Apakah Muwalat Termasuk Rukun Dalam Tayammum?

Fri 11 September 2015 20:07 | 0
Mardliyatun Nimah

 

Hasan Asy-Syarbilali (w. 1069 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Nurul Idhah wa Najatul Arwah sebagai berikut :

وسنن التيمم سبعة: 1 - التسمية في أوله. 2 - والترتيب. 3 - والموالاة.

“Sunnah-sunnah tayammum ada 7, yaitu: 1. Membaca Basmalah 2. Tartib 3. Muwalat ……”..

Hasan Asy-Syarbilali , Nurul Idhah wa Najatul Arwah, jilid 1 hal. 33 | Nimah

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

فَرَائض التَّيَمُّم فعله بعد دُخُول الْوَقْت وَطلب المَاء خلافًا لأبي حنيفَة فيهمَا وَالنِّيَّة عِنْد الْأَرْبَعَة وَمسح الْوَجْه وَالْيَدَيْنِ إِجْمَاعًا والفور خلافًا لَهما

“ Syarat wajib tayammum adalah dilakukan setelah masuknya waktu sholat dan telah berusaha mencari air, berbeda dengan Abu Hanifah yang tidak mensyaratkan kedua hal tersebut. Sedangkan niat, membasuh muka dan kedua tangan semua empat imam madzhab sepakat (itu merupakan rukun) adapun faur ( bersegera dalam dua rukun tersebut) imam syafi’i dan Imam Hanafi menyalahinya”. .

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 30 | Nimah

Faur disini bermakna muwalat, yaitu berkesinambungan antara satu rukun dengan rukun lainnya. Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

ولزم موالاته

"bahwa diwajibkannya muwalat dalam tayammum”.

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal. 422 | Mega

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

ما ذكر من الموالاة أحد فرائض التيمم

“disebutkan bahwa salah satu fardlu tayammum adalah muwalat”.

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 56 | Mega

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

فرع وسننه أي التيمم التسمية........ وكذا الموالاة

Di antara sunnah-sunnah tayammum adalah membaca basmalah.......begitu pula muwalat.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 87 | Rahmi

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

وسننه: التسمية و تقديما ليمنى،ومسحأعلى وجهه،وتخفيف الغبار،والموالاة

“(sunah-sunahTayamum): membacaBasmalah, mendahulukan (anggota) kanan, mengusapbagianataswajah, menepuk-nepukdebudansecaralangsung”..

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 63 | Neng

Ar-Ramli (w. 1004 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj sebagai berikut :

(وَمُوَالَاةُالتَّيَمُّمِكَالْوُضُوءِ) لِأَنَّكُلًّامِنْهُمَاطَهَارَةٌعَنْحَدَثٍ………وَيُقَدَّرُالْمَمْسُوحُمَغْسُولًا . وَيُسْتَحَبُّالْمُوَالَاةُبَيْنَالتَّيَمُّمِوَالصَّلَاةِوَتَجِبُفِيتَيَمُّمِدَائِمِالْحَدَثِكَمَاتَجِبُفِيوُضُوئِه

“Muwallah di dalamTayamum (tanpamenjedagerakannya)adalahsebagaimanamuwallah di dalamWudhukarenamasing-masingdarikeduanyamerupakanThoharoh/pembersihandarihadats……….dandenganmemaksudkan yang diusapsebagai yang dicuci (sebagaimanawudhu) dandisunnahkanmuwallahantaraTayamumdansholat ………. .

Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, jilid 1 hal. 0 | Neng

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وقلنا بوجوب الموالاة

Kami berpendapat wajibnya muwalat.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 187 | Rahmi

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

الفرض الثالث والرابع: ترتيب وموالاة في غير حدث أكبر

fardhu yang ketiga dan keempat: tertib dan muwalah pada selain hadats besar.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 175 | Taslima

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

والتيمم بدل من الوضوء، فلما كان يجدد الماء للوجه وماء آخر للذراعين وجب كذلك في التيمم

tayamum (kedudukannya) sebagai pengganti wudhu, jika harus memperbarui air untuk wajah dan tangan, begitu juga dalam tayamum.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 370 | Taslima

Baca Lainnya :

Tayammum, Sampai Siku atau Pergelangan Tangan?
Imamuddin Mukhtar | 3 April 2015, 10:09 | published
Pengertian Istilah Shaid Dalam Ayat Tayammum
Kartika Ande | 11 September 2015, 19:57 | published
Mengusap Tangan dalam Tayammum Sampai Siku atau Pergelangan?
Muhammad Aqil Haidar | 17 April 2015, 10:10 | published
Apakah Tayamum Menghilangkan Hadats Atau Sekedar Membolehkan Shalat
Isnaini Mangasiroh | 11 September 2015, 20:00 | published
Waktu Diperbolehkannya Tayammum
Khanif Fatoni Sofyana | 11 September 2015, 20:01 | published
Apakah Tayammum Hanya Untuk Satu Kali Shalat?
Anisah Nurul Sholihah | 11 September 2015, 20:02 | published
Bolehkah Tayammum Shalat Sunnah Dipakai lagi Untuk Shalat Wajib
Mega Cahyati | 11 September 2015, 20:03 | published
Tayammum itu Rukhsah Atau Azimah?
Rahmi Fitriani | 11 September 2015, 20:04 | published
Apakah Tartib Dalam Tayammum Itu Termasuk Rukun?
Kholisnawati | 11 September 2015, 20:05 | published
Apakah Muwalat Termasuk Rukun Dalam Tayammum?
Mardliyatun Nimah | 11 September 2015, 20:07 | published
Batasan Mengusap Tangan Dalam Tayammum
Irma Suri Handayani | 11 September 2015, 20:07 | published
Tayammum Itu Satu Tepukan Atau Dua kali?
Ahda Sabila | 11 September 2015, 20:08 | published
Hukum menunda shalat untuk menunggu adanya air
Neng Ani | 18 September 2015, 17:17 | published
Seberapa jauh radius jarak yang harus ditempuh dalam mencari air ?
Taslima Husin | 18 September 2015, 17:19 | published