا حتى لو رأى امرأة تزني فتزوجها جاز وله أن يطأها وهذا صريح بأن نكاح الزانية يجوز

Diperbolehkan menikahi seorang wanita yang telah berzina bahkan disaat seorang laki-laki melihat seorang wanita sedang berzina, kemudian ia menikahinya maka hal tersebut diperbolehkan. Dan dibolehkan baginya untuk menggaulinya. dan pendapat inilah yang jelas menurut madzhab kami, yakni dibolehkannya menikahi wanita yang pernah berbuat zina.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 114 | Isna

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Istidzkar sebagai berikut :

وكره مالك نكاح الزانية من غير تحريم

Menurut Imam Malik, hukum menikahi seorang pezina adalah makruh namun beliau tidak mengharamkannya.

Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, jilid 4 hal. 259 | Ipung

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وأما المحرم فهوطلاق البدع هواثنان أحدهما طلاق المدخول بها في حال الحيض من غيرحمل

Adapun yang diharamkan adalah talak bid’iy salah satunya adalah talak wanita yang sedang haidh.

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 17 hal. 73 | Sarah

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

مذهبنا: أن نكاح الزانية صحيح، ولكنا نكره ذلك

Menurut madzhab kami, menikahi perempuan pezina adalah sah walaupun hukumnya makruh.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 12 hal. 219 | Maryam

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ما المحظور، فالطلاق في الحيض، أو في طهر جامعها فيه، أجمع العلماء في جميع الأمصار وكل الأعصار على تحريمه، ويسمى طلاق البدعة؛ لأن المطلق خالف السنة، وترك أمر الله تعالى ورسوله

Adapun yang diharamkan adalah mentalak wanita dalam keadaan haidh, atau dalam keadaan suci setelah berhubungan. Maka hal tersebut menjadi haram menurut kesepakatan ulama, karena menyalahi sunna dan melanggar ketentuan Allah Swt sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 364 | Siska

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Majmu' Fatawa sebagai berikut :

نكاح الزانية حرام حتى تتوب سواء كان زنى بها هو أو غيره. هذا هو الصواب بلا ريب

Haram hukumnya menikahi seorang wanita pezina sampai ia benar-benar bertaubat, bagi laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lain.

Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 32 hal. 109 | Azizah

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

من أراد طلاق امرأة له قد وطئها: لم يحل له أن يطلقها في حيضتها، ولا في طهر وطئها فيه

Dan bagi mereka yang ingin mentalak istrinya setelah berjima’, maka tidak dihalalkan baginya (suami) mentalak istrinya pada saat haidh dan tidak juga saat suci setelah berjima’.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 358 | Zuria

Wallahu a'lam

Baca Lainnya :

Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina
Siti Sarah Fauzia | 12 September 2015, 13:18 | draft
Hukum Nikah Untuk Sementara
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:19 | draft
Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina
Zuria Ulfi | 7 May 2015, 13:22 | published
Nikah Dengan Niat Talaq
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:19 | draft
Suami/istri Murtad, Fasakh atau Talaq?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:13 | draft
Hukum Menikah Dengan Wanita Ahli Kitab
Isnawati | 18 July 2015, 13:20 | published
Hukum Nikah Siri
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:21 | published
Hukum Nikah Syighar
Isnawati | 10 October 2015, 13:21 | published
Nikah Muhallil
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:21 | draft
Jika seorang istri masuk islam, namun suaminya tidak, bagaimana status perkawinan mereka?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:09 | draft
Hukum menikah waktu ihram:
Isnawati | 31 October 2015, 06:25 | approved
Apakah calon suami harus “rasyid”?
Qathrin Izzah Fithri | 14 November 2015, 23:23 | published
Dinikahkan Oleh Bukan Walinya, Bagaimana Status Pernikahannya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:26 | approved
Bolehkah Suami Mentalak Istri dan Langsung Menikahi Adiknya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:54 | approved
Menikahi Wanita dalam Masa Iddah dan Menggaulinya, Bagaimana Hukumnya?
Ipung Multiningsih | 31 October 2015, 09:39 | approved