|


 

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

المعضولة ترفع أمرها للحاكم فيأمر الحاكم وليها بالعقد عليها أو يعقد لها الحاكم لا بد من إذنها بالقول

Seorang wanita yang walinya enggan menikahkannya, maka dia mengembalikan masalahnya kepada hakim. Hakim yang kemudian memerintahkan walinya untuk menikahkannya, atau dia sendiri yang bakal menikahkannya dengan ijin wanita tersebut secara jelas dari perkataannya.

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 2 hal. 7 | Isna

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

فإن امتنع الولي من تزويجها بالكفء الذي رضيت به في المسألتين أمره الحاكم إلخ. (قوله: في المسألتين) الأولى ما إذا طلبها كفء ورضيت به طلبت التزويج به أو لا والثانية ما إذا دعت لكفء ودعا وليها لكفء آخر

(قوله: ثم إن امتنع) أي بعد أمر الحاكم زوجها الحاكم وحاصل الفقه أنه إذا امتنع الولي غير المجبر من تزويجها بالكفء الذي رضيت به في المسألتين فإن الحاكم يسأله عن وجه امتناعه فإن أبدى وجها ورآه صوابا ردها إليه، وإن لم يبد وجها صحيحا أمر بتزويجها فإن امتنع من تزويجها بعد الأمر زوجها الحاكم هذا حاصل كلام الشارح وهو الصواب خلافا لما في عبق فانظره

(قوله: ولا ينتقل) أي بسبب امتناعه من تزويجها لكفئها الحق للأبعد مثله في التوضيح ونصه قال في العمدة: المزوج مع عضل الأب الحاكم بلا إشكال كما نص عليه المتيطي وغيره من الموثقين، وهو ظاهر في أنه إذا امتنع الولي الأقرب انتقلت الولاية للحاكم لا للأبعد. وخالف في ذلك ابن عبد السلام فقال: إنما يزوجها الحاكم عند عدم الولي غير العاضل، وأما عند وجوده فينتقل الحق للأبعد؛ لأن عضل الأقرب واستمراره على الامتناع صيره بمنزلة العدم فينتقل الحق للأبعد، وأما الحاكم فلا يظهر كونه وكيلا له إلا إذا لم يظهر منه امتناع كما لو كان غائبا مثلا

Jika seorang wali enggan menikahkan puterinya dengan orang yang sekufu (sepadan), yang dia ridha dengan laki-laki tersebut, dalam dua masalah, maka diserahkan masalahnya ke hakim.

Jika wali enggan menikahkan puterinya setelah hakim memerintahkannya, maka hakimlah yang menikahkannya.

Penulis menjelaskan: Tidaklah berpindah kewalian seorang ayah kepada yang wali dari kerabat yang jauh, dikarenakan dia enggan menikahkan puterinya, kepada orang yang sepadan dengannya, sebagaimana dikatakan dalam kitab al-'umdah: Dengan ketidakmauan seorang ayah menikahkan puterinya, maka hakimlah yang menikahkannya. Sebagaimana hal ini juga dituliskan oleh Al-Matithi dan selainnya dari para ulama terpercaya.

Jelasnya, Jika seorang wali dari kerabat dekat enggan menikahkan, maka kewaliannya berpindah kepada hakim, bukan kepada wali dari kerabat jauh.

Dalam masalah ini, Ibnu 'Abdi Salam berbeda pendapat dengan ulama malikiyah lainnya, beliau mengatakan: Bahwasanya seorang hakim menikahkan wanita, jika wali dari kerabat jauh tidak ada. Kalau wali dari kerabat jauh masih ada, maka kewaliannya berpindah kepada mereka. Sedangkan hakim tidaklah dia sebagai mewakili, kecuali ketidak adaan wali yang bisa menikahkan, seperti walinya telah hilang. .

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 231 | Isna

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

قال الشافعي رحمه الله تعالى: " ولو عضلها الولي زوجها السلطان والعضل أن تدعو إلى مثلها فيمتنع ". قال الماوردي: وهذا صحيح

Imam Syafi’i Rahimahullahu berkata: Apabila seorang wali melarang anak perempuannya untuk menikah maka hakim boleh menikahkannya, dan adhl itu ialah ketika seorang wanita ingin menikah dengan lelaki yang sekufu’ dengannya kemudian walinya melarang. Mawardi berkata: inilah pendapat yang benar .

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 112 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin sebagai berikut :

وإنما يحصل العضل إذا دعت بالغة عاقلة إلى كفء وامتنع ولو عينت كفؤا وأراد الأب غيره فله ذلك في الأصح.

Adhl itu terjadi ketika seorang wanita yang sudah berakal dan baligh menikah dengan orang yang sekufu’ dengannya dan wali melarangnya walupun kekufu’annya sudah diketahui akan tetapi wali ingin menikahkannya dengan yang lain maka itu diperbolehkan..

An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 1 hal. 207 | Azizah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

الحكم الثالث، إذا عضلها وليها الأقرب، انتقلت الولاية إلى الأبعد. نص عليه أحمد وعنه رواية أخرى، تنتقل إلى السلطان.. ولنا، أنه تعذر التزويج من جهة الأقرب، فملكه الأبعد، كما لو جن. ولأنه يفسق بالعضل، فتنتقل فإن عضل الأولياء كلهم زوج الحاكم. والحديث حجة لنا؛ لقوله: «السلطان ولي من لا ولي له» . وهذه لها ولي. ويمكن حمله على ما إذا عضل الكل، لأن قوله: (فإن اشتجروا) . ضمير جمع يتناول الكل

Apabila wali perempuan yang dekat menolaknya, maka perwalian pindah kepada yang ab’ad, ini diriwayatkan dari Imam Ahmad. Dan di riwayat lain disebutkan perwalian pindah kepada shultan (hakim)…. Dan menurut madzhab kami adalah: jika wali yang dekat tidak bisa menikahkan, maka wali ab’ad boleh, seperti jika walinya gila, dia menjadi fasiq karena adhl maka perwalian berpindah. Dan ternyata jika semua wali-wali menolak maka hakimlah yang menikahkan perempuan tersebut. Dan hadist adalah hujjah bagi kita, dan sebagaimana perkataan Rasulullah saw “shulthan adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali”. Sehingga wanita memiliki wali. Dan bisa di artikan jika semua wali menolak, karena perkataannya (Dan jika mereka berseteru). Disini memakaikata ganti jama’ yang dimana mengandung arti “setiap” .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 30 | Ipung

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

وإن دعت المرأة وليها إلى تزويجها من كفء فعضلها، فللأبعد تزويجه

Dan apabila seorang wanita meminta walinya untuk menikahkannya dengan seorang yang sepadan, namun walinya menolak, maka walinya yang ab’adlah (yang paling jauh) menikahkannya.

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 13 | Ipung

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

قوله (وإن عضل الأقرب زوج الأبعد) . هذا الصحيح من المذهب. " العضل " منع المرأة التزوج بكفئها إذا طلبت ذلك، ورغب كل منهما في صاحبه، سواء طلبت ذلك بمهر مثلها أو دونه.

Perkataan Abu naja dalam al iqna’: jika wali’ yang dekat tidak mau menikahkan maka yang berhak menikahkan adalah wali yang jauh. Ini adalah pendapat yang sahih menurut madzhab..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 75 | Maryam

Definisi ‘adhal menurut madzhab Hanbali adalah: ketika wali menolak perminataan perempuan yang berada dalam tanggungannya untuk dinikahkan dengan laki-laki yang sekufu dengan wanita tersebut. SEdngkn mereka berdua saling suka. Baik perempuan tersebut meminta mahar standar atau pun mahar yang lebih sedikit dari mahar mitsal (standar). Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

(فإن عدم الولي مطلقا) بأن لم يوجد أحد ممن تقدم (أو عضل) وليها ولم يوجد غيره (زوجها ذو سلطان في ذلك المكان، كوالي البلد أو كبيره أو أمير القافلة ونحوه) لأن له سلطنة، (فإن تعذر) ذو سلطان في ذلك المكان (زوجها عدل بإذنها قال) الإمام (أحمد في دهقان قرية

Jika tidak ada wali secara muthlaq, tidak ada seorangpun yang maju, atau sang wali menolak dan tidak ada wali lainnya , maka dalam masalah ini yang menikahkan adalah yang punya kekuasaan yaitu wali hakim setempat, seperti waliNegara atau pembesar atau kepala kelompok dan semisalnya, karena ia memiliki kekuasaan . Namun jika sang hakim setempat berhalangan, maka yang menikahan adalah seseorang yang adil dengan izin perempuannya..

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 52 | Maryam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولا يحل للمرأة نكاح - ثيبا كانت أو بكرا - إلا بإذن وليها الأب، أو الإخوة، أو الجد، أو الأعمام، أو بني الأعمام - وإن بعدوا - والأقرب فالأقرب أولى….فإن أبى أولياؤها من الإذن لها: زوجها السلطان. برهان ذلك -: قول الله عز جل: {وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم} [النور: 32]

Seorang perempuan tidak boleh menikah baik ia gadis ataupun perawan kecuali atas izin walinya, yaitu ayahnya, atau saudaranya, atau kakeknya, atau pamannya, atau anak pamannya, walaupun jalur kekerabatnnya jauh, dan yang paling berhak menjadi walinya adalah yang paling dekat kekerabatannya dengan wanita tersebut… Jika para wali yang lebih dekat tidak memberi izin untuk menikahkan perempuan tersebut, maka ia dinakhkan oleh shulthan (pemimpin) berdasarkan dalil: (An-Nur 32.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 25 | Maryam

Baca Lainnya :