Akad Nikah : Termasuk Akad Lazim atau Akad Jaiz?

Sat 12 September 2015 13:06 | 0
Siti Maryam

Sebelum membahas lebih jauh penulis akan menguraikan perbedaan antara akad lazim dan akad jaiz serta konsekuensi dari kedua akad tersebut. Adapun akad lazim adalah adalah akad yang mengikat semua pihak yang terlibat sehingga tidak diperbolehkan membatalkan akad kecuali dengan keridhaan pihak yang lain, contohnya adalah akad jual beli, sewa menyewa, dsb. Sedangkan akad jaiz adalah akad yang tidak mengikat, artinya salah satu pihak boleh membatalkan akad tanpa persetujuan pihak yang lain. Contohnya adalah akad dalam pinjam meminjam. Para ulama telah bersepakat bahwa akad nikah adalah akad lazim, artinya ketika ijab dan qabul sudah terucap maka kedua belah pihak tidak dapat membatalkan akad. Contohnya ketika akad sudah selesai tiba-tiba pihak perempuan membatalkan akad karena menemukan cacat dalam diri suaminya. Hal ini tidak diperbolehkan, si istri hanya mempunyai dua pilihan: mengajukan cerai atau ridha dengan keadaan suaminya. Adapun status akad nikah mereka tetap sah, karena bentuk akadnya adalah akad lazim (akad yang mengikat). Disatu sisi, akad nikah sama seperti akad jual beli yaitu lazim (mengikat), namun disisi lain, ia berbeda dengan jual beli yang diperbolehkan adanya khiyar, dalam nikah tidak ada khiyar (hak pilih untuk melanjutkan akad atau membatalkan), kecuali beberapa ulama yang membolehkan khiyar majlis dalam akad nikah. Artinya meskipun sudah akad selama masih dalam majlis akad, salah satu pihak boleh membatalkan akad tersebut.

 

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ: لَا خِيَارَ لَهُمَا؛ لِأَنَّ النِّكَاحَ عَقْدٌ لَازِمٌ

Abu Yusuf mengatakan: Tidak ada khiyar untuk keduanya (laki-laki dan perempuan) karena akad nikah adalah akad lazim. .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 122 | Fatimah

Yang dimaksud khiyar disini adalah hak memilih untuk melanjutkan akad atau membatalkannya setelah akad terjadi diantara keduanya. Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

والنكاح عقد لازم لا يجوز فيه الخيار

Akad nikah adalah akad lazim, tidak ada khiyar (hak pilih) didalamnya. .

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 422 | Isna

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

والنكاح عقد لازم لا يجوز فيه الخيار

Akad nikah adalah akad lazim, tidak ada khiyar (hak pilih) didalamnya. .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 314 | Qathrin

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

لأن عقد النكاح يجب أن يكون ثابتاً لازماً

Karena akad nikah adalah akad mengikat dan tetap (maka tidak ada khiyar didalamnya). .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 42 | Ipung

Baca Lainnya :

Rukun Nikah Menurut Empat Mazhab
Isnawati | 16 September 2015, 00:05 | published
Haruskah Disebutkan Lafadz Nikah Secara Jelas Dalam Akad?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:06 | published
Akad Nikah : Termasuk Akad Lazim atau Akad Jaiz?
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:06 | published
Tuna Wicara Apakah Akad Dengan Isyarat atau Tulisan?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:07 | published
Apakah Ijab Qabul Harus Satu Majelis?
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:07 | draft
Bolehkah Ada Jeda Antara Ijab dan Qabul?
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:08 | published
Kedudukan Wakil Dalam Akad Nikah
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:08 | draft