Nikah Tanpa Wali, Sah atau Tidak?

Sat 12 September 2015 13:09 | 0
Qathrin Izzah Fithri

Wali adalah salah satu rukun dalam pernikahan. Dan sebagaimana kita tahu sah atau tidaknya sesuatu tergantung pada rukun, apakah sudah terpenuhi atau belum. Namun, jika terjadi pernikahan tanpa ada wali, sah atau tidak nikah tersebut? Berikut pemaparan para ulama.

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

(قال:) - رضي الله عنه - بلغنا عن علي بن أبي طالب - رضي الله عنه - أن امرأة زوجت ابنتها برضاها فجاء أولياؤها فخاصموها إلى علي - رضي الله عنه - فأجاز النكاح، وفي هذا دليل على أن المرأة إذا زوجت نفسها أو أمرت غير الولي أن يزوجها فزوجها جاز النكاح وبه أخذ أبو حنيفة - رحمه الله تعالى - سواء كانت بكرا أو ثيبا إذا زوجت نفسها جاز النكاح في ظاهر الرواية سواء كان الزوج كفؤا لها أو غير كفء فالنكاح صحيح

Dia berkata telah sampai kepada kita perkataan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya seorang wanita telah menikahkan anak perempuannya dengan ridha sang anak, kemudian datang para wali si anak dan mempermasalahkan hal itu kepada Ali, lalu Ali Radhiyallahu ‘anhu memperbolehkan pernikahan tersebut,. Ini adalah dalil akan kebolehan seorang wanita menikahkan dirinya sendiri atau dia memerintahkan selain walinya untuk menikahkan dia, maka pernikahannya boleh, ini adalah pendapat yang diambil oleh Abu Hanifah, entah itu perawan atau janda, kufu’ atau tidak kufu’ maka nikahnya boleh..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 10 | Fatimah

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قال - رحمه الله - (نفذ نكاح حرة مكلفة بلا ولي)، وهذا عند أبي حنيفة وأبي يوسف في ظاهر الرواية

قال - رحمه الله - (نفذ نكاح حرة مكلفة بلا ولي)، وهذا عند أبي حنيفة وأبي يوسف في ظاهر الرواية.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 117 | Fatimah

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

[يحصل منه ومن غيره] : أي فالعقد لا يتحصل إلا من اثنين كما تقدم أحدهما في النكاح ولي الزوجة والآخر الزوج أو وكيله

(Nikah terdiri dari suami, dan wali wanita) : Akad pernikahan tidak akan terjadi kecuali dilakukan oleh dua orang, wali dan suami atau yang mewakilinya. .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 2 hal. 550 | Isna

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

أما الولي والزوجة والزوج والصيغة فلا بد منها ولا يكون نكاح شرعي إلا بها لكن الظاهر أن الزوج والزوجة ركنان والولي والصيغة شرطان،

Wali, istri, suami dan shigat ijab dan qabul, merupakan hal-hal yang harus terpenuhi dalam pernikahan. Meskipun kalau dilihat secara dzahir, suami dan istri itulah rukun dalam pernikahan, wali dan akad hanyalah syarat..

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 419 | Isna

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

أن الولي شرط في نكاحها لا يصح العقد إلا به وليس لها أن تنفرد بالعقد على نفسها، وإن أذن لها وليها سواء كانت صغيرة أو كبيرة، شريفة أو دنية، بكرا أو ثيبا.

Sesungguhnya wali merupakan syarat untuk menikahinya (perempuan), dan akad tidak akan sah tanpanya, dan seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri, walaupun walinya memberikan izin kepadanya, baik dia itu masih kecil atau sudah besar, mulia atau hina, bikr atau tsayib..

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 38 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

ولا تصح عبارة المرأة في النكاح إيجابا وقبولا. فلا تزوج نفسها بإذن الولي ولا بغير إذنه، ولا غيرها، لا بولاية ولا وكالة...

ولا تصح عبارة المرأة في النكاح إيجابا وقبولا. فلا تزوج نفسها بإذن الولي ولا بغير إذنه، ولا غيرها، لا بولاية ولا وكالة... .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 50 | Qathrin

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(الركن الرابع العاقدان) كما في البيع (وهما الزوج والولي أو النائب) عن كل منهما (فلا تعقد امرأة) نكاحها (بولاية ولا وكالة) سواء الإيجاب والقبول... وتقدم خبر لا نكاح إلا بولي

(Rukun keempat adalah dua pihak yang melakukan akad) sebagaimana dalam jual beli (yakni suami dan dan wali atau yang mewakili) dari masing-masing pihak (maka wanita tidak boleh melakukan akad) dalam pernikahan (sebagai wali atau wakil dari wali) baik ijab atau qabul... dan telah disebutkan sebelumnya bahwa tidak sah pernikahan tanpa wali..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 125 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

(لا تزوج امرأة نفسها) أي لا تملك مباشرة ذلك بحال لا (بإذن) ولا بغيره سواء الإيجاب والقبول؛

(Seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri) yakni dia tidak punya hak sedikitpun secara langsung ataupun hanya dengan izinnya atau yang lainnya, baik itu berupa ijab maupun qabul,.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 239 | Azizah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

أن النكاح لا يصح إلا بولي، ولا تملك المرأة تزويج نفسها ولا غيرها، ولا توكيل غير وليها في تزويجها. فإن فعلت، لم يصح النكاح

Bahwasannya pernikahan tidaklah sah kecuali dengan wali, dan wanita tidak bisa menikahkan dirinya sendiri, begitupun tidak dapat menikahkan orang lain, dan tidak dapat mewakili selain walinya dalam pernikahannya, jika ia melakukan hal tersebut maka nikahnya tidak sah..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 7 | Ipung

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

}باب شرائط النكاح{ وهي خمسة. أحدها: الولي، فإن عقدته المرأة لنفسها، أو لغيرها بإذن وليها، أو بغير إذنه لم يصح، لما روت عائشة أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: «لا نكاح إلا بولي» قال أحمد ويحيى: هذا حديث صحيح

(Bab syarat-syarat nikah) ada 5. Salah satunya : ada wali, jadi jika wanita menikah dan akad untuk dirinya, atau orang lain baik dengan izin walinya ataupun tidak , maka Nikahnya tidak sah. sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh aisyah , bahwasannya Rasul bersabda:" tidak sah pernikahan tanpa wali”. Ahmad dan Yahya berkata : Hadits ini shahih. .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 7 hal. 7 | Ipung

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

)فلا نكاح إلا بولي) هذا المذهب. أعني: الولي شرط في صحة النكاح. وعليه الأصحاب. ونص عليه. قال الزركشي: لا يختلف الأصحاب في ذلك.

Penulis mengatakan: Menurut Madzhab Hanbali: maka nikah tanpa wali tidak sah. Yakni: Wali adalah syarat sah nikah. Demikian juga pendapat para ulama dari kalangan madzhab Hanbali. Az Zarkasyi mengtakan: Tidak ada perbedaan pendapat antar ulama madzhab hanbali..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 66 | Maryam

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

)فصل الشرط الثالث الولي( (فصل) الشرط (الثالث: الولي فلا يصح نكاح إلا بولي) لما روى أبو موسى الأشعري أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال «لا نكاح إلا بولي»

(Fashl: Syarat yang ketiga dalam pernikahan adalah adanya wali) (Fashl) syarat (yang ketiga: adanya wali, dan tidak akan sah sebuah pernikahan tanpa wali) sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy'ary, sesungguhnya Rasulullah berkata: tidaklah sah nikah tanpa wali. .

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 48 | Maryam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولا يحل للمرأة نكاح - ثيبا كانت أو بكرا - إلا بإذن وليها الأب، أو الإخوة، أو الجد، أو الأعمام، أو بني الأعمام - وإن بعدوا - والأقرب فالأقرب أولى.

Dan seorang wanita -baik ia ‘bikr’ maupun ‘tsayyib’- tidak boleh menikah kecuali atas izin walinya baik itu ayahnya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya, ataupun anak-anak pamannya. Dan diutamakan yang kekerabatannya lebih dekat..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 25 | Maryam

Setelah kita mengetahui pendapat para ulama, maka bisa kita simpulkan bahwa pernikahan tanpa wali tidak sah menurut mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafiyyah, dan Al-Hanabilah. Dalam hal ini hanya mazhab Al-Hanafiyah yang membolehkan wanita dewasa menikahkan dirinya sendiri. Wallahu’alam.

Baca Lainnya :

Urutan Wali
Ipung Multiningsih | 9 October 2015, 17:33 | draft
Nikah Tanpa Wali, Sah atau Tidak?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:09 | published
Haruskah Wali Berstatus Adil?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:10 | draft
Bolehkah Wanita Menjadi Wali Nikah?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:10 | draft
Apakah Rusyd Menjadi Syarat Bagi Wali Nikah?
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:11 | draft
Wali Ijbar
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:11 | published
Wali Ghairu Ijbar
Isnawati | 12 September 2015, 13:12 | draft
Wali 'Adhal
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:12 | draft
Siapakah yang Berhak Menfasakh?
Isnawati | 30 October 2015, 18:03 | approved
Para wali nikah berselisih dalam memfasakh pernikahan, jatuhkah fasakhnya?
Fatimah Khairun Nisa | 30 October 2015, 05:49 | approved