Hukum Menikah Dengan Wanita Ahli Kitab

Sat 18 July 2015 13:20 | 0
Isnawati

Islam membolehkan seorang muslim menikahi wanita ahli kitab. Hal itu sebagaimana Allah telah jelaskan dalam surah Al-Maidah: ayat 5: قال تعالى: {وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم} Allah berfirman: Dan dihalakan bagi kalian makanan dari ahli kitab, dan dihalakan bagi mereka makananan dari kalian. Dan dihalalkan bagi kalian wanita-wanita mukminah, dan wanita-wanita ahli kitab. Para ulama membolehkan seorang lelaki muslim menikahi wanita ahli kitab, hanya saja masing-masing madzhab punya kriteria-kriteria tersendiri tentang wanita ahli kitab seperti apa yang sebenarnya boleh dinikahi? Berikut uraian dari ulama masing-masing madzhab:

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

ولا بأس بأن يتزوج المسلم الحرة من أهل الكتاب لقوله تعالى {والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب} [المائدة: 5] الآية، وكان ابن عمر - رضي الله عنهما - لا يجوز ذلك ويقول: الكتابية مشركة، وقد قال الله تعالى {ولا تنكحوا المشركات حتى يؤمن} [البقرة: 221

Boleh hukumnya seorang muslim menikahi seorang wanita merdeka dari kalangan ahli kitab, dengan dalil firman Allah Ta’ala : {Dan perempuan-perempuan ahli kitab} . Meskipun Ibnu Umar tidak membolehkan pernikahan ini, beliau berkata : wanita ahlil kitab itu wanita musyrikah, Allah telah berfirman, (yang artinya) : {Dan Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrikah sampai mereka beriman}. .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 4 hal. 210 | Fatimah

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

(قوله ويجوز تزويج الكتابيات) والأولى أن لا يفعل ولا يأكل ذبيحتهم إلا للضرورة. وتكره الكتابية الحربية إجماعا لانفتاح باب الفتنة من إمكان التعلّق المستدعي للمقام معها في دار الحرب

Boleh seorang laki-laki menikahi wanita ahlul kitab, dan diutamakan tidak menikahnya dan tidak makan sembelehannya kecuali dalam keadaan darurat. Dan ulama bersepakat makruh hukumnya menikahi ahlul kitab harbiyah(yang boleh diperangi), karena akan membuka pintu fitnah, dan adanya kemungkinan bagi suaminya untuk tinggal di dar al harb (Negara yang boleh diperangi).

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 228 | Fatimah

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

ليس لمسلم أن يتزوج مشركة وثنية أو غير وثنية أو مجوسية وحرام عليه وطء هؤلاء بنكاح أو ملك يمين وله أن يتزوج اليهودية والنصرانية وليس له ان يتزوج غيرهما من اهل الذمة وجائز أن يزوج الرجل عبده اليهودي بيهودية أو نصرانية والنصراني بنصرانية ويهودية ولا يجوز نكاح مرتدة ولا يجوز نكاح إماء أهل الكتاب لحر ولا لعبد مسلم

Tidaklah seorang muslim menikahi wanita musyrikah penyembah berhala ataupun tidak, atau wanita majusi. Diharamkan bagi seorang muslim berhubungan intim dengan mereka, baik karena status pernikahan maupun perbudakan. Dibolehkan baginya menikahi wanita yahudi atau wanita nasharani, tidak selain keduanya, meskipun wanita ahli dzimmah (yang dilindungi keselamatannya di negara islam). Dan diperbolehkan juga seorang muslim menikahkan budak yahudinya dengan wanita yahudi atau nashrani, atau menikahkan seorang nashrani dengan wanita nashrani dan wanita yahudi. Tidaklah diperbolehkan menikahi wanita murtad. Tidak juga diperbolehkan budak ahli kitab menikah dengan seorang muslim merdeka ataupun budak muslim..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 2 hal. 543 | Isna

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

وأما الكافرة الكتابية يتزوجها مسلم فيجوز

Adapun wanita ahli kitab, dibolehkan bagi seorang muslim menikahinya.

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 371 | Isna

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

اختلفوا هل له نكاح الكتابية أم لا؟ على وجهين: أحدهما: لم يكن له ذلك والوجه الثاني: تحل له نكاح الكتابية

Para ulama berbeda pendapat apakah seseorang boleh menikahi wanita ahlul kitab? ada dua pendapat: pertama: tidak diperbolehkan baginya kedua: boleh baginya menikahi wanita ahlul kitab..

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 23 | Azizah

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ويحل له نكاح حرائر أهل الكتاب، وهم اليهود والنصارى ومن دخل في دينهم قبل التبديل ... وأما غير اليهود والنصارى من أهل الكتاب، كمن يؤمن بزبور داود عليه السلام وصحف شيث، فلا يحل للمسلم أن ينكح حرائرهم

Boleh menikahi wanita-wanita merdeka dari kalangan ahli kitab, yakni kaum yahudi dan nasrani dan yang memeluk dua keyakinan ini sebelum terjadi distorsi (perubahan / pemalingan syariat)...sedangkan ahli kitab lain, seperti mereka yang beriman kepada kitab zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud alaihis salam dan ‘shuhuf’Nabi Syits maka wanita-wanita merdekanya tidak boleh dinikahi. .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 232 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

الكفار ثلاثة أصناف، أحدها: الكتابيون، فيجوز للمسلم مناكحتهم، سواء كانت الكتابية ذمية أو حربية، لكن تكره الحربية، وكذا الذمية على الصحيح، لكن أخف من كراهة الحربية. والمراد بالكتابيين: اليهود والنصارى. فأما المتمسكون بكتب سائر الأنبياء الأولين، كصحف شيث وإدريس وإبراهيم وزبور داود صلوات الله وسلامه عليهم، فلا تحل مناكحتهم على الصحيح.

Kategori Kafir ada tiga macam. Yang pertama : Ahli kitab. Wanita-wanita ahli kitab boleh dinikahi oleh lelaki-lelaki muslim, baik ahli kitab ‘harbi’ (boleh diperangi) atau ‘dzimmi’ (tidak boleh diperangi), akan tetapi makruh menikahi wanita ahli kitab ‘harbi’, begitu pula ahli kitab ‘dzimmi’ menurut pendapat yang paling shahih, akan tetapi derajat makruhnya lebih ringan dari menikahi ahli kitab ‘harbi’. Yang dimaksud dengan ahli kitab adalah : Kaum yahudi dan nasrani. Sedangkan yang berpegang kepada kitab-kitab para nabi sebelumnya, seperti ‘shuhuf’ Nabi Syits, Nabi Idris, Nabi Ibrahim, Kitab Zabur milik Nabi Daud, (shalawatullah was salam ‘alaihim) maka mereka tidak boleh dinikahi menurut pendapat yang paling shahih..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 135 | Qathrin

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

في صفة الكتابية التي ينكحها المسلم وهي إسرائيلية وغيرها ...وإسرائيل هو يعقوب بن إسحاق بن إبراهيم - عليهم الصلاة والسلام - (وكذا غيرهن) من اليهود والنصارى (ممن دخل قومها) أي آباؤها أي أولهم في ذلك الدين (قبل النسخ والتبديل) له (أو قبل النسخ) وبعد التبديل (و) لكنهم (تجنبوا المبدل) يصح نكاحها

Sifat wanita ahli kitab yang boleh dinikahi oleh lelaki muslim adalah ‘Israiliyyah’ dan selainnya... dan yang dimaksud ‘Israil’ adalah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim (‘alaihimus shalatu was salam) – (begitu pula wanita – wanita ahli kitab lain) dari kalangan yahudi dan nasrani (yang memeluk agama kaumnya) yakni nenek moyang mereka atau yang pertama kali memeluk agama itu (sebelum dihapus atau dirubah) ajarannya (atau sebelum dihapus) dan setelah mengalami perubahan akan tetapi (mereka berlepas dari perubahan itu) maka nikahnya sah. .

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 160 | Qathrin

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ليس بين أهل العلم، بحمد الله، اختلاف في حل حرائر نساء أهل الكتاب

Tidak perbedaan diantara para ulama alhamdulillah mengenai dihalalkan wanita ahli kitab yang merdeka .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 129 | Ipung

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

ولا يحل نكاح مرتدة وإن تدينت بدين أهل الكتاب؛ لأنها لا تقر على دينها، ولا مجوسية. لأنه لم يثبت لهم كتاب، ولا كتابية، أحد أبويها غير كتابي لأنها لم تتمحض كتابية، أشبهت المجوسية، ولا من يتمسك بصحف إبراهيم وزبور داود، أو كتاب غير التوراة والإنجيل، لقوله تعالى: {أن تقولوا إنما أنزل الكتاب على طائفتين من قبلنا} [الأنعام: 156] ؛ ولأن تلك الكتب ليست بشرائع، إنما هي مواعظ وأمثال. ويباح نكاح حرائر الكتابيات، لقوله تعالى: {والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم} [المائدة: 5] وهم اليهود والنصارى ومن وافقهم من أصل دينهم ودان بالتوراة والإنجيل

Tidak di halalkan menikahi wanita yang murtad walaupun ia beragama dengan agama ahli kitab, karena ia tidak tetap atas agamanya, dan tidak halal bagi muslim untuk menikahi wanita majusi (penyembah api), karena ia tidak memiliki kitab, dan tidak di halalkan pula menikahi wanita ahli kitab yang salah satu orang tuanya bukan ahli kitab, karena ia bukan termasuk asli wanita ahli kitab, dan ia menyerupai wanita majusi.

Dan tidak dihalalkan pula menikahi wanita yang berpegang kepada suhuf ibrahim, zabur, suhuf daud, serta kitab selain taurat dan injil. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: (Kami turunkan al-qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan " kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami (Yahudi dan NAsrani) dan karena kitab-kitab tersebut bukan berisai syari'at namun berupa nasehat-nasehat dan kata-kata bijak.

Dan diperbolehkan menikah dengan wanita ahli kitab yang merdeka, Sebagaimana Allah berfirman : dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu. (al-maidah :5), dan yang di maksudkan dengan ahli kitab di ayat ini adalah yahudi dan nasrani dan yang asal agamanya sama dan kitab lebih dekat dengan kitab taurat dan injil .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 33 | Ipung

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Kubra sebagai berikut :

نكاح الكتابيّة جائز بالآية الّتي في المائدة، قال تعالى: {وطعام الّذين أوتوا الكتاب حلّ لكم وطعامكم حلّ لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الّذين أوتوا الكتاب من قبلكم} )المائدة: 5(

Menikahi perempuan ahlul kitab diperbolehkan sebagaimana dalam surat al maidah : 5.

Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa Al-Kubra, jilid 3 hal. 116 | Maryam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وجائز للمسلم نكاح الكتابية، وهي اليهودية، والنصرانية، والمجوسية، بالزواج

Seorang muslim boleh menikahi perempuan ahli kitab (yahudi, nasrani, majusi) .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 12 | Maryam

Wallahu'alam

Baca Lainnya :

Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina
Siti Sarah Fauzia | 12 September 2015, 13:18 | draft
Hukum Nikah Untuk Sementara
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:19 | draft
Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina
Zuria Ulfi | 7 May 2015, 13:22 | published
Nikah Dengan Niat Talaq
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:19 | draft
Suami/istri Murtad, Fasakh atau Talaq?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:13 | draft
Hukum Menikah Dengan Wanita Ahli Kitab
Isnawati | 18 July 2015, 13:20 | published
Hukum Nikah Siri
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:21 | published
Hukum Nikah Syighar
Isnawati | 10 October 2015, 13:21 | published
Nikah Muhallil
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:21 | draft
Jika seorang istri masuk islam, namun suaminya tidak, bagaimana status perkawinan mereka?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:09 | draft
Hukum menikah waktu ihram:
Isnawati | 31 October 2015, 06:25 | approved
Apakah calon suami harus “rasyid”?
Qathrin Izzah Fithri | 14 November 2015, 23:23 | published
Dinikahkan Oleh Bukan Walinya, Bagaimana Status Pernikahannya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:26 | approved
Bolehkah Suami Mentalak Istri dan Langsung Menikahi Adiknya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:54 | approved
Menikahi Wanita dalam Masa Iddah dan Menggaulinya, Bagaimana Hukumnya?
Ipung Multiningsih | 31 October 2015, 09:39 | approved