|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وكذا العدالة ليست بشرط لثبوت الولاية عند أصحابنا، وللفاسق أن يزوّج ابنه وابنته الصّغيرين.

begitu juga sifat adil bukanlah syarat ditetapkannya sebuah perwalian dalam madzhab kami, maka boleh bagi seorang yg fasiq menikahkan putra atau putrinya yang masih kecil..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 239 | Fatimah

berbeda dengan madzhab lainnya yang mewajibkan adanya wali, dan tidak diperbolehkannya perempuan menikahkan sendiri, maka dari itu madzhab ini juga tidak mensyaratkan adil bagi seorang wali nikah. Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

(ولنا أنّه) أي الفاسق (من أهل الولاية فيكون من أهل الشّهادة)

(dan dalam madzhab kami, bahwasanya dia) maksudnya adalah orang yang fasiq (termasuk dalam orang-orang yang boleh menjadi wali, maka dia juga termasuk kedalam kelompok orang-orang yang boleh menjadi saksi).

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 201 | Fatimah

Diperbolehkan saksi dan wali dalam madzhab ini seorang yang fasiq dan bukan seorang yang adil. Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

شروط الولاية ثمانية: ستة متفق عليها واثنان مختلف فيهما فالستة: أن يكون حرا بالغا عاقلا ذكرا حلالا مسلما والاثنان: أن يكون رشيدا عدلا اهـ.

Syarat wali ada delapan. Enam diantaranya yang disepakati, yaitu: Merdeka, baligh, berakal, laki-laki, halal, dan muslim, dan dua yang masih diperselisihkan: Rusyd dan adil.

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 438 | Isna

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ولا يجوز أن يكون فاسقا على المنصوص

Wali tidak boleh seseorang yang fasiq seperti di dalam nash.

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 157 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

قلت: ذكر صاحب (الحاوي) فيما إذا كانت امرأة في موضع ليس فيه ولي ولا حاكم، ثلاثة أوجه. أحدها: لا تزوج. والثاني: تزوج نفسها للضرورة. والثالث: تولي أمرها رجلا يزوجها.... فالذي نختاره، صحة النكاح إذا ولت أمرها عدلا وإن لم يكن مجتهدا...

Pendapat saya : Penulis (al-Hawi) menyebutkan jika seorang wanita tidak memilki wali dan hakim maka ada tiga pendapat, pertama : tidak boleh dinikahi, kedua : dia boleh menikahkan dirinya sendiri karena darurat, ketiga : dia menyerahkan perwalian kepada laki-laki yang akan menikahinya...pendapat yang kami pilih sah pernikahan wanita tersebut jika dia menyerahkan urusannya kepada seseorang yang adil meskipun bukan mujtahid....

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 50 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

المانع الثّالث: الفسق فيه سبع طرق. أشهرها: في ولاية الفاسق قولان، وقيل بالمنع قطعا. وقيل: يلي قطعا. ... وأمّا الرّاجح، فالظّاهر من مذهب الشّافعيّ - رضي اللّه عنه -: منع ولاية الفاسق،... إذا قلنا: الفاسق لا يلي، فالولاية للأبعد على الصّحيح، وبه قطع الجمهور.

Hal ketiga yang menghalanginya menjadi wali : Fasiq dalam hal ini ada tujuh pendapat. Yang paling masyhur : dalam hal perwalian fasiq ada dua pendapat, ada yang mengatakan tidak tidak boleh menjadi wali sama sekali. Dan ada yang mengatakan boleh menjadi wali....dan yang paling rajih di dalam mazhab syafi’i –radhiallahu ‘anhu- : tidak boleh mengangkat seorang yang fasiq menjadi wali... Maka kami berpendapat : seseorang yang fasiq tidak boleh menjadi wali, dan perwalian dialihkan kepada ‘wali ab’ad’ menurut pendapat yang paling shahih dan pendapat jumhur. , .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 64 | Qathrin

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(الطّرف الثّالث في موانع الْولاية) وهي الرّقّ ... والْفسْق.

(Bagian ketiga dalam pembahasan hal-hal yang menghalangi perwalian) yaitu perbudakan... dan fasiq.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 130 | Qathrin

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

ولا ولاية لفاسق) غير الإمام الأعظم (على المذهب) للحديث الصحيح «لا نكاح إلا بولي» مرشد أي عدل عاقل فيزوج الأبعد واختار أكثر متأخري الأصحاب

Perwalian itu tidak boleh bagi seorang yang fasiq yang bukan termasuk seorang imam yang besar, dalam mazhab ini seperti dikatakan dalam hadits shahih : "nikah itu tidak sah kecuali dengan adanya wali", yaitu sorang wali yang mursyid atau adil, berakal, maka yang menikahkan adalah wali ab'ad, pendapat ini dipilih oleh para sahabat yang muta'akhir.

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 7 hal. 255 | Azizah

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

(ولا ولاية لفاسق) غير الإمام الأعظم مجبرا كان أو لا، فسق بشرب الخمر أو لا، أعلن بفسقه أو لا (على المذهب) بل تنتقل الولاية للأبعد لحديث: «لا نكاح إلا بولي مرشد» رواه الشافعي في مسنده بسند صحيح. ونقل ابن داود عن الشافعي في البويطي أنه قال: المراد بالمرشد في الحديث العدل،

perwalian itu tidak sah bagi seorang yang fasik yang bukan termasuk imam yang besar, baik dia wali mujbir atau bukan, kemudian apakah fasiqnya itu dikarenakan seringnya minum khamar atau tidak, atau apakah fasiqnya itu tersebar atau tidak, dalam mazhab ini. akan tetapi perwalian itu diperbolehkan bagi wali ab'ad, seperti yang dikatakan dalam hadits: "nikah itu tidak sah kecuali dengan adanya wali yang mursyid" hadits ini diriwayatkan oleh Imam Syafi'i dalam musnadnya dengan sanad yang shahih. Ibnu Daud mengambil dari Imam Syafi'i dalam kitab Al-Buwaiti bahwasanya ia berkata: yang dimaksud dari mursyid dalam hadits ini ialah 'adl.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 255 | Azizah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

الشرط السادس، العدالة. في كونها شرطا روايتان؛ إحداهما، هي شرط. قال أحمد: إذا كان القاضي مثل ابن الحلبي وابن الجعدي استقبل النكاح. فظاهر هذا أنه أفسد النكاح لانتفاء عدالة المتولي له..... والرواية الأخرى، ليست بشرط. نقل مثنى بن جامع، أنه سأل أحمد: إذا تزوج بولي فاسق، وشهود غير عدول؟ فلم ير أنه يفسد من النكاح شيء، وهذا ظاهر كلام الخرقي؛ لأنه ذكر الطفل والعبد والكافر، ولم يذكر الفاسق

syarat yang ke-enam untuk menjadi wali adalah adil. terdapat 2 riwayat yang berkaitan dengan hal ini: salah satunya ia adalah syarat untuk menjadi wali. Imam Ahmad berkata: apabila hakumnya seperti ibnu al-Halaby dan ibnu al-Ja'di maka nikahnya diterima. Dan yang paling benar adalah nikahnya fasid karena tidak adanya sifat adil dari wali.... Dan di riwayat yang lain Ahmad berkata: adil bukanlah syarat wali, diriwayatkan dari mutsanna bin jami', ia bertanya kepada Imam Ahmad: jika ia di nikahkan oleh wali yang fasiq, dan saksi yang tidak adil maka ia tidak berpendapat bahwa hal tersebut merusak nikah, dan ini adalah dzahir perkataan al-khiraqy, karena ia hanya menyebutkan anak laki-laki kecil dan hamba sahaya, kafir, (yang merusak nikah) dan tidak menyebutkan fasiq dalam syarat yang merusak pernikahan. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 22 | Ipung

Ibnu Qudamah memaparkan 2 riwayat disini, pertama bahwa adil adalah syarat wali, dan yang kedua bukanlah syarat wali. Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

فصل: ويشترط للولي ثمانية شروط. السادس: العدالة. ..

Dan syarat menjadi wali adalah adil. Wali memiliki 8 syarat: dan syarat yang ke enam adalah keadilan.

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 12 | Ipung

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Majmu' Fatawa sebagai berikut :

والنكاح بولاية الفاسق: يصح عند جماهير الأئمة

fatawa: Nikah dengan wali yang fasik diperbolehkan menurut mayoritas ulama..

Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 32 hal. 101 | Maryam

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

لا تشترط العدالة فيصح تزويج الفاسق. وهو ظاهر كلام الخرقي؛ لأنه ذكر الطفل، والعبد، والكافر. ولم يذكر الفاسق. فعلى المذهب: يكفي مستور الحال. على الصحيح من المذهب. وحمل صاحب التصحيح كلام المصنف عليه. وجزم به في الكافي، والمحرر، والمنور، وغيرهم. قلت: وهو الصواب.

Wali tidak disyaratkan adil, maka orang fasik boleh menjadi wali. ini adalah perkataan al khiraqi, maka dari itu beliau membolehkan anak kecil, budak, maupun orang kafir untuk mrnjadi wali. Adapun pendapat resmi madzhab : cukup menilai dengan yang dzahir.... Menurut saya: inilah pendapat yang benar.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 74 | Maryam

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

و) السادس: (عدالة) لما روي عن ابن عباس «لا نكاح إلا بشاهدي عدل وولي مرشد» قال أحمد: أصح شيء في هذا قول ابن عباس…. لأنها ولاية نظرية فلا يستبد بها الفاسق كولاية المال، (ولو) كان الولي عدلا (ظاهرا) فيكفي مستور الحال لأن اشتراط العدل ظاهرا وباطنا حرج ومشقة ويفضي إلى بطلان غالب الأنكحة، (إلا في سلطان) يزوج من لا ولي لها فلا تشترط عدالته للحاجة (. (و) إلا في (سيد) يزوج أمته فلا تشترط عدالته لأنه تصرف في أمته أشبه ما لو أجرها.

Syarat yang ke enam untuk menjadi wali nikah yaitu : adil Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh ibnu abbas “ tidak sah sebuah pernikahan tanpa dengan 2 saksi yang adil dan wali yang mursyid. Imam Ahmad berkata: dan yang paling benar adalah perkataan ibnu Abbas.. Karena adil adalah perwalian yang tidak bisa digantikan dengan sifat fasik, sebagaimana perwalian dalam harta. JIka wali disyaratkan harus adil secara jelas dan dzahir, maka cukup menilai dengan apa yang yang terlihat dari keadaannya, karena mensyaratkan keadilan secara dzahir dan batin adalah sesuatu yang susah dan memberatkan, serta akan menjadikan batalnya sebagian besar pernikahan, (kecuali bagi wali hakim), menikahkan perempuan yang tidak memiliki wali, maka tidak di syaratkan keadilannya karena untuk kebutuhan..

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 54 | Ipung

Baca Lainnya :