Wajibkah Suami Menjima' Istrinya ?

Wed 7 October 2015 01:59 | 0
Achadiah

Pensyariatan jima’ dalam sebuah pernikahan tentunya tersirat hikmah yang agung, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan dalam karyanya Zaadul Ma’ad diantarannya adalah menjaga keturunan, memperbanyak jumlah ummat islam, menjaga kehormatan, memelihara kesehatan tubuh, juga menumbuhkan ketenangan dan ketentraman sebagaimana yang telah Allah SWT firmankan :

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung & merasa tenteram kepadanya, & dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih & sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yg berpikir. (QS : Ar-Rum :21)

Namun masalah yang akan kita kaji kali ini terkait hukum jima’ itu sendiri, dimana para ulama madzhab berbeda pendapat dalam istinbath hukumnya, berikut pemaparannya:

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وللزوجة أن تطالب زوجها بالوطء؛ لأن حله لها حقها كما أن حلها له حقه، وإذا طالبته يجب على الزوج، ويجبر عليه في الحكم مرة واحدة والزيادة على ذلك تجب فيما بينه، وبين الله تعالى من باب حسن المعاشرة واستدامة النكاح، فلا يجب عليه في الحكم عند بعض أصحابنا

Seorang istri berhak untuk meminta jima’ kepada suaminya, karena pelayanan seksual merupakan hak istri sebagaimana itu juga menjadi hak suami, dan apabila sang istri memintanya maka wajib bagi suaminya untuk memenuhinya, dan Hukum wajib baginya hanyalah sekali saja, sebagaimana Allah telah menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari tata cara saling mempergauli dengan baik dan untuk kelanggengan pernikahan. Dan menurut sebagian ulama Hanafiyah tidak wajib..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 331 | Achad

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

الجماع واجب على الرجل للمرأة إذا انتفى العذر

Jima hukumnya wajib bagi suami terhadap istrinya jika suaminya tidak punya udzur untuk menolak..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 141 | Nisa

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

في الجماع و بقية الاستمتاع مستحبة لا واجبة لأن ذلك يتعلق بالنشاط والشهوة وهو لا يملكها

Jima' dan hal-hal yang terkait dengan istimta' hukumnya mustahab (dianjurkan) tidak wajib, sebab hal itu berkaitan dengan kondisi fisik dan gairah/syahwat. Dan suami tidak selalu memilikinya.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 229 | Zuria

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

وأما نفس الاستمتاع فقال القاضي لا يجب

Adapun istimta' sendiri menurut Al-Qadhi hukumnya tidak wajib .

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 13 | Siska

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وفرض على الرجل أن يجامع امرأته التي هي زوجته وأدنى ذلك مرة في كل طهر إن قدر على ذلك وإلا فهو عاص لله تعالى

Wajib bagi laki-laki untuk menggauli istrinya minimal satu kali di masa sucinya jika ia mampu melakukannya. Bila dia mampu tapi tidak melakukannya maka ia berdosa.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 174 | Zuria

Dapat kita saksikan bersama berbagai macam pendapat para ulama madzahib, namun dapat kita simpulkan bahwa hendaknya seorang suami mempergauli istrinya dengan cara yang ma’ruf , begitupun dalam jima’ yang merupakan suplemen ruhinya, layaknya kewajiban kita terhadap tubuh dalam memberikan asupan yang cukup, tidak berlebihan bahkan melampaui batas, karena sebaik-baik perkara adalah pertengahannya. Sehingga seorang mukmin dapat merasakan hikmah disyariatkannya jima’ dalam menikah yakni terciptannya kebahagiaan dalam berumah tangga.

Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Baca Lainnya :

Kapankah Ibu Mertua Menjadi Mahram Bagi Menantu, Sejak Akad Atau Setelah Jima'?
Siti Sarah Fauzia | 12 May 2015, 05:24 | published
Bolehkah Menikahkan Orang Gila?
Zuria Ulfi | 21 November 2015, 17:04 | approved
Makna Nikah Hakiki : Akad atau Jima?
Achadiah | 21 September 2015, 15:01 | published
Bolehkah Nikah Dengan Meminta Syarat Tertentu?
Ipung Multiningsih | 10 September 2015, 09:29 | draft
Berbagai Kondisi Yang Mewajibkan Nikah
Siska | 24 September 2015, 04:00 | published
Haruskah Akad Dengan Bahasa Arab?
Siti Maryam | 17 September 2015, 11:06 | published
Haruskah Nikah Dengan Perawan?
Zuria Ulfi | 23 September 2015, 16:10 | published
Apakah Keridhaan Kedua Belah Pihak Menjadi Syarat Sahnya Akad?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | draft
Wajibkah Suami Menjima' Istrinya ?
Achadiah | 7 October 2015, 01:59 | published
Wajibkah Mengumumkan Pernikahan?
Siska | 8 October 2015, 23:16 | published
Nasab Anak Zina
Nur Azizah Pulungan | 10 October 2015, 16:48 | draft
Nasab Anak dari Hubungan Syubhat
Fatimah Khairun Nisa | 10 October 2015, 16:49 | draft
Wajibkah Seorang Istri Mengkhidmah Suaminya?
Ipung Multiningsih | 10 October 2015, 16:52 | draft
Kadar Nafkah Suami untuk Istri Menurut 4 Mazhab
Siti Maryam | 10 October 2015, 16:53 | draft
Pengaruh Khalwah Dalam Ketetapan Nasab
Zuria Ulfi | 29 October 2015, 01:16 | published
Siapa yang berhak menikahkan anak dibawah umur?
Fatimah Khairun Nisa | 7 November 2015, 06:03 | approved
Hukum menikahkan orang gila
Nur Azizah Pulungan | 7 November 2015, 14:13 | approved