Kriteria sekufu dalam Syari'ah

Sun 20 September 2015 21:17 | 0
Isnawati

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وأما الثالث في بيان ما تعتبر فيه الكفاءة، فما تعتبر فيه الكفاءة أشياء منها النسب، والأصل فيه قول النبي- صلى الله عليه وسلم - «قريش بعضهم أكفاء لبعض، والعرب بعضهم أكفاء لبعض، حي بحي، وقبيلة بقبيلة، والموالي بعضهم أكفاء لبعض، رجل برجل» ؛ لأن التفاخر، والتعيير يقعان بالأنساب… ومن له أب واحد في الإسلام لا يكون كفئا لمن له آباء كثيرة في الإسلام؛ لأن تمام التعريف بالجد، والزيادة على ذلك لا نهاية لها… ومنها الحرية؛ لأن النقص، والشين بالرق، فوق النقص، والشين بدناءة النسب، فلا يكون القن، والمدبر، والمكاتب كفئا للحرة بحال، ولا يكون مولى العتاقة كفئا لحرة الأصل، ويكون كفئا لمثله؛ لأن التفاخر يقع بالحرة الأصلية، والتعيير يجري في الحرية العارضة المستفادة بالإعتاق

Permasalahan yang ketiga ialah: hal apa sajakah yang termasuk dalam kafa’ah Diantaranya adalah nasab, seperti dalam sabda Rasulullah Shallallahu alahi wasallam : “Sebagian kaum quraisy sekufu dengan kaum quraisy yang lain, dan orang arab pun sekufu dengan arab yang lain, yang hidup dengan yang hidup, suatu kelompok dengan kelompok, dan para budak sekufu dengan budak lainnya, yang punya kaki dengan yang punya kaki” Karena sesungguhnya berbangga-bangga dan menjelek-jelekkan merupakan sifat yang ada dalam nasab… Dan barang siapa yang mempunyai ayah satu dalam islam tidak sekufu’ dengan orang yang mempunyai ayah yang banyak dalam islam, karena sesungguhnya terkenalnya seseorang itu dengan melihat kakeknya, dan pertambahan jumlahnya tiada batas… Dan yang termasuk dalam kafa’ah adalah merdeka, karena kekurangan dan aib itu terdapat pada budak, maka diatas suatu kekurangan dan aib itu menunjukkan pada rendahnya suatu nasab, maka yang ayahnya budak dan budak yang membeli dirinya sendiri dan jenis budak yang lain tidak sekufu’ dengan orang yang merdeka, dan seorang tuan yang di bebaskan tidak sekufu’ dengan dengan orang yang asli merdeka, tapi ia akan sekufu’ dengan orang yang sederajat dengannya, karena suatu kebanggaan menjadi seorang yang benar-benar merdeka, dan suatu aib bagi orang yang merdeka karena di bebaskan..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 318 | Azizah

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

(فصل في الأكفاء) جمع كفء بمعنى النّظير لغة، والمراد هنا: المماثلة بين الزّوجين في خصوص أمور أو كون المرأة أدنى وهي معتبرة في النّكاح؛

Bab Kafa’ah dalam Pernikahan Bab Kafa’ah Merupakan jamak dari kufu’ yang secara bahasa berarti setara, dan yang dimaksud dalam hal ini adalah : kesetaraan antara sepasang suami istri dalam beberapa masalah yang spesifik atau misalnya seorang perempuan lebih rendah kedudukannya daripada laki-laki, dan hal inilah yang dianggap dalam pernikahan; .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 137 | Fatimah

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

باب الكفاءة من كافأه: إذا ساواه، والمراد هنا مساواة مخصوصة أو كون المرأة أدنى (الكفاءة معتبرة) في ابتداء النكاح للزومه أو لصحته (من جانبه) أي الرجل، لان الشريفة تأبى أن تكون فراشا للدنئ، ولذا (لا) تعتبر (من جانبها) .....، وهذا عند الكل في الصحيح

Bab Kafa’ah yang setara dengannya : jika setara dengannya, yang dimaksudkan disini adalah kesetaraan yang spesifik atau misalnya pengantin wanita lebih rendah posisinya dari mempelai laki-laki(parameter kafaah itu)parameter kufu itu diukur dari sisi pengantin laki-laki diawal pernikahan agar pernikahan menjadi sah (dari sisi laki-laki) maksudnya adalah dari pengantin laki-laki, karena seorang wanita yang tinggi derajatnya menjadi istri seorang lelaki yang lebih rendah posisinya, maka dari itu (tidak) diukur (dari sisi perempuan) ....., pendapat ini yang dianggap benar oleh ulama madzhab. .

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 0 hal. 186 | Fatimah

Pengertian kafaah menurut Imam Al Hashkafi adalah apabila kedua pihak pengantin setara, atau boleh pengantin wanita nya lebih rendah kedudukannya dari pengantin lelaki. akan tetapi tidak termasuk sekufu apabila pengantin lelaki lebih rendah derajatnya dibanding penganting wanita. Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

الكفاءة بين الزوجين وهي معتبرة بخمسة أوصاف بالإسلام والحرية حسبما تقدم والصلاح فلا تزوج المرأة الفاسق ولها ولمن قام بها فسخه سواء كان الولي أبا أو غيره وبالمال الذي يقدر به ولا يشترط اليسار ولها مقال إن زوجت لمن يعجز عن حقوقها وبسلامة الخلقة من العيوب الموجبة للخيار …ولا يشترط الجمال ولا يعتبر النسب والحسب لهما

Sekufu bagi pasangan suami istri itu diukur dari lima sifat, (1)islam,(2) merdeka,(3) baik, tidaklah seorang wanita menikah dengan seorang fasiq,wanita itu ataupun walinya boleh memfasakh, baik walinya adalah ayahnya, ataupun bukan.(4)Kemampuan finansial, tidak disyaratkan harus kaya. Dan wanita boleh memilih jika dinikah dengan seseorang yang tidak mampu memenuhi hak-haknya. Dan juga menjadi bagian kafa’ah (5)Tidak memiliki cacat yang membolehkan dikhiyar… Kufu tidak mensyaratkan adanya kecantikan/ketampanan dan tidak pula mensyaratkan nasab atau keturunan..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 132 | Isna

Yang dimaksudkan dengan khiyar adalah memilih untuk terus melanjutkan penikahan atau berpisah. Seperti, jika seseorang mendapati pasangan mengalami kegilaan, penyakit kelamin, dan kusta, maka dia boleh mengkhiyar. Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

وهي المماثلة في الدين والحال والحرية ولا يشترط فيها المماثلة في غير ذلك على المعتمد فمتى ساواها الرجل في تلك الثلاثة كان كفئا.

Kufu adalah kesetaraan dalam agama, kondisi fisik, dan merdeka. Tidak mensyaratkan selainnya. Ini menurut pendapat yang muktamad. Apabila seorang laki-laki setara dengan seorang wanita dalam tiga hal tersebut, maka dianggap telah sekufu'..

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 400 hal. 2 | Isna

Muhammad 'Illisy (w. 1299 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

(والكفاءة) المطلوبة في النكاح لكونها منشأ لدوام المدة بين الزوجين... (الدين) أي المماثلة أو المقاربة في التدين بشرائع الإسلام لا في مجرد أصل الإسلام. (والحال) بالحاء المهملة أي المماثلة أو المقاربة في السلامة من العيوب الموجبة للخيار لا الحسب والنسب.

Kafa'ah yang dituntut dalam pernikahan, dimana dia penopang kelangsungan rumah tangga bagi suami istri, (1) Adanya kesetaraan atau kemiripan dari dalam tata cara beragama dengan syari'at islam, bukan sekedar sama-sama beragam islam. yaitu sama dari segi beragama atau menjalankan syariahnya. (2)Kemudian kondisi fisik yaitu adanya kesetaraan dalam hal selamat dari cacat yang mewajibkan khiyar, bukan kondisi status sosial atau keturunan..

Muhammad 'Illisy, Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil, jilid 323 hal. 3 | Isna

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

في خصال الكفاءة. إحداها: التنقي من العيوب المثبتة للخيار... الثانية: الحرية ... الثالثة: النسب ... الرابعة: الدين والصلاح ... الخامسة: الحرفة ...السادسة: اليسار على وجه. والأصح: أنه غير معتبر

Bab tentang Kafaah. Yang pertama : Bebas dari cacat yang membolehkan khiyar ... Kedua : Merdeka ... Ketiga : Nasab ... Keempat : Agama dan keshalihan... Kelima : Profesi ... Keenam : Kemapanan menurut satu pendapat dan menurut pendapat yang paling shahih : kemapanan ini tidak termasuk .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 80 | Qathrin

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(الطرف السابع في خصال الكفاءة) المعتبرة في النكاح لدفع العار والضرار وهي في السلامة من العيوب المثبتة للخيار وفي الحرية والنسب والدين والصلاح والحرفة ...

(Bagian ketujuh tentang kriteria kafaah) dalam pernikahan untuk mencegah penyesalan dan madharat yaitu bebas dari aib yang dibolehkan khiyar, merdeka, nasab, agama dan shalih, dan kemapanan....

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 137 | Qathrin

Abu An-Naja (w. 968 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Iqna’ Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal sebagai berikut :

والكفاءة مفسرة في خمسة أشياء - الدين: فلا يكون الفاجر والفاسق كفئا لعفيفة عدل - الثاني المنصب وهو النسب: فلا يكون العجمي وهو من ليس من العرب كفئا لعربية - الثالث الحرية: فلا يكون العبد ولا المبعض كفئا لحرة ولو عتيقة - الرابع الصناعة: فلا يكون صاحب صناعة دنيئة كالحجام والحائك والكساح والزبال والنفاط كفئا من هو صاحب صناعة جليلة كالتاجر والبزار وصاحب العقار ونحو ذلك. الخامس: اليسار بمال بحسب ما يجب لها من المهر والنفقة

Kafaah terinci dalam lima hal: 1.Agama, seorang laki-laki yang suka berbuat maksiat tidak sekufu dengan wanita baik dan pandai menjaga diri. 2. Kedudukan, yakni Keturunan, seorang laki-laki non arab tidak sekufu dengan wanita arab. 3. status perbudakan, seorang budak laki-laki tidak sekufu dengan wanita merdeka walaupun ia mantan budak. 4. profesi, seorang yang profesinya rendah seperti tukang bekam, perajut, pemulung, pembersih sampah, maupun penjual minyak tidak sekufu dengan orang yang pekerjaanya lebih terhormat seperti pedagang, penjual bibit, ataupun tuan tanah. 5. kekayaan, dalam hal ini diukur dengan kadar yang pantas untuk perempuan dalam mahar dan nafkahnya. .

Abu An-Naja, Al-Iqna’ Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal, jilid 3 hal. 179 | Maryam

Begitulah pemaparan oleh masing-masing madzhab tentang parameter sekufu yang ada dalam syariah. Secara mayoritas menyatakan, yang dimaksudkan sekufu itu adalah adanya kesetaraan dari segi agama dan beragamanya seseorang, begitu juga dari segi status sosial dan kondisi fisik. Tidak dari segi ketampanan/kecantikan dan kekayaan. Sehingga seorang yang fasik tidak bisa dibilang sekufu dengan orang yang sholeh, seorang budak tidak dikatakan sekufu dangan seorang yang merdeka, seorang yang kurang akalnya tidak sekufu dengan yang sempurna akalnya, dan lain-lain. Maka jika tidak ditemukan adanya kesetaraan antara suami dan istri dalam kriteria kafaah yang telah disebutkan oleh para ulama, tidaklah pasangan itu dikatakan telah sekufu. Sedang agama ini sangat menganjurkan untuk seorang muslim/muslimah menikah dengan orang yang sekufu dengannya.

Wallahua’lam.

Baca Lainnya :

Apakah Status Perbudakan Termasuk Kriteria Sekufu?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | published
Kriteria sekufu dalam Syari'ah
Isnawati | 20 September 2015, 21:17 | published
Haruskah menikah dengan sekufu?
Isnawati | 11 October 2015, 05:01 | published
Hukum Menikahi Pasangan yang Tidak Sekufu
Siti Maryam | 13 October 2015, 05:37 | published
Apakah kecantikan atau ketampanan termasuk kriteria kafa'ah?
Qathrin Izzah Fithri | 16 October 2015, 04:53 | published
Apakah Kafaah Menjadi Syarat Dalam Pernikahan?
Ipung Multiningsih | 12 October 2015, 05:21 | published
Apakah Nasab Termasuk Kriteria Sekufu?
Fatimah Khairun Nisa | 14 October 2015, 06:00 | published
Apakah Kondisi Finansial Merupakan Standar Kafaah?
Isnawati | 31 October 2015, 05:59 | published
Apakah Kesamaan Profesi Termasuk Kriteria Kafaah?
Qathrin Izzah Fithri | 27 October 2015, 05:00 | published
Apakah Gila, Kusta dan Belang Termasuk Aib?
Isnawati | 14 November 2015, 06:33 | published