Hukum Mut'ah

Mon 12 October 2015 13:15 | 0
Achadiah

Pertama kali membaca judul ini, akan terlintas dalam benak kita akan nikah mut’ah yang kian ramai diperbincangkan oleh banyak kalangan, namun mut’ah yang akan kita kaji disini bukanlah hukum nikah mut’ah, akan tetapi mut’ah yang diberikan kepada wanita yang dithalaq oleh suaminya, apakah memang setiap suami yang menthalaq istrinya wajib memberikan mut’ah?

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

أوجب المتعة في المطلقات قبل الدخول عاما............. (وأما) الذي تستحب فيه المتعة، فهو الطلاق بعد الدخول

Secara umum mut’ah wajib diberikan kepada wanita yang telah di thalaq sebelum dukhul............Sedangkan mut’ah hukumnya mustahab setelah dukhul.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 303 | Achad

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

وتستحب المتعة لكل مطلقة إلا لمطلقة واحدة وهي التي طلقها الزوج قبل الدخول بها وقد سمى لها مهرا

Mut’ah hukumnya mustahab bagi setiap wanita yang di thalaq, kecuali satu jenis thalaq, yakni wanita yang dithalaq suaminya sebelum dukhul dan belum ditentukan maharnya..

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 201 | Achad

Ibnu Rusyd Al-Hafid (w. 595 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid sebagai berikut :

وأما مالك فإنه حمل الأمر بالمتعة على الندب لقوله تعالى في آخر الآية: {حقا على المحسنين} [البقرة: 236]

Dan adapun Imam Malik berpendapat bahwa hukum mut’ah itu adalah Sunnah. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al-Baqarah 236).

Ibnu Rusyd Al-Hafid, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 3 hal. 117 | Nisa

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

(الفصل الخامس) في متعة المطلقات وهي الإحسان إليهن حين الطلاق بما يقدر عليه المطلق بحسب ماله في القلة والكثرة وهي مستحبة

Fashal kelima: pemberian mut’ah kepada wanita yang ditalak adalah bentuk perbuatan baik dari suami yang mentalaknya ketika talak terjadi, pemberian itu disesuaikan dengan kemampuan suami baik sedikit atau banyak. Pemberian mut'ah ini hukumnya mustahab..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 159 | Nisa

Al-Malibari (w. 987 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Mu'in sebagai berikut :

تجب عليه لزوجة موطوءة ولو أمة متعة بفراق بغير سببها وبغير موت أحدهما وهي ما يتراضى الزوجان عليه وقيل أقل مال يجوز جعله صداقا ويسن أن لا ينقص عن ثلاثين درهما

Suami wajib memberikan mut'ah kepada istrinya yang sudah dijima' walaupun ia seorang budak sebab adanya talak yang dijatuhkan dari pihak suaminya, bukan karena sebab kematian salah satu pihak. Mut'ah adalah sejumlah harta yang disepakati kedua belah pihak. Dalam satu pendapat disebutkan bahwa ukuran minimal mut'ah adalah harta yang boleh dijadikan mahar dan disunnahkan hendaknya tidak kurang dari 30 dirham .

Al-Malibari, Fathul Mu'in, jilid 0 hal. 490 | Zuria

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

(فإن حصلتْ لها فُرْقَة منصِّفة للصداقِ من طلاقٍ أو غيره (قبلَ فرضِهِ أو تراضِيهِمَا وجبتْ لها المُتْعَةُ

Jika terjadi Perpisahan yang menyebabkan isteri mendapatkan setengah mahar dikarenakan thalaq atau yang lainnya, sebelum ditetapkannya mahar atau belum adanya kesepakatan diantara keduanya maka wajib bagi suaminya memberi isterinya mut’ah..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 6 hal. 153 | Siska

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

المتعة فرض على كل مطلق واحدة أو اثنتين أو ثلاثا - أو آخر ثلاث - وطئها أو لم يطأها

Mut'ah hukumnya fardhu bagi setiap suami yang menceraikan istrinya, baik talak yang pertama, kedua atau talak yang ketiga, baik dia sudah menjima' istrinya atau belum.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 3 hal. 10 | Sarah

Wallahu a'lam bi Ash-shawab

Baca Lainnya :

Definisi Mut'ah
Zuria Ulfi | 13 October 2015, 13:09 | published
Hukum Mut'ah
Achadiah | 12 October 2015, 13:15 | published
Ukuran Nilai Mut'ah Bagi Wanita Yang Ditalak
Siska | 16 October 2015, 19:35 | draft