Kedudukan Saksi Dalam Akad Nikah

Sat 12 September 2015 13:14 | 0
Siti Maryam

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama apakah saksi termasuk rukun nikah, ataukah syarat ? juga kriteria saksi yang dapat diterima kesaksiannya. Berbicara tentang rukun dan syarat, sebuah pernikahan tidak dianggap sah kecuali jika memenuhi rukun dan syarat nya. Sederhananya rukun dan syarat adalah dua hal yang harus ada dalam akad nikah. Bedanya rukun merupakan bagian dari unsur pernikahan itu sendiri, namun syarat bukan bagian dari pernikahan.

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فقد اختلف أهل العلم فيه قال عامّة العلماء: إنّ الشّهادة شرط جواز النّكاح. ولنا ما روي عن رسول اللّه - صلّى اللّه عليه وسلّم - أنّه قال «لا نكاح إلّا بشهود» وروي «لا نكاح إلّا بشاهدين» وعن عبد اللّه بن عبّاس - رضي اللّه عنهما - عن رسول اللّه - صلّى اللّه عليه وسلّم - أنّه قال: «الزّانية الّتي تنكح نفسها بغير بيّنة» ولو لم تكن الشّهادة شرطا لم تكن زانية بدونها

Para 'ulama berbeda pendapat akan hal ini, dan sebagian besar berpendapat : bahwa saksi adalah syarat dibolehkannya nikah. (dan dalam pendapat kami) yang diriwayatkan dari Rasulullah - saw - bahwasanya beliau berkata <> dan diriwayatkan <> adalah orang yang menikahkan dirinya tanpa bukti, kalau saja saksi itu bukan dari syarat nikah maka seorang pezina tidak akan disebut pezina. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 252 | Fatimah

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

والحاصل أن أصل الإشهاد أي على النكاح واجب. وأما إحضارهما عند العقد فمستحب، فإن حصل الإشهاد عند العقد فقد وجد الأمران الاستحباب والوجوب، وإن فقد وقت العقد ووجد عند الدخول فقد حصل الواجب وفات الاستحباب وإن لم يوجد إشهاد عند العقد والدخول ولكن وجدت الشهود عند واحد منهما فالصحة قطعا، وإن لم يحصل الوجوب والاستحباب، وإن لم توجد شهود عند واحد منهما فالفساد قطعا

Asal hukum persaksian dalam pernikahan adalah wajib, sedangkan menghadirkan dua orang saksi ketika akad adalah mustahab. Maka jika ada persaksian dengan dua orang saksi dalam akad pernikahan, maka telah terlaksana dua hukum: wajib dan mustahab. Kalau ada persaksian (bukti-bukti), tapi tidak ada saksi-saksi yang menyaksikan akad atau kedua suami istri telah tinggal bersama, maka telah terpenuhi hukum wajib, tapi tidak terpenuhi hukum mustahab, ataupun tidak ada persaksian (bukti-bukti), tapi ada saksi-saksi yang menyaksikan ketika akad atau hidup bersama maka nikahnya sah. Maka ketika tidak ada bukti dan tidak pula saksi maka pernikahannya fasid (rusak). Bahkan ketika tidak ada saksi yang menyaksikan baik itu waktu akad, atau pun kehidupan bersama keduanya, maka pernikahannya rusak .

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 167 | Isna

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

ثم شرع في الركن الثالث، فقال: (ولا يصح) النكاح (إلا بحضرة شاهدين) لخبر ابن حبان في صحيحه عن عائشة - رضي الله تعالى عنها -: «لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل، وما كان من نكاح على غير ذلك فهو باطل، فإن تشاحوا فالسلطان ولي من لا ولي له»

kemudian disyari'atkan dalam rukun nikah yang ketiga, mushannif berkata: nikah itu tidak sah kecuali dengan adanya dua saksi yang adil seperti khabar dari Ibnu Hibban dalam hadist yang shahih dari Aisyah Radiallahuanha: "nikah itu tidak sah kecuali dengan adanya waki dan dua orang saksi yang adil dan apabila terjadi pernikahan salain ini maka nikahnya bathil, maka apabila mereka berseteru, sultan adalah wali bagi yang tidak punya wali." .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 234 | Azizah

Dalam madzhab syafi’i saksi merupakan rukun nikah. Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

الشرط الثاني من شرائط النكاح: أن يحضره شاهدان، لما روي عن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أنه قال: «لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل» رواه الخلال

syarat yang kedua dari syarat syarat menikah adalah: mendatangkan 2 saksi. sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Nabi berkata: "tidak sah pernikahan kecuali dengan menghadirkan wali dan dua orang saksi yang adil" (HR. al-Khilal) .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 16 | Ipung

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: ولا يتمّ النّكاح إلّا بإشهاد عدلين فصاعدا، أو بإعلان عامّ، فإن استكتم الشّاهدان لم يضرّ ذلك شيئا.

Dan pernikahan tidak sempurna kecuali dengan disaksikan dua saksi yang adil atau dengan diumumkan dipublik. Kalaupun para saksi menyembunyikan persaksiannya setelah itu, maka hal itu tidak apa-apa. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 48 | Maryam

Baca Lainnya :

Apakah Saksi Nikah Harus Orang Merdeka?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:14 | published
Apakah Saksi Nikah Harus Berstatus Adil
Siska | 12 September 2015, 13:14 | draft
Kedudukan Saksi Dalam Akad Nikah
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:14 | published
Bolehkah Tuna Netra Menjadi Saksi?
Nur Azizah Pulungan | 17 September 2015, 11:56 | published
Suami istri tidak sekufu siapa wali yang berhak memfasakh?
Fatimah Khairun Nisa | 30 October 2015, 05:48 | approved