Dicerai Dalam Keadaan Haidh, Jatuhkah Talaknya?

Sat 12 September 2015 13:19 | 0
Zuria Ulfi

Ketika keharmonisan rumah tangga antara suami dan istri tidak lagi dapat dipertahankan, Allah Swt menjadikan perceraian sebagai sebuah solusi penyelesaian. Meskipun pada hakikatnya, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah swt.

Islam dengan kesempurnaan hukumnya, memberikan perhatian yang sangat jelas dalam masalah ini. Karena perceraian merupakan bentuk pemutusan status kehalalan hubungan antara laki-laki dan perempuan, maka aturan jatuhnya talak bagi seorang wanita telah diatur dengan sangat detail dalam Al-qur’an dan sunnah Rasul Saw.

Diantara aturan tersebut adalah larangan bagi seorang suami mencerai istrinya dalam keadaan haidh. Bagaimana para ulama memandang hal tersebut? Berikut pemaparannya.

PEMBAGIAN TALAK

Secara umum ulama membagi talak menjadi dua, talak sunni dan talak bid’iy. Talak sunni adalah talak yang sesuai aturan dan hukum syari’at, yaitu talak yang dijatuhkan seorang suami kepada istrinya dalam kondisi yang diperbolehkan, misalnya disaat istri dalam keadaan suci atau belum berhubungan badan. Dalam hal ini, ulama bersepakat tentang kehalalannya.

Talak bid’iy adalah talak yang dijatuhkan suami ketika istri berada dalam dua kondisi berikut ; pertama disaat istri dalam keadaan suci dan telah berhubungan badan, kedua talak disaat istri dalam keadaan haidh.

Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat mengenai apakah jatuh talaknya atau tidak. Ada yang menyatakan bahwa haram hukumnya menceraikan wanita dalam keadaan haidh sehingga jatuh talaknya. Namun sebagian berpendapat hukum menceraikan wanita haidh adalah makruh. Berikut pandangan dari masing – masing ulama madzhab.

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

يكره إيقاع الطلاق في حالة الحيض من غير المدخول بها

Talak yang dijatuhkan disaat wanita dalam keadaan haidh dan belum berhubungan badan hukumnya adalah makruh .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 6 hal. 7 | Zuria

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

أصله الطلاق وضعه لإزالة العصمة ونهى عنه بوضع خاص وهو ما إذا كانت المرأة حائضا ثم رأيناه أثبت حكم طلاق الحائض فأزال به العصمة حتى أمر ابن عمر بالمراجعة رفعا للمعصية بالقدر الممكن وأثم المطلق

Pada asalnya, pensyariatan talak adalah untuk memutuskan status hubungan antara suami dan istri. Dan syari’at melarang talak dalam keadaan tertentu yaitu disaat seorang wanita dalam keadaan haidh. Dan menurut pendapat kami, syariat menetapkan hukum talak wanita yang sedang haidh sehingga status hubungan mereka terpisah. Sebagaimana perintah Rasulullah Saw kepada Ibn Umar agar merujuk kembali istrinya, untuk menghilangkan maksiat dan menyebabkan dosa akibat perbuatan tersebut.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 6 hal. 460 | Zuria

Baca Lainnya :

jatuhkah Talak Anak Dibawah Umur?
Siti Maryam | 21 November 2015, 17:21 | draft
Dipaksa Bercerai, Jatuhkah Talaknya?
Siti Maryam | 21 November 2015, 18:40 | draft
Jatuhkah Talak Orang yang Mabuk
Zuria Ulfi | 21 November 2015, 17:30 | draft
Dicerai Dalam Keadaan Haidh, Jatuhkah Talaknya?
Zuria Ulfi | 12 September 2015, 13:19 | published
Rukun Cerai Menurut Empat Mazhab
Nur Azizah Pulungan | 8 December 2015, 05:00 | published
Bolehkah Istri Meminta Cerai Ketika Suami Tidak Mampu Membayar Mahar ?
Isnawati | 29 October 2015, 22:24 | approved
Dipisahkan oleh Hakim Karena Terdapat cacat Atau aib, Talak/fasakh?
Siti Maryam | 31 October 2015, 05:56 | approved
Definisi Talak Sunni Menurut Ulama
Fatimah Khairun Nisa | 29 October 2015, 23:38 | approved
Definisi Talak Bid'i Menurut Empat Mazhab
Ipung Multiningsih | 8 December 2015, 06:16 | published
Bolehkah Istri Meminta Cerai Ketika Suami Tidak Mampu Menafkahi?
Isnawati | 29 October 2015, 23:56 | draft
Suami 'Ghaib'/Tidak Pernah Pulang, Bolehkah Istri Minta Cerai?
Qathrin Izzah Fithri | 30 October 2015, 00:08 | draft
Suami Menghilang, Boleh Cerai atau Harus Menunggu Selamanya?
Qathrin Izzah Fithri | 30 October 2015, 00:27 | draft
Suami di Penjara, Bolehkah Minta Cerai?
Qathrin Izzah Fithri | 30 October 2015, 00:32 | approved
Kapan dipisahkan karena adanya cacat pada pasangan?
Siti Maryam | 31 October 2015, 05:52 | draft
Dipisahkan setelah menikah karena terdapat aib. Apakah istri berhak mendapat mahar
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:03 | draft
Suami atau istri berzina, wajibkah dicerai?
Isnawati | 31 October 2015, 06:31 | draft
Suami Tidak Mukallaf, Bolehkah Merujuk Istri?
Ipung Multiningsih | 31 October 2015, 07:35 | approved
Suami Menyerahkan Hak Thalaq Kepada Istrinya, Jatuhkah Thalaqnya?
Siti Sarah Fauzia | 28 November 2015, 10:02 | approved
Menurut Istri Khulu' Sudah Terjadi Tapi Suami Mengingkari, Jatuhkah Khulu'nya?
Achadiah | 31 October 2015, 13:41 | approved
Mengucap Cerai Tidak Sengaja, Jatuhkah Talaknya?
Qathrin Izzah Fithri | 31 October 2015, 20:05 | approved