|


 

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

الثالث: إذا سمى المهر مع الإيجاب بأن قال تزوجتك بكذا فقالت قبلت النكاح ولا أقبل المهر قالوا لا يصح. ولا يشكل بأنه ليس من شرط صحة النكاح صحة التسمية أو وجودها، لأنه ما أوجب النكاح إلا بذلك القدر المسمى

ketiga : jika mahar disebutkan dalam ijab, contohnya : saya nikahkan kamu dengan mahar sekian, kemudian dia menjawab : saya terima nikahnya tapi tidak setuju dengan maharnya, maka aqadnya batal. Dan tidak ada permasalahan, karena mahar bukan syarat sahnya nikah, atau syarat sah harus disebutkan dalam ijab, ataupun tidak ada, karena tidak diwajibkan nikah kecuali dengan mahar yang telah disebut dalam ijab .

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 197 | Fatimah

Jadi jika sang wali menyebutkan mahar, namun sang laki-laki menjawab dengan mahar yang berbeda dengan apa yang disebutkan wali, maka akadnya tidak sah. Karena antara ijab dan qabul tidak selaras. Dan menurut muallif kitab ini, mahar bukan syarat sah nikah, kalaupun itu syarat sah, maka harus disebutkan dalam akad. Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

باب المهر )قوله ويصح النكاح وإن لم يسم فيه مهرا) لا خلاف في ذلك.......

( Bab Mahar) (Perkataan penulis: nikah sah walaupun tidak disebutkan maharnya) tidak ada perselisihan pendapat dalam hal ini... .

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 316 | Fatimah

Dan masih dalam kitab fathul qadir di halaman yang berbeda beliau menuliskan hal tersebut. Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

(باب المهر) لما ذكر ركن النكاح وشرطه وما هو في معنى الشرط شرع في بيان حكمه وهو وجوب المهر لأن المهر موجبه النكاح قال - رحمه الله - (صح النكاح بلا ذكره) أي بلا ذكر المهر.

(Bab Mahar) Setelah disebutkan tentang rukun nikah dan syarat-syaratnya dan apa-apa dalam maknanya. Yaitu wajibnya mahar, karena mahar adalah syarat wajib nikah, dan beliau berkata (sah nikah tanpa menyebutkan mahar. .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 135 | Fatimah

Berbeda dengan 2 ulama sebelumnya, Al Zaila’I dalam kitabnya Tabyin Al Haqaiq berpendapat hukum mahar wajib didalam pernikahan, walaupun tidak menyebutkannya dalam akad Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

لم تحل الموهوبة إلا لرسول الله صلى الله عليه وسلم خاصة قال الله عز وجل: {خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ} الأحزاب فلا يحل لأحد بعده نكاح يشرط فيه أن لا صداق ولا بد لغيره من صداق قل أو كثر

Tidak dihalalkan seorang perempuan menghadiahkan dirinya (tanpa meminta mahar) kepada suami, kecuali khusus bagi Nabi saw. sebagaimana Allah berfirman: Khusus bagi engkau, tidak bagi orang-orang beriman.(QS: Al-Ahzab). Maka tidak dihalakan bagi orang-orang setelahnya menikah dengan mensyaratkan tidak ada mahar. Harus bagi selain nabi saw memberikan mahar, sedikit atau pun banyak . . .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 2 hal. 550 | Isna

Di sini telah dijelaskan bahwa tidak diperbolehkan seorang wanita untuk tidak meminta mahar, sedikit atau banyak harus ada mahar yang diberikan pihak laki-laki kepada wanita. Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

وأما الشهود والصداق فلا ينبغي أن يعدا في الأركان ولا في الشروط لوجود النكاح الشرعي بدونهما

Adapun saksi dan mahar tidak merupakan rukun dan tidak juga merupakan syarat, karena pernikahan bisa terlaksana tanpa keduanyanya. .

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 419 | Isna

Menurut ulama imam malik ini, saksi dan mahar bukanlah rukun dan bukan juga syarat, jadi menikah tanpa mahar dan tanpa saksi tetap sah Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

(وصحته) : أي وشروط صحة النكاح: أن يكون (بصداق) ولو لم يذكر حال العقد فلا بد من ذكره عند الدخول، أو تقرر صداق المثل بالدخول قوله: [ولو لم يذكر حال العقد] إلخ: أي فالمضمر اشتراط عدمه

Menjadi syarat sahnya pernikahan adalah adanya mahar, baik yang disebutkan ketika akad, atau pun tidak sebutkan. Namun, wajib suami membayarkan mahar, ketika telah terjadi hubungan intim. .

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 335 | Isna

Pendapat ini mengatakan bahwa mahar adalah syarat sahnya menikah, baik mahar yang disebutkan ketika akad ataupun tidak. Dan wajib bagi suami untuk memberi mahar kepada istri jika sudah terjadi jima’. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

ولو أذنت الحرة لوليها في التزويج، على أن لا مهر لها في الحال ولا عند الدخول ولا غيره، وزوجها الولي كذلك، فوجهان. أحدهما: بطلان النكاح. وأصحهما: صحته.

Jika seorang perempuan merdeka mengizinkan wali yang menikahkannya untuk meniadakan mahar pada saat akad, maupun setelah jima’ atau yang lainnya, kemudian wali tersebut menikahkannya seperti permintannya, maka ada dua pendapat. Yang pertama : nikahnya bathil. Dan yang paling shahih : nikahnya sah. .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 280 | Qathrin

Akad nikah tanpa mahar dengan permintaan dari wanita, disini ada 2 pendapat, dan yang paling shahih menurut An-Nawawi adalah, akad nikahnya sah. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin sebagai berikut :

يسن تسميته في العقد ويجوز إخلاؤه منه.

sunnah hukumnya menyebutkan mahar ketika akad dan boleh juga tidak disebutkan. .

An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 0 hal. 218 | Qathrin

Jadi, menurut muallif kitab ini, ketika akad disunnahkan untuk menyebutkan mahar, dan diperbolehkan pula jika tidak disebutkan. Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

[مسألة تزوجها بغير صداق] (5599) مسألة؛ قال: وإذا تزوجها بغير صداق، لم يكن لها عليه إذا طلقها قبل الدخول إلا المتعة. وجملته أن النكاح يصح من غير تسمية صداق، في قول عامة أهل العلم

Permasalahan no. 5599: ibnu qudamah berkata: Dan apabila wali menikahkan anak perempuaannya tanpa mahar dan suaminya mencerai istrinya sebelum jima’, maka suami tidak berkewajiban apa pun terhadap istri kecuali memberi mut’ah. Kesimpulannya, bahwasannya akad nikah sah walaupun tanpa menyebutkan mahar, ini menurut perkataan ulama. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 237 | Ipung

Jadi, dalam kitab ini dapat disimpulkan bahwa tetap harus ada mahar, walaupun didalam ijab tidak disebutkan. Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

(5212) مسألة؛ قال: (وإذا زوج ابنته بدون صداق مثلها، ثبت النكاح بالمسمى. وإن فعل ذلك غير الأب ثبت النكاح، وكان لها مهر مثلها) . وجملة ذلك أن للأب تزويج ابنته بدون صداق مثلها، بكرا كانت أو ثيبا، صغيرة كانت أو كبيرة.

Permasalahan no. 5212: Dan Apabila seseorang menikahkan anak perempuannya tanpa mahar mitsl (mahar yang sepadan), maka nikahnya tetap sah dengan mahar yang disebutkan ketika akad. Dan jika yang melakukan hal tersebut adalah selain ayah, maka nikahnya tetap sah tapi harus dengan mahal mitsl (mahar yang sepadan). Kesimpulannya, seorang ayah boleh menikahkan anak perempuannya dengan tanpa mahar mitsl ( mahar yang sepadan/ mahar standard, baik anak gadis ataupun yang sudah janda, masih kecil ataupun sudah dewasa. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 48 | Ipung

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

(ويستحب أن لا يعرى النكاح عن تسميته) الصحيح من المذهب: أن تسمية الصداق في العقد مستحبة

Dan pendapat yang shahih menurut madzhab hanbali: menyebutkan mahar ketika akad hukumnya mustahab. .

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 227 | Maryam

Berarti, tetap ada mahar dalam akad nikah, baik disebutkan ataupun tidak, jika disebutkan ketika menikah hukumnya mustahab. Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: والصّداق، والنّفقة، والكسوة مقضيّ بها للمرأة على زوجها المملوك كما يقضى بها على الحرّ ولا فرق سواء كانت حرّة أو أمة والصّداق للأمة إلّا أنّ للسّيّد أن ينتزعه كسائر مالها.

Mahar, Nafkah, dan Kiswah (memberikan pakaian kepada istri) adalah hak istri atas suami baik suaminya budak maupun laki-laki- merdeka. Tidak peduli istrinya merdeka ataupun budak juga. Namun jika perempuan tersebut adalah budak maka tuannya berhak mengambil hartanya. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 59 | Isna

Dalam madzhab ini, mahar adalah sesuatu yang harus diberikan kepada pihak istri, apapun itu. Dan jika istrinya adalah budah maka mahar dia adalah mi;lik tuannya, karena dia adalah milik tuannya, dan sudah otomatis harta dia adalah harta tuannya termasuk maharnya.

Baca Lainnya :