Wali Ijbar

Sat 12 September 2015 13:11 | 0
Siti Maryam

Yang dimaksud dengan wali mujbir adalah wali yang mempunyai otoritas untuk memaksa anaknya menikah, dan jika terjadi maka status pernikahannya adalah sah selama memenuhi rukun dan syaratnya. Para ulama sepakat bahwa wali mujbir adalah ayah. Namun, mereka berbeda pendapat apakah kakek juga termasuk wali mujbir? Dan apakah yang boleh dipaksa hanya anak perempuan? Berikut keterangan dari para ulama madzhab.

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وأما ولاية الحتم والإيجاب والاستبداد فشرط ثبوتها على أصل أصحابنا كون المولى عليه صغيرا أو صغيرة أو مجنونا كبيرا أو مجنونة كبيرة سواء كانت الصغيرة بكرا أو ثيبا فلا تثبت هذه الولاية على البالغ العاقل ولا على العاقلة البالغة…… أما طريق أبي حنيفة: فهو أن ولاية الحتم والإيجاب في حالة الصغر إنما تثبت بطريق النيابة عن الصغيرة لعجزها عن التصرف على وجه النظر والمصلحة بنفسها، وبالبلوغ والعقل زال العجز وثبتت القدرة حقيقة

perwalian ada 2 macam, dalam madzhab hanafi yang dimaksud wali mujbir disini dinamakan dengan wali ‘hatmin wal ijab wal istibdad’, dalam madzhab kami syarat-syarat perwalian ini, jika yang diwalikan adalah : anak kecil laki-laki atau perempuan, orang gila laki-laki atau perempuan, baik anak kecilnya masih gadis atau sudah janda, maka perwalian ini tidak bisa diterapkan untuk anak gadis yang sudah baligh dan berakal…… Pendapat pribadi Abu Hanifah bahwa wilayah al-hatmi wal ijab dilakukan dengan cara perwakilan, yakni anak kecil tersebut mewakilkan dirinya kepada walinya, dengan alasan karena seorang anak kecil itu tidak mampu melakukannya dalam tinjauan yang luas, dan tidak mengetahui maslahat untuk dirinya, maka dari itu, hal ini tidak berlaku dengan adanya baligh dan akal sehat, karena seorang gadis dianggap mampu melakukannya dan mengetahui apa yang menjadi maslahat untuk dirinya. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 241 | Fatimah

Madzhab Hanafi berpendapat bahwa otoritas wali hanya pada pernikahan anak perempuan atau laki-laki yang masih kecil ataupun yang tidak sempurna akalnya. Artinya jika perempuan sudah dewasa ia boleh menikahkan dirinya tanpa wali, begitupula anak laki-laki. Jadi otoritas wali mujbir hanya pada anak yang dalam keadaan seperti itu. Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

الأول من الولي المجبر المالك لأمة أو عبد( قوله: [الأول المالك] : قدمه لقوة تصرفه لأنه يزوج الأمة مع وجود أبيها وله جبر الثيب والبكر والكبيرة والصغيرة والذكر والأنثى، لأنهما مال من أمواله وله أن يصلح ماله بأي وجه…… )الثاني من الولي المجبر الأب( قوله: [فأب] : أي رشيد... أي والحال أنها بالغة إذ الصغيرة لا ترشد، ثم ما ذكره المصنف من عدم جبر المرشدة هو المعروف من المذهب…... )الثالث من الولي المجبر وصي الأب( قوله: [كأنت وصيي عليها] : حاصل المسألة أن الأب إذا قال للوصي: أنت وصيي على بضع بناتي، أو على نكاح بناتي أو على تزويجهن، أو وصيي على بنتي تزوجها ممن أحببت، له الجبر على الراجح، وإن لم يذكر شيئا من النكاح أو التزويج أو البضع فالراجح عدم الجبر، كما إذا قال: أنت وصيي على بناتي أو على بعض بناتي أو على بنتي فلانة، وأما لو قال: أنت وصيي فقط أو على مالي أو بيع تركتي أو قبض ديني، فلا جبر اتفاقا،

Pertama dari wali yang mempunyai haq ijbar (memaksa) adalah tuan yang mempunyai budak perempuan ataupun budak laki-laki. Seorang tuan lebih diutamakan karena posisinya yang lebih kuat sebagai tuan, Dia berhak menikahkan budak perempuannya walaupun ayahnya ada, dia berhak menikahkan budaknya yang janda, maupun perawan, yang sudah dewasa maupun kecil, laki-laki maupun perempuan, karena mereka adalah milik tuannya, maka tuannya berhak melakukan apapun yang menjadi miliknya. Kedua dari wali yang mempunyai hak ijbar (memaksa) adalah ayah. Jika dia orang yang rasyid (dewasa dan bijaksana)... Dan keadaan anak perempuan yang bisa dipaksa menikah kalau dia masih kecil dan belum dewasa dan sempurna akalnya (rasyidah). Kemudian yang dimaksudkan penulis adalah ayah tidak berhak memaksa anak perempuannya yang telah dewasa dan sempurna akalnya (rasyidah). Inilah yang terkanal dalam madzhab malikiyah Ketiga dari wali yang mempunyai hak ijbar adalah penerima wasiat dari ayah perempuan. Kesimpulan masalah, seorang ayah berkata kepada seseorang: Kamu orang yang saya wasiatkan untuk menikahi atau menikahkan anak perempuan saya, atau kamu berhak menikahkan anak perempuan saya dengan siapa yang kamu kehendaki. Maka penerima wasiat ini mempunyai hak ijbar atas anak perempuan tersebut. Dan kalau sang ayah dalam wasiatnya tidak menyebutkan kata "nikah" atau "menikahkan", maka berdasarkan pendapat yang kuat dalam madzhab kami, dia tidak berhak memaksa anak perempuan tersebut. Seperti perkataan seorang ayah: Anak-anak perempuan saya wasiatkan kepadamu. Terlebih jika perkataan itu masih umum, seperti: Kamu orang yang saya wasiatkan. Tanpa menyebutkan apapun, maka dia sama sekali tidak punya hak ijbar terhadap anak perempuan tersebut berdasarkan kesepakatan para ulama. .

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 351 | Isna

Dalam madzhab maliki, terdapat tiga posisi yang menyebabkan seseorang menjadi wali ijbar. Seorang tuan atas budaknya, seorang ayah, dan orang yang mendapat wasiat dari seorang ayah. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

أقر الولي بإنكاحها، إن كان له إنشاء النكاح المقر به عند الإقرار بغير رضاها، قبل إقراره، لقدرته على الإنشاء. ...وإن لم يكن له الإنشاء بغير رضاها، لكونه غير مجبر، أو الحال غير حال الإجبار، أو الزوج ليس بكفء، لم يقبل إقراره... فللأب تزويج البكر الصغيرة والكبيرة بغير إذنها، ويستحب استئذان البالغة. ولو أجبرها، صح النكاح فلو كان بين الأب وبينها عداوةٌ ظاهرةٌ. ... والجد كالأب في كل هذا...

Seorang wali berhak menikahkan anak perempuannya, jika dia memiliki alasan kuat untuk mengadakan pernikahan tanpa izin dari anak perempuannya, maka kehendak wali diterima karena dia berhak untuk menentukan... dan jika bukan termasuk yang berhak menentukan tanpa izin anak perempuannya, karena dia bukan wali ‘mujbir’ (yang berhak memaksa), atau dalam kondisi yang tidak boleh memaksa, atau calon suaminya tidak sekufu, maka tidak boleh memaksa... ayah boleh menikahkan anak gadisnya baik kecil (belum baligh) maupun dewasa (sudah baligh) tanpa meminta izinnya, dan lebih utama meminta izinnya jika ia telah baligh, jikapun sang ayah memaksa maka nikahnya sah .. dan kedudukan kakek sama seperti ayah dalam hal ini. .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 52 | Qathrin

Dalam madzhab syafi’i, seorang ayah maupun kakek mempunyai otoritas mutlak untuk menikahkan anak laki-laki yang masih kecil, maupun anak gadisnya, baik yang kecil maupun dewasa dengan syarat tidak ada permusuhan antara ayah atu kakek dan anak tersebut. Namun meminta izin lebih diutamakan. Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

مسألةٌ ليس لغير الأب إجبار كبيرة ولا تزويج صغيرة جدا( مسألةٌ؛ قال: وليس هذا لغير الأب. يعني ليس لغير الأب إجبار كبيرة، ولا تزويج صغيرة، جدا كان أو غيره.

Masalah: selain ayah tidak berhak memaksa untuk menikahkan anak perempuannya yang besar, dan tidak pula anak perempuannya yang masih kecil sekali..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 41 | Ipung

Dalam madzhab hanbali, yang berhak menjadi wali mujbir hanya ayah, walupun terdapat riwayat dari beberapa ulama kalangan madzhab yang menyatakan bahwa imam Ahmad membolehkan seorang kakek mempunyai hak untuk menikahkan cucunya secara paksa. Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وللأب أن يزوج ابنته الصغيرة البكر - ما لم تبلغ - بغير إذنها، ولا خيار لها إذا بلغت فإن كانت ثيبا من زوج مات عنها أو طلقها لم يجز للأب ولا لغيره أن يزوجها حتى تبلغ

Bapak berhak memaksa anak perempuannya yang masih kecil untuk menikah, selama ia belum baligh. Jika ia sudah baligh, ia tidak mempunyai hak khiyar (memilih untuk melanjutkan pernikahannya atau mensudahinya), adapun jika ia janda sebelum baligh karena ditinggal mati suaminya, atau karena ditalak maka bapaknya maupun walinya yang lain tidak boleh memaksanya menikah sampai ia baligh .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 38 | Maryam

Baca Lainnya :

Urutan Wali
Ipung Multiningsih | 9 October 2015, 17:33 | draft
Nikah Tanpa Wali, Sah atau Tidak?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:09 | published
Haruskah Wali Berstatus Adil?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:10 | draft
Bolehkah Wanita Menjadi Wali Nikah?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:10 | draft
Apakah Rusyd Menjadi Syarat Bagi Wali Nikah?
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:11 | draft
Wali Ijbar
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:11 | published
Wali Ghairu Ijbar
Isnawati | 12 September 2015, 13:12 | draft
Wali 'Adhal
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:12 | draft
Siapakah yang Berhak Menfasakh?
Isnawati | 30 October 2015, 18:03 | approved
Para wali nikah berselisih dalam memfasakh pernikahan, jatuhkah fasakhnya?
Fatimah Khairun Nisa | 30 October 2015, 05:49 | approved