Hukum Nikah Syighar

Sat 10 October 2015 13:21 | 0
Isnawati

Pada bab ini akan dibahas apa itu nikah syigar, dan bagaimana hukumnya? Adapun hukumnya, para ulama bersepakat tentang ketidak bolehannya, hanya saja mereka berbeda mengenai maksud nikah syighar yang dilarang tersebut. Berikut paparan ulama masing-masing madzhab tentang nikah syighar:

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

والشّغار أن يقول الرّجل للرّجل: أزوّجك أختي على أن تزوّجني أختك على أن يكون مهر كلّ واحدة منهما نكاح الأخرى، أو قالا ذلك في ابنتيهما أو أمتيهما، ثمّ النّكاح بهذه الصّفة يجوز عندنا، ولكلّ واحدة منهما مهر مثلها

Nikah syighar adalah perkataan seorang laki-laki kepada laki-laki yang lain : saya nikahkan kamu dengan saudari perempuan saya, dengan mahar kamu nikahkan saya dengan adikmu. Jadi mahar masing-masing dari mereka itu adalah menikahkan pihak yang lain. atau perkataan masing-masing dari keduanya: saya nikahkan kamu dengan anakku, atau ibuku. Kemudian hukum nikah seperti ini boleh menurut madzhab kami, dan setiap perempuan dari mereka mendapatkan mahar standar..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 105 | Fatimah

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وكذا لو تزوّج المسلم المسلمة على ميتة أو دم أو خمر أو خنزير لم تصحّ التّسمية، لأنّ الميتة والدّم ليسا بمال في حقّ أحد، والخمر والخنزير ليسا بمال متقوّم في حقّ المسلم فلا تصحّ تسمية شيء من ذلك مهرا، وعلى هذا يخرج نكاح الشّغار، وهو أن يزوّج الرّجل أخته لآخر على أن يزوّجه الآخر أخته، أو يزوّجه ابنته أو يزوّجه أمته، وهذه التّسمية فاسدةٌ؛ لأنّ كلّ واحد منهما جعل بضع كلّ واحدة منهما مهر الأخرى، والبضع ليس بمال ففسدت التّسمية، ولكلّ واحدة منهما مهر المثل؛ لما قلنا: والنّكاح صحيحٌ عندنا

Begitu juga jika seorang lelaki menikahi seorang perempuan dengan mahar bangkai, atau darah, atau khamr, atau babi, maka penyebutan benda-benda itu sebagai mahar tidak sah, karena bangkai, dan darah bukanlah bentuk harta yang bisa dimiliki oleh seseorang, begitu pula khamr dan babi bukanlah suatu bentuk harta benda yang bisa dimiliki oleh seseorang, maka tidak sah pula penyebutannya sebagai mahar. berdasarkan hal itu, keluarlah pengertian apa itu nikah syighar. Yaitu seorang lelaki yang menikahkan saudari perempuannya, atau anak perempuannya atau budaknya untuk seorang lelaki yang lain. Penyebutan semacam ini sebagai mahar adalah fasid (rusak), karena setiap pihak menjadikan pihak yang lain mahar untuk dirinya, sedangkan 'farj' bukanlah bentuk harta benda, sehingga tidak benar atau rusaklah penyebutannya sebagai mahar. Seharusnya setiap wanita itu dapat mahar standar, yang dengan begitu menjadi sah nikahnya meurut madzhab kami .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 278 | Fatimah

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

أمّا نكاح الشّغار وهو أن يزوّج الرّجل ابنته أو أخته أو أمته على أن يزوّجه الآخر ابنته أو أخته أو أمته ليكون أحد العقدين عوضا عن الآخر؛ فلأنّه سمّى ما لا يصلح مهرا إذ المسمّى ليس بمال فوجب مهر المثل....ولنا أنّ النّكاح لا يبطل بالشّروط الفاسدة

Sedangkan nikah syighar adalah seorang laki-laki yang menikahkan anak perempuannya atau saudarinya atau budaknya dengan mahar pihak yang ia nikahkan juga menikahkan dirinya dengan anaknya atau saudarinya atau budaknya, rusaknya hal ini dikarenakan mereka menyebutkan sesuatu yang tidak sah penyebutannya sebagai mahar, karena itu bukanlah harta benda. maka wajib bagi wanitanya mendapat mahar standar... Dalam madzhab kami, pernikahan itu tidak batal dengan syarat-syarat yang rusak.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 145 | Fatimah

Al-Qairawani (w. 386 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya An-Nawadir wa Az-Ziyadat ’Ala Ma Fil Mudawanah Min Ghairiha Minal Ummahat sebagai berikut :

ونهى الرسول عليه السلام عن نكاح المتعة؛ ونكاح المحرم ونكاح المحلل، ونكاح الشغار. فممن ذكرنا فى هذا الباب مؤبدات التحريم

Rasulullah saw melarang nikah mut'ah, menikahi mahram, nikah muhallil, dan nikah shigar. Semua yang disebutkan dalam bab ini, hukumnya haram selamanya. .

Al-Qairawani, An-Nawadir wa Az-Ziyadat ’Ala Ma Fil Mudawanah Min Ghairiha Minal Ummahat, jilid 4 hal. 504 | Isna

Al-'Adhwi (w. 1189 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani sebagai berikut :

ومحل فساد نكاح الشغار إذا توقف نكاح أحدهما على نكاح الآخر، وأما إن لم يتوقف وسميا لكل واحدة أو دخلا على التفويض فلا فساد

Poin rusaknya nikah syighar, ketika suatu pernikahan tergantung atau terikat atas pernikahan yang lain. Namun, ketika pernikahan tidak saling terkait dengan yang lain, kedua belah pihak yang berakad sama-sama menyebutkan mahar, atau adanya pertukaran mahar. maka akad nikahnya tidak rusak.

Al-'Adhwi, Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani, jilid 2 hal. 52 | Isna

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

إذ لا قائل بجواز نكاح الشغار.

Tidak ada seorang pun yang membolehkan nikah shigar..

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 239 | Isna

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

والشغار ما وصفه الشافعي بقول الرجل قد زوجتك بنتي أو وليتي على أن تزوجني بنتك أو وليتك على أن تضع كل واحد منهما صداقالأخرى، أو يقول على أن صداق كل واحدة منهما بضع الأخرى، فهذا هو الشغار المنهي عنه فإذا تقرر أن نكاح الشغار ما وصفنا فعقد النكاح فيه باطل.

Nikah syighar itu seperti apa yang telah di jelaskan oleh Imam Syafi'i yaitu perkataan seorang laki-laki: bahwa saya telah menikahkan kamu dengan anak saya atau siapapun yang bisa saya walikan dengan syarat kamu harus menikahkan anakmu denganku atau siapapun yang bisa kamu walikan dengan mahar farj dari masing-masing wanita, atau ia berkata: Bahwa maharnya adalah farj dari masing-masing wanita yang dinikahkan. Inilah yang dinamakan nikah syighar yang terlarang. Apabila nikah syighar ini terjadi seperti apa yang telah kami jelaskan, nikahnya bathil .

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 232 | Azizah

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ولا يجوز نكاح الشغار، وهو أن يزوج الرجل ابنته أو أخته من رجل على أن يزوجه ذلك ابنته أو أخته، ويكون بضع كل واحدة منهما صداقا للاخرى …فأما إذا قال زوجتك ابنتى على أن تزوجني ابنتك صح النكاحان، لانه لم يحصل التشريك في البضع، وإنما حصل الفساد في الصداق، وهو أنه جعل الصداق أن يزوجه ابنته فبطل الصداق وصح النكاح… وإن قال زوجتك ابنتى بمائة على أن تزوجني ابنتك بمائة صح النكاحان ووجب مهر المثل، لان الفساد في الصداق وهو شرطه مع المائة تزويج ابنته، فأشبه المسألة قبلها. بمائة على أن تزوجني ابنتك بمائة ويكون بضع كل واحدة منهما صداقا للاخرى ففيه وجهان )أحدهما( يصح لان الشغار هو الخالى من الصداق، وههنا لم يخل من الصداق )والثانى( لا يصح وهو المذهب، لان المبطل هو التشريك في البضع، وقد اشترك في البضع لانه حصل في البضع تشريك فلم يصح العقد مع ذلك، كما لو زوج ابنته من رجلين وبيان التشريك أنه جعل البضع ملكا للزوج وابنته، لانه إذا قال زوجتك ابنتى فقد ملك الزوج بضعها، فإذا قال: على أن تزوجني ابنتك، فيكون بضع كل واحدة منهما مهرا للاخرى

Nikah syighar tidak boleh dilakukan, yaitu seorang laki-laki menikahkan anak perempuannya atau saudari perempuannya dengan seorang laki-laki, agar laki-laki tersebut juga menikahkan anak perempuannya atau saudara perempuannya kepadanya, dengan menjadikan ‘farj’ dari masing-masing perempuan tersebut sebagai mahar bagi yang lain…

Adapun jika seorang laki-laki berkata: Saya nikahkan kamu dengan anak perempuan saya, akan tetapi kamu juga nikahkan saya dengan anak perempuan kamu, maka kedua pernikahan tersebut sah, karena tidak ada kepemilikan bersama atas ‘farj’. Namun, ada fasad di mahar tersebut, yaitu dengan menjadikan pernikahan anak perempuannya sebagai mahar, maka maharnya menjadi bathil dan nikahnya tetap sah.

Dan jika seorang laki-laki berkata: Saya nikahkan kamu dengan anak perempuan saya dengan seratus (juta misalnya), akan tetapi kamu nikahkan anak perempuan kamu dengan saya dengan mahar seratus juga, maka kedua pernikahan tersebut sah dan diwajibkan dalam pernikahan tersebut ‘mahar mitsl’ (mahar standar). Karena adanya fasad(kerusakan) di dalam mahar dengan adanya syarat menikahkan anak perempuannya, selain mahar yang seratus tadi. Kasus macam ini mirip dengan masalah sebelumnya.

Sedangkan memberikan mahar seratus dengan syarat kamu nikahkan saya dengan anak perempuanmu dengan mahar seratus juga dan menjadikan ‘farj’ masing-masing perempuan mahar bagi yang lain, maka ada dua pendapat: Pertama : Sah, karena dalam pernikahan syighar tidak terdapat mahar, sedangkan dalam hal ini terdapat mahar.

Kedua : Tidak sah menurut mazhab, penyebab bathilnya yaitu adanya tasyrik dalam farj... Yang dimaksud ‘tasyrik’ disini yaitu menjadikan kepemilikan ‘farj’ atas suami dan anak perempuannya. Karena ketika seseorang berkata: Saya nikahkan kamu dengan anak perempuan saya, maka farj anak perempuannya menjadi milik suaminya. Dan jika ia berkata : akan tetapi kamu menikahkan saya dengan anak perempuanmu. Maka ‘farj’ masing-masing perempuan menjadi mahar bagi yang lain. .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 245 | Qathrin

Madzhab ini, hampir mirip pendapatnya dengan madzhab hanafiyah. Dimana diharamkannya pernikahan tersebut jika tidak ada mahar yang berbentuk harta, baik itu mahar standar atau lebih, melainkan menjadikan farj dari setiap wanita yang dinikahkan sebagai mahar. Sehingga yang terjadi adalah pertukaran farj masing-masing wanita sebagai mahar dalam pernikahan oleh dua orang yang berakad. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

فهذا نكاح الشغار، وهو باطل

Ini adalah nikah syighar, dan dia adalah pernikahan yang bathil. .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 41 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin sebagai berikut :

كاح الشغار وهو زوجتكها على أن تزوجني بنتك وبضع كل واحدة صداق الأخرى فيقبل فإن لم يجعل البضع صداقا فالأصح الصحة ولو سميا مالا مع جعل البضع صداقا بطل في الأصح

Nikah syighar itu ialah ketika seseorang berkat: Aku nikahkan kamu dengannya dengan syarat kamu harus menikahkan anakmu denganku dan maharnya adalah farj dari masing-masing wanita. Lalu diterima. Kalau seandainya farj disini tidak dijadikan mahar maka nikahnya sah. Kalau yang disebutkan adalah harta tapi yang dimaksud adalah farj maka nikahnya bathil .

An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 1 hal. 205 | Azizah

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

لو قال (زوجتك ابنتي على أن تزوجني ابنتك ويكون بضع كل) منهما (صداق الأُخرى فقال تزوجتها وزوجتك ابنتي) على ذلك (لم يصح وهو نكاح الشغار)

Jika seorang laki-laki berkata (saya nikahkan anak perempuan saya akan tetapi kamu nikahkan saya dengan anak perempuanmu’ dan menjadikan ‘farj’ masing-masing) dari kedua perempuan (mahar bagi yang lain kemudian laki-laki yang lain menjawab ‘saya menikahi anak perempuanmu dan saya nikahkan kamu dengan anak perempuan saya) ...(tidak sah pernikahan tersebut dan termasuk nikah syighar) .

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 120 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

(ولا) يصح (نكاح الشغار) للنهي عنه في خبر الصحيحين من حديث نافع عن ابن عمر …نحو قول الولي للخاطب (زوجتكها) أي بنتي مثلا (على أن تزوجني بنتك وبضع كل واحدة) منهما (صداق الأخرى فيقبل)

Nikah syighar itu tidak sah karena telah dilarang dalam hadist shahih Bukhari dan Muslim, dari hadist Nafi' dari Ibnu Umar., yaitu seperti perkataan wali kepada seseorang: " Aku nikahkan kamu dengan anak saya, dengan syarat kamu harus menikahkan anakmu denganku dengan mahar farj dari masing-masing wanita mereka sebagai mahar untuk yang lain. .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 232 | Azizah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

أن يزوجه وليته بشرط أن يزوجه الآخر وليته، فهذا نكاح الشغار. ولا تختلف الرواية عن أحمد في فساده

Seorang wali yang menikahkan wanita dengan seorang laki-laki dengan mensyaratkan laki-laki tersebut juga menikahkan wanita dalam perwaliannya kepada dia (wali pertama). Inilah nikah syighar, yang tidak ada perbedaan dalam riwayat Ahmad tentang fasadnya (rusaknya). .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 41 | Ipung

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولا تختلف الرّواية عن أحمد، في أنّ نكاح الشّغار فاسد …ولنا، ما روى ابن عمر، أنّ رسول اللّه - صلّى اللّه عليه وسلّم - «نهى عن الشّغار»متّفق عليه...ولأنّه جعل كلّ واحد من العقدين سلفا في الآخر، فلم يصحّ،… وقولهم: إنّ فساده من قبل التّسمية. قلنا: لا بل فساده من جهة أنّه وقفه على شرط فاسد، أو لأنّه شرط تمليك البضع لغير الزّوج، فإنّه جعل تزويجه إيّاها مهرا للأخرى

Tidak ada perbedaan dalam riwayat Imam Ahmad bahwa nikah syighar adalah fasid… Dan argumen kami, apa yang telah diriwayatkan oleh ibnu umar, sesungguhnya Rasulullah melarang nikah syighar…. Karena dalam pernikahan tersebut setiap pihak menjadikan dua akad tersebut sebagai ganti bagi yang lain, dan ini tidak sah. Dan ada yang berpendapat bahwa rusaknya pernikahan tersebut disebabkan oleh penamaan mahar dalam akad.

Sedangkan menurut madzhab kami: bukan hal tersebut yang merusak nikah, namun fasidnya dari segi syarat yang fasid, karena setiap pihak mensyaratkan untuk memiliki farj, atau karena ia menikahkan wanitanya dengan laki-laki tersebut sebagai mahar untuk yang lain .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 176 | Ipung

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Kubra sebagai berikut :

والصّواب أنّ نكاح الشّغار فاسد، كما نهى عنْه النّبيّ - صلّى اللّه عليْه وسلّم –

Yang benar: bahwa nikah syighar adalah fasid sebagaimana yang dilarang oleh rasulullah saw.

Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa Al-Kubra, jilid 3 hal. 205 | Maryam

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

(الْقسْم الثّاني: فاسد. وهو ثلاثة أنْواع: أحدها: ما يبْطل النّكاح. وهو ثلاثة أشْياء. أحدها: نكاح الشّغار. وهو أنْ يزوّجه وليّته على أنْ يزوّجه الْآخر وليّته. ولا مهْر بيْنهما) . هذا الْمذْهب.

Syarat dalam pernikahan bag 2: Syarat yang fasid. Terbagi menjadi 3 macam: salah satunya dapat membatalkan pernikahan, ia juga terbagi menjadi 3: salah satunya adalah nikah shighar. Bentuknya: seorang perempuan yang dinikahkan oleh walinya dengan seorang laki-laki dengan syarat wali tersebut juga dinikahkan dengan anaknya /wanita yang berada didalam tanggungan laki-laki tersebut dengan tanpa mahar.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 159 | Maryam

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

فصل القسم الثّاني من الشّروط في النّكاح فاسد وهو نوعان أحدهما ما يبطل النّكاح، وهو أربعة أشياء أحدها نكاح الشّغار

(fashl, bagian kedua dari syarat-sarat dalam pernikahan yang fasid) Terbagi ke dalam 2 macam, salah satunya apa-apa yang membatalkan pernikahan, yaitu ada 4. Pertama nikah syighar. .

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 92 | Ipung

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسْألة: ولا يحل نكاح الشغار: وهو أنْ يتزوّج هذا ولية هذا على أن يزوّجه الْآخر وليته أيْضا، سواء ذكرا في كلّ ذلك صداقا لكل واحدة منْهما أوْ لإحْداهما دون الْأخْرى، أوْ لمْ يذْكرا في شيء منْ ذلك صداقا، كلّ ذلك سواء يفسخ أبدا، ولا نفقة فيه؛ ولا ميراث، ولا صداق ولا شيْء منْ أحْكام الزوجية، ولا عدة.

Nikah syighar tidak dihalalkan, gambarannya: seorang laki-laki menikahi wanita yang berada dibawah tanggungan sahabatnya dengan syarat ia juga dinikahkan dengan wanita yang berada dibawah tanggungannya. Baik keduanya menyebutkan mahar untuk masing-masing dari dua wanita tersebut maupun mahar itu hanya untuk salah satunya. Ataupun mereka tidak menyebutkan mahar. Pernikahan tersebut harus difasakh selamanya. Tidak ada hak nafkah, hak waris, juga mahar. Bahkan tidak ada hukum suami-istri antara keduanya, dan tidak ada idah bagi si istri. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 118 | Maryam

Wallahu'Alam

Baca Lainnya :

Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina
Siti Sarah Fauzia | 12 September 2015, 13:18 | draft
Hukum Nikah Untuk Sementara
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:19 | draft
Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina
Zuria Ulfi | 7 May 2015, 13:22 | published
Nikah Dengan Niat Talaq
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:19 | draft
Suami/istri Murtad, Fasakh atau Talaq?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:13 | draft
Hukum Menikah Dengan Wanita Ahli Kitab
Isnawati | 18 July 2015, 13:20 | published
Hukum Nikah Siri
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:21 | published
Hukum Nikah Syighar
Isnawati | 10 October 2015, 13:21 | published
Nikah Muhallil
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:21 | draft
Jika seorang istri masuk islam, namun suaminya tidak, bagaimana status perkawinan mereka?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:09 | draft
Hukum menikah waktu ihram:
Isnawati | 31 October 2015, 06:25 | approved
Apakah calon suami harus “rasyid”?
Qathrin Izzah Fithri | 14 November 2015, 23:23 | published
Dinikahkan Oleh Bukan Walinya, Bagaimana Status Pernikahannya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:26 | approved
Bolehkah Suami Mentalak Istri dan Langsung Menikahi Adiknya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:54 | approved
Menikahi Wanita dalam Masa Iddah dan Menggaulinya, Bagaimana Hukumnya?
Ipung Multiningsih | 31 October 2015, 09:39 | approved