Bolehkah Tayammum Shalat Sunnah Dipakai lagi Untuk Shalat Wajib

Fri 11 September 2015 20:03 | 0
Mega Cahyati

 

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

ولا بد من نية قربة مقصودة، ولا تصح بدون الطهارة كالصلاة أو سجدة التلاوة أو صلاة الجنازة، ولو تيمم لقراءة القرآن فالصحيح أنه لا تجوز الصلاة وكذا لمس المصحف ودخول المسجد لا تصح به الصلاة؛

“niat wajib untuk amalan ibadah yang terdekat, seperti sholat, sujud tilawah, dan sholat janazah. Apabila seseorang bertayammum untuk membaca alqur’an maka ia tidak boleh shilat dengan tayammum tersebut sebagaimana tayammum untuk menyentuh alqur’an dan masuk masjid, maka tidak diperbolehkan sholat dengan tayammum tersebut.” .

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 39 | Nimah

dari kutipan diatas tayammum sholat sunnah untuk sholat wajib dapat diqiyaskan dengan tayammum untuk membaca alqur'an maka tidak boleh digunakan untuk sholat wajib. Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

من تيمم لنافلة لم يصل بذلك التيمم شيئا من الفرائض

”Barang siapa yang bertayammum untuk sholat sunnah, maka ia tidak boleh sholat fardlu dengan taymmum tersebut”. .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 183 | Nimah

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

لا يصلي ركعتي الفجر بتيمم الصبح لأن الفرض لا يكون تبعا للنفل

“Tidak diperbolehkan shalat sunnah dua rakaat fajar dengan tayammum yang diniatkan shalat subuh (wajib) karena yang wajib tidak mungkin mengikuti yang sunnah”.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 351 | Mega

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

ويصلي السنة بتيمم النفل وعكسه

“Bahwa shalat sunnah harus dengan tayammum yang diniatkan shalat sunnah begitupun sebaliknya shalat wajib harus dengan tayammum yang diniatkan shalat wajib”.

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal. 417 | Mega

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

: ويجوزأن يصلي بتيمم واحد ماشاء من النوافل لأنهاغيرمحصورة فخف أمرها ولهذا أجيز ترك القيام فيها فإن نوىبال تيمم بالفريضة والنافلة جاز أن يصلي النافلة قبل الفريضة وبعدها لأن هنواها بالتيمم

“dibolehkansholatsunnahapapundengansatu kali Tayamum, karena (sholatsunnahitu) tidaklahterbatas, makaurusannyapunlebihringan, olehkarenaitudibolehkanmeninggalkansholatsunnahnya. Dan apabilaberniatTayamumuntuksholatwajibdansunnah (secarabersamaan) makabolehhukumnyamenunaikansholatsunnahsebelumsholatfardhudansetelahnyakarenaseseorangitutelahberniat (dalamkeduanya) denganTayamum..

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 73 | Neng

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

وَيَتَنَفَّلُ مَعَ الْفَرِيضَةِ وَبِدُونِهَا بِتَيَمُّمِ مَا شَاءَ لِأَنَّ النَّوَافِلَ تَكْثُرُ فَتَشْتَدُّ الْمَشَقَّةُ بِإِعَادَةِ التَّيَمُّمِ لَهَا فَخَفَّفَ أَمْرَهَا

Boleh mengerjakan shalat sunnah sebanyak yang diinginkan baik dibarengi dengan shalat fardhu ataupun tidak hanya dengan satu tayammum, hal itu dikarenakan banyaknya shalat sunnah dan pengulangan tayammum untuk setiap shalat akan menimbulkan kesulitan. Oleh karena itu, ada keringanan dalam masalah ini..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 90 | Rahmi

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

(فإننوى) بتيممه (فرضاونفلا) أياستباحتهما (أبيحا) عملابنيته

“ApabilaseseorangberniatdalamTayamumnya (untuksholatFardhudanSunnah) karenakebolehan (Tayamum) dalamkeduanya, makakeduanyabolehdilakukan (dengansatuTayamum) tergantungkepadamasing-masingniatnya”.

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 1 hal. 360 | Neng

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ويتطوع قبل الصلاة وبعدها

Boleh mengerjakan shalat sunnah baik sebelum shalat fardhu ataupun sesudahnya (dengan satu tayammum).

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 194 | Rahmi

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

يبطل التيمم بخروج الوقت...) لقول علي التيمم لكل صلاة... (حتى من جنب لقرآن...) (و) لصلاة (جنازة ونافلة ونحوها

(tayamum batal jika habis waktu) sebab perkataan Ali: tayamum untuk setiap kali shalat...(walau habis junub untuk membaca quran...)dan untuk shalat (janazah, nafilah daan sejenisnya).

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 177 | Taslima

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

والمتيمم يصلي بتيممه ما شاء من الصلوات الفرض والنوافل ما لم ينتقض تيممه بحدث أو بوجود الماء

orang yang bertayamum (bisa) shalat apapun yang dia mau dengan tayamumnya, baik itu shalat fardhu dan shalat sunnah, selama tayamumnya belum batal oleh hadats atau adanya air.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 355 | Taslima

Baca Lainnya :

Tayammum, Sampai Siku atau Pergelangan Tangan?
Imamuddin Mukhtar | 3 April 2015, 10:09 | published
Pengertian Istilah Shaid Dalam Ayat Tayammum
Kartika Ande | 11 September 2015, 19:57 | published
Mengusap Tangan dalam Tayammum Sampai Siku atau Pergelangan?
Muhammad Aqil Haidar | 17 April 2015, 10:10 | published
Apakah Tayamum Menghilangkan Hadats Atau Sekedar Membolehkan Shalat
Isnaini Mangasiroh | 11 September 2015, 20:00 | published
Waktu Diperbolehkannya Tayammum
Khanif Fatoni Sofyana | 11 September 2015, 20:01 | published
Apakah Tayammum Hanya Untuk Satu Kali Shalat?
Anisah Nurul Sholihah | 11 September 2015, 20:02 | published
Bolehkah Tayammum Shalat Sunnah Dipakai lagi Untuk Shalat Wajib
Mega Cahyati | 11 September 2015, 20:03 | published
Tayammum itu Rukhsah Atau Azimah?
Rahmi Fitriani | 11 September 2015, 20:04 | published
Apakah Tartib Dalam Tayammum Itu Termasuk Rukun?
Kholisnawati | 11 September 2015, 20:05 | published
Apakah Muwalat Termasuk Rukun Dalam Tayammum?
Mardliyatun Nimah | 11 September 2015, 20:07 | published
Batasan Mengusap Tangan Dalam Tayammum
Irma Suri Handayani | 11 September 2015, 20:07 | published
Tayammum Itu Satu Tepukan Atau Dua kali?
Ahda Sabila | 11 September 2015, 20:08 | published
Hukum menunda shalat untuk menunggu adanya air
Neng Ani | 18 September 2015, 17:17 | published
Seberapa jauh radius jarak yang harus ditempuh dalam mencari air ?
Taslima Husin | 18 September 2015, 17:19 | published