Apakah Saksi Nikah Harus Orang Merdeka?

Sat 12 September 2015 13:14 | 0
Ipung Multiningsih

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

فأمّا بشهادة العبدين والصّبيّين لا ينعقد النّكاح؛ لأنّهما لا يقبلان هذا العقد بأنفسهما؛ ولأنّهما لا يصلحان للولاية في هذا العقد،

Sedangkan pernikahan dengan persaksian dua orang budak dan dua orang anak kecil maka tidak sah akad nikahnya, karena mereka berdua tidak bisa menerima akad dengan hanya dengan diri mereka sendiri, dank arena mereka berdua tidak boleh menjadi wali dalam akad ini, .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 32 | Fatimah

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وأما صفات الشاهد الذي ينعقد به النكاح وهي شرائط تحمل الشهادة للنكاح فمنها: العقل ومنها البلوغ ومنها الحرية فلا ينعقد النكاح بحضرة المجانين والصبيان والمماليك قنا كان المملوك أو مدبرا أو مكاتبا

Maka untuk sifat-sifat seorang saksi yang mana pernikahan itu akan sah dengannya terdapat beberapa syarat diantaranya: berakal, baligh, merdeka, maka tidaklah sah suatu pernikahan dengan saksi orang gila, anak kecil, dan budak baik budak qannan atau mudabbar atau mukatab..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 253 | Azizah

Budak qannan ialah budak dikarenakan ayahnya seorang budak,budak mudabbar ialah budak yang melarikan diri, dan budak mukatab ialah budak yang telah sepakat dengan tuannya bahwa apabila ia membayar dengan jumlah sekian maka ia akan dibebaskan. Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

م: (ولا بد من اعتبار الحرية فيهما) ش: أي في الشاهدين م: (لأن العبد لا شهادة له لعدم الولاية) ش: والشهادة من باب الولاية

Maka merdeka merupakan salah satu syarat yang harus dimiliki oleh kedua saksi karena seorang budak itu tidak boleh bersaksi dikarenakan dia tidak punya hak wali..

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 5 hal. 13 | Azizah

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وشرط في الشّهود أربعة الحرّيّة والعقل والبلوغ والإسلام فلا ينعقد بحضرة العبيد والمجانين والصّبيان والكفّار في نكاح المسلمين؛ لأنّه لا ولاية لهؤلاء،

Syarat dalam persaksian ada 4 : merdeka, berakal, baligh, islam, maka tidak sah pernikahan dengan kesaksian hamba sahaya, orang gila, anak kecil, orang kafir sebagai saksi dalam pernikahan orang muslim, karena mereka semua tidak mempunyai hak perwalian. .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 95 | Fatimah

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قوله: عند حرّين أو حرّ وحرّتين عاقلين بالغين مسلمين، ولو فاسقين أو محدودين أو أعميين أو ابني العاقدين

Perkataan beliau : disaksikan oleh dua orang merdeka atau satu orang lelaki merdeka dan dua orang wanita merdeka yang berakal, baligh dan muslim, meskipun merekaberdua fasiq, atau telah dijatuhi hukuman, atau buta, atau dua anak lelaki dari pasangan suami istri .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 94 | Fatimah

Al-'Adhwi (w. 1189 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani sebagai berikut :

إلا العدول] جمع عدل وهو الحر المسلم العاقل البالغ ... يصح التحمل من كل مميز ولو عبدا أو صبيا أو كافرا إلا في مسألتين وهما الشهادة على عقد النكاح

Kecuali dari orang-orang yang adil, yang dimaksudkan orang adil adalah orang yang merdeka, muslim, berakal, baligh... dan sah persaksian tahammul dari seorang mumayyiz, walaupun dia seorang budak, anak kecil atau kafir, keculi dalam dua masalah, diantaranya persaksian dalam pernikahan. .

Al-'Adhwi, Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani, jilid 2 hal. 345 | Isna

Dalam bab hukum persaksian, Al-Adwi menjelaskan tidak diterimanya persaksian kecuali dari orang yang adil, dan definisi adil adalah sebagaimana yang telah disebutkan. Sehingga diketahui bahwa merdeka merupakan syarat bagi seorang saksi.

Saksi tahammul adalah persaksian atas kejadian dimasa lalu setelah status seseorang berubah. Misalkan seorang budak menyaksiakan kejadian pembunuhan sewaktu dia masih budak, kemudian dia bersaksi di depan hakim saat dia telah merdeka, maka menurut madzhab persaksiannya diterima, kecuali persaksiannya atas pernikahan,maka itu tidak bisa diterima. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

لو بان الشاهد فاسقا حال العقد، فالنكاح باطل على المذهب، كما لو بان كافراأو عبدا

...Jika baru terungkap ketika akad bahwa saksi adalah seorang yang fasiq, maka pernikahannya bathil menurut pendapat mazhab, begitupun jika saksi tersebut kafir atau budak....

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 47 | Qathrin

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

ولا تشترط الحرية، ولا البصر؛ لأنها شهادة لا توجب حدا، فقبلت شهادتهما فيه

Saksi dalam pernikahan tidak disyaratkan status merdeka juga tidak hanya orang yang dapat melihat, karena persaksian dalam pernikahan tidak mewajibkan had, maka dari itu persaksian budak maupun orang yang buta dapat diterima..

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 17 | Maryam

bahwa dalam masalah jinayah seperti hukuman untuk pezina, saksi yang dianggap persaksiannnya harus berstatus merdeka. sedangkan dalam pernikahan seorang saksi tidak mesti orang yang merdeka. Artinya kesaksian seorang budak dalam pernikahan dapat diterima.

Baca Lainnya :

Apakah Saksi Nikah Harus Orang Merdeka?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:14 | published
Apakah Saksi Nikah Harus Berstatus Adil
Siska | 12 September 2015, 13:14 | draft
Kedudukan Saksi Dalam Akad Nikah
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:14 | published
Bolehkah Tuna Netra Menjadi Saksi?
Nur Azizah Pulungan | 17 September 2015, 11:56 | published
Suami istri tidak sekufu siapa wali yang berhak memfasakh?
Fatimah Khairun Nisa | 30 October 2015, 05:48 | approved