Pengertian Mahar Menurut Ulama

Sun 11 October 2015 13:03 | 0
Zuria Ulfi

Pembahasan menarik dalam bab pernikahan kali ini adalah tentang kewajiban pemberian mahar dalam pernikahan. Ulama bersepakat bahwa mahar bukanlah syarat sah sebuah pernikahan. Artinya bahwa pernikahan tanpa adanya mahar tetaplah sah dan tidak perlu diadakan akad nikah ulang. Hanya saja keberadaan mahar menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah pernikahan. Bahkan mahar menjadi tebusan harga diri calon suami dihadapan keluarga calon istrinya.

Dalam kasus ini ulama telah mengutarakan pendapat masing-masing tentang defenisi mahar dalam islam. Ada ulama yang mengatakan bahwa mahar merupakan kewajiban calon suami terhadap calon istri. Namun sebagian mengatakan bahwa mahar bukan hal yang wajib tetapi sangat dianjurkan.

Lantas bagaimana pendangan para ulama tentang defenisi mahar itu sendiri? Berikut paparan lengkap menurut ulama empat madzhab :

 

Al-Babarty (w. 786 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-'inayah Syarhul Hidayah sebagai berikut :

والمهر هو المال يجب في عقد النكاح على الزوج في مقابلة منافع البضع، إما بالتسمية أو بالعقد

Mahar adalah sejumlah harta yang diwajibkan kepada suami dalam suatu akad nikah sebagai imbalan halalnya jima', baik dengan sebab penyebutan mahar atau karena adannya akad .

Al-Babarty, Al-'inayah Syarhul Hidayah, jilid 3 hal. 316 | Achad

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

(والصداق) بفتح الصاد - وقد تكسر - ويسمى مهرا أيضا: وهو ما يجعل للزوجة في نظير الاستمتاع بها

Shadaq, disebut juga mahar yaitu sesuatu yang diberikan pada istri sebagai bentuk imbalan istimta..

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 428 | Nisa

Al-Malibari (w. 987 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Mu'in sebagai berikut :

وهو ما وجب بنكاح أو وطء

Sesuatu yang wajib diberikan sebab adanya pernikahan atau jima’.

Al-Malibari, Fathul Mu'in, jilid 0 hal. 485 | Zuria

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

(وهو) أي الصداق (العوض في النكاح) سواء سمي في العقد أو فرض بعده بتراضيهما أو الحاكم

Pengertian As-Shadaq adalah pemberian dalam pernikahan baik itu disebutkan pada saat akad atau sesudahnya dengan ridha dari keduanya ataupun dari hakim..

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 128 | Siska

Defenisi mahar menurut ulama ternyata sangat unik. Namun poin penting dalam masalah ini bahwa ternyata pemberian mahar dari laki-laki/calon suami sangat dianjurkan sebagai imbalan atas kehalalan hubungan dengan calon istrinya dan bukti atas keinginannya untuk menikah.

Wallahu a'lam

Baca Lainnya :

Akad Nikah Tanpa Mahar, Sah atau Tidak?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:16 | draft
Batas Minimal Mahar
Miratun Nisa | 7 October 2015, 18:28 | published
Bolehkah Manfaat Dijadkan Mahar?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:17 | published
Suami Mengatakan Sudah Menyerahkan Mahar, Namun Istri Mengingkarinya
Miratun Nisa | 14 October 2015, 15:50 | published
Mengajarkan Al-Quran Bisakah Dijadikan Mahar?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:18 | draft
Standar Mahar Mitsl
Miratun Nisa | 9 October 2015, 07:00 | published
Suami Istri Berbeda Pendapat dalam Penyebutan Mahar Saat Akad
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:38 | published
Pengertian Mahar Menurut Ulama
Zuria Ulfi | 11 October 2015, 13:03 | published
Batasan waktu mencicil mahar
Nur Azizah Pulungan | 18 November 2015, 06:00 | published
Hukum meminta pelunasan mahar saat suami kesulitan
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:04 | approved
Ketentuan adil dalam menggilir para istri
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:17 | approved
اشتراط الولي شيئاً من المهر لنفسه
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:18 | draft
Membunuh Suami Sebelum Dukhul, Gugurkah Hak Mendapatkan Mahar ?
Achadiah | 21 November 2015, 16:00 | published
Menikah dibawah umur, Siapakah yang Berhak Memegang Maharnya?
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:43 | approved