Haruskah Disebutkan Lafadz Nikah Secara Jelas Dalam Akad?

Sat 12 September 2015 13:06 | 0
Qathrin Izzah Fithri

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu rukun nikah adalah Ijab dan Qabul. Ijab yaitu ketika wali mengatakan ‘saya nikahkan anda dengan putri saya’. Dan Qabul yaitu ketika mempelai lelaki menjawab ‘saya terima’. Pertanyaannya, apakah Ijab harus dengan kata ‘nikah’ atau ‘kawin’? Apakah boleh dengan lafadz lain? Bagaimanakah para ulama memandang hal ini? Mari kita simak pendapat mereka.

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

[باب الهبة في النكاح] (قال:) - رضي الله عنه - النكاح بلفظة الهبة والصدقة والتمليك صحح في قول علمائنا،

Bab hibah dalam nikah Nikah dengan lafadz ‘hibah’, ‘sadaqah’ dan ‘tamalluk’ sah menurut madzhab kami. .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 95 | Fatimah

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فصل ركن النكاح( والرابع: في بيان صفة الإيجاب والقبول أما بيان اللفظ الذي ينعقد به النكاح بحروفه فنقول - وبالله التوفيق -: لا خلاف أن النكاح ينعقد بلفظ الإنكاح والتزويج. وهل ينعقد بلفظ البيع، والهبة، والصدقة، والتمليك؟ قال أصحابنا - رحمهم الله -: ينعقد.

Fasl : rukun nikah Keempat : dalam penjelasan lafadz ijab dan qabul. Sedangkan penjelasan tentang lafadz yang dengannya nikah menjadi sah, kami berpendapat : tidak ada perbedaan pendapat bahwa nikah sah dengan lafadz “Al inkah” dan “At tazwij” Dan apakah sah dengan menggunakan lafadz bai’, hibah, sadaqah, dan tamlik? Ulama madzhab kami mengatakan : hukumnya sah. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 229 | Fatimah

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

فتحصل من كلامهم أن الأقسام أربعة: الأول: ينعقد به النكاح مطلقا سواء سمى صداقا أم لا، وهو أنكحت وزوجت. والثاني: ينعقد إن سمى صداقا حقيقة أو حكما وهو وهبت فقط. والثالث: ما فيه الخلاف وهو كل لفظ يقتضي البقاء مدة الحياة . كبعت أو ملكت أو أحللت أو أعطيت أو منحت والرابع: ما لا ينعقد به مطلقا اتفاقا وهو كل لفظ لا يقتضي البقاء مدة الحياة. لا يقتضي البقاء فلا ينعقد به اتفاقا كالحبس والوقف والإجارة ...

Kesimpulan dari pendapat para ulama mazhab malikiyah tentang shigah nikah, dapat dibagi kepada empat bagian: 1. Terjadi nikah secara mutlak, baik disebutkan maharnya dalam akad atau pun tidak, adalah dengan lafazh "Saya nikahkan, atau saya kawinkan”. 2. Terjadi pernikahan, dengan disyaratkan didalam lafazh menyebutkan mahar, adalah lafazh "Saya hibahkan" 3. Lafazh nikah yang terjadi perselisihan, apakah sah nikah dan terjadi nikah dengan lafazh itu adalah alafazh yang menunjukkan kepemilikan untuk selamanya. (seperti: Saya serahkan, saya berikan, atau saya halalkan). 4. Lafazh, yang tidak akan terjadi pernikahan dengannya selamanya, dengan lafazh yang tidak menunjukkan kepemilikan selamanya. (seperti: Saya pinjamkan, saya sewakan, dll). .

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 351 | Isna

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ولا يصح العقد إلا بلفظ التزويج أو الانكاح، لان ما سواهما من الالفاظ كالتمليك والهبة لا يأتي على معنى النكاح

Akad tidak sah kecuali dengan lafadz “tazwij” atau “al-inkah” (nikah), karena selain dua lafadz tersebut seperti “tamlik” milik dan “hibah” pemberian tidak bermakna nikah..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 209 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

ولا ينعقد بغير لفظ التزويج والإنكاح. وفي انعقاده بمعنى اللفظين بالعجمية من العاقدين أو أحدهما أوجه. أصحها: الانعقاد

Selain lafadz “tazwij” dan “al-inkah” tidak termasuk lafadz akad. Jika semakna dengan dua lafadz tersebut dengan bahasa (selain bahasa arab) yang dipahami pihak yang melakukan akad atau salah satu pihak ada beberapa pendapat. Yang paling benar : Termasuk lafadz akad..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 36 | Qathrin

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

الصيغة وهي (الإيجاب والقبول بلفظ التزويج أو النكاح) بمعنى الإنكاح والمراد بلفظ ما اشتق منهما وهو (شرط) فلا ينعقد بغيرهما كلفظ البيع والتمليك والهبة والإحلال والإباحة

Lafadz Akad Nikah adalah (Ijab dan Qabul dengan lafadz ‘tazwij’ atau ‘an-nikah’) yang bermakna ‘al-inkah’ menikahkan atau dengan lafadz yang diambil dari dua lafadz tadi dan ini merupakan syarat maka akad tidak dianggap sah kecuali dengan kedua lafadz tersebut seperti ‘al bai’ jual beli, dan ‘at-tamlik’ milik/serahkan, dan ‘hibah’ memberi, dan ‘al-ihlal’ menghalalkan, dan ‘ibahah’ membolehkan..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 118 | Qathrin

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

إنما يصح النكاح بإيجاب وهو زوجتك أو أنكحتك وقبول بأن يقول الزوج تزوجت أو نكحت أو قبلت نكاحها أو تزويجها ويصح تقديم لفظ الزوج على الولي ولا يصح إلا بلفظ التزويج أو الإنكاح ويصح بالعجمية في الأصح لا بكناية قطعا

إنما يصح النكاح بإيجاب وهو زوجتك أو أنكحتك وقبول بأن يقول الزوج تزوجت أو نكحت أو قبلت نكاحها أو تزويجها ويصح تقديم لفظ الزوج على الولي ولا يصح إلا بلفظ التزويج أو الإنكاح ويصح بالعجمية في الأصح لا بكناية قطعا.

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 205 | Azizah

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

(إنما يصح النكاح بإيجاب) ولو من هازل وكذا القبول (وهو أن يقول) العاقد (زوجتك، أو أنكحتك) موليتي فلانة مثلًا وحرم بعضهم بأن أزوجك، أو أنكحك

(Sesungguhnya pernikahan itu sah dengan ijab), walau hanya bercanda, begitupula dengan qabul; (perkataan seseorang) yang melakukan akad (zawwajtuka atau ankahtuka) si fulanah yang diwakilkan kepada saya, dan sebagian yang lain mengharamkan dengan lafadz mudhari' (saya akan menikahkan kamu) "uzawwijuka". .

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 7 hal. 217 | Azizah

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

فقال: (إنما يصح النكاح بإيجاب، وهو) قول الولي (زوجتك أو أنكحتك) ابنتي مثلًا إلخ (وقبول) وهو (بأن يقول الزوج تزوجت) ها (أو نكحت) ها إلخ،

ia berkata: (sesungguhnya nikah itu sah hanya dengan ijab yaitu) perkataan wali ("zawwajtuka" atau "ankahtuka”) ibnaty dan seterusnya, (dan qabul) yaitu (dengan perkataan seorang suami "tazawwajtuha") atau ("nakahtuha")..

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 226 | Azizah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولا ينعقد بغير لفظ الإنكاح والتزويج.

Dan tidak sah menikah tanpa lafadz “menikahkan” atau “tazwij”( menikahkan)..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 78 | Ipung

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

الشرط الخامس من شروط النكاح : الإيجاب والقبول. ولا يصح الإيجاب إلا بلفظ النكاح، أو التزويج، فيقول : زوجتك ابنتي، أو أنكحتكها؛ لأن ما سواهما لا يأتي على معنى النكاح، فلا ينعقد به، كلفظ الإحلال، ولأن الشهادة شرط في النكاح، وهي واقعة على اللفظ.

Syarat yang kelima dari syarat-syarat nikah adalah: ijab dan qabul, dan tidaklah sah sebuah ijab kecuali dengan lafadz “ nikah” atau “tazwij” (secara jelas). Seperti:Saya “nikahkan ( zawwajtuka) kan anda dengan anak saya, atau saya nikah kan ( ankaha).

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 20 | Ipung

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

قوله (ولا ينعقد الإيجاب إلا بلفظ " النكاح " و " التزويج ")… اعلم أن الصحيح من المذهب : أن النكاح لا ينعقد إلا بالإيجاب والقبول بهذه الألفاظ، لا غير… قلت: يكتفى منه بقوله " قبلت "

Perkataan penulis : Shigoh Ijab yang dianggap sah hanyalah lafadz “nikah” dan “tazwij”. Bahkan pendapat yang sah menurut madzhab hanbali adalah bahwa dua lafadz tersebut berlaku untuk qabul juga. Menurutku (al mardawi): dalam qabul, suami cukup mengatakan: qabiltu. (tanpa mengucapkan nikah ataupun tazwij)..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 35 | Maryam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولا يجوز النكاح إلا باسم الزواج أو النكاح، أو التمليك، أو الإمكان

Lafadz nikah yang diperbolehkan hanya lafadz “ az- zawaj”, “an-nikah”, “at-tamlik”, dan “al-imkan..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 47 | Maryam

Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan bahwa Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah membolehkan Ijab dengan lafadz selain ‘nikah’ dan ‘tazwij’. Bahkan di dalam lafadz Al-Malikiyah dirinci menjadi empat poin : 1. Terjadi nikah secara mutlak dengan lafazh "Saya nikahkan, atau saya kawinkan”. 2. Terjadi pernikahan, dengan syarat didalam lafazh menyebutkan mahar, adalah lafazh "Saya hibahkan" 3. Lafazh nikah yang terjadi perbedaan di dalam mazhab, apakah nikahnya sah atau tidak yaitu lafadz yang menunjukkan kepemilikan untuk selamanya, seperti: saya serahkan, saya berikan, atau saya halalka. 4. Lafazh, yang tidak akan terjadi yaitu lafazh yang tidak menunjukkan kepemilikan selamanya. (seperti: Saya pinjamkan, saya sewakan, dll). Sedangkan Mazhab Asy-Syafiiyyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa Ijab harus dengan lafadz ‘nikah’ dan ‘tazwij’ dan lafadz-lafadz selain itu dianggap tidak sah. Wallahu’alam.

Baca Lainnya :

Rukun Nikah Menurut Empat Mazhab
Isnawati | 16 September 2015, 00:05 | published
Haruskah Disebutkan Lafadz Nikah Secara Jelas Dalam Akad?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:06 | published
Akad Nikah : Termasuk Akad Lazim atau Akad Jaiz?
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:06 | published
Tuna Wicara Apakah Akad Dengan Isyarat atau Tulisan?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:07 | published
Apakah Ijab Qabul Harus Satu Majelis?
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:07 | draft
Bolehkah Ada Jeda Antara Ijab dan Qabul?
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:08 | published
Kedudukan Wakil Dalam Akad Nikah
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:08 | draft