Apakah Tayammum Hanya Untuk Satu Kali Shalat?

Fri 11 September 2015 20:02 | 0
Anisah Nurul Sholihah

 

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

ويصلى بتيممه ما شاء من الفرائض والنوافل

Diperbolehkan shalat dengan bertayammum berapapun waktu shalat wajib dan sunnah.

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 29 | Anis

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

ويصلى بتيممه ما شاء من الفرائض والنوافل

dan hendaklah mendirikan sholat apa saja yang dia inginkan dengan tayammumnya baik fardhu maupun sunnah.

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 29 | Ahda

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

(ويصلي) أي المتيمم (به) أي بالتيمم الواحد (ما شاء من فرض ونفل كالوضوء)

dan dibolehkan untuk orang yang bertayammum atau dengan tayammum satu kali untuk melaksanakan sholat fardhu atau sunnah seperti wudhu.

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 40 | Ahda

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

وأما النوافل فجائز أن يصلي منها ما شاء بتيمم واحد إذا اتصل ذلك ويتنفل بعد المكتوبة في الفور بالتيمم ما أحب وإن تنفل قبلها استأنف التيمم لها عند مالك وأكثر أصحابه ولا يصلي الصبح بتيمم ركعتي الفجر وكذلك من تيمم لنافلة لم يصل بذلك التيمم شيئا من الفرائض

untuk shalat nafilah boleh melakukannya kapan saja dengan satu tayammum apabila bersambung dan apabila melaksanakan shalat nafilah setelah shalat fardhu secara langsung sangat aku cintai dan apabila melaksanakannya sebelum shalat fardhu maka tayammumnya masih berlaku, menurut imam malik dan sebagian besar sahabatnya: tidak boleh melaksanakan shalat shubuh menggunakan tayammum yang digunakan untuk shalat fajar, begitu juga jika melaksanakan shalat nafilah, tidak boleh melakukan shalat fardhu dengan satu tayammum .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 183 | Sofyana

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

ولا يصلي صلاتي فرض ولا صلوات مكتوبة بتيمم واحد، إلا إن يكون في وقت ومن فاتته صلوات، فذكرها في غير وقتها فجائز ان يصليها كلها بتيمم واحد ومن أهل المدينة واصحاب مالك من يقول: يتيمم للفوائت أيضا لكل صلاة منها وقتها بالذكر واحد

Tidak boleh melaksanakan dua shalat fardhu atau beberapa shalat fardhu dengan sekali tayammum , kecuali jika terjadi dalam satu waktu dan telah tertinggal beberapa shalat dan baru teringat di luar waktu shalat maka boleh melaksanakan semua shalat tersebut dengan satu tayammum. Sebagian dari ulama ahi madinah dan ulama malikiyah berpendapat :harus bertayammum untuk setiap shalat yang tertinggal. .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 183 | Sofyana

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وإذا نوى استباحة الفرض استباح النفل لأن الأدنى يتبع الأعلى في نظر الشرع

apabila bertayammum dengan niat melakukan shalat wajib, maka boleh juga melakukan shalat nafilah. Karena yang lebih rendah (hukumnya) akan mengikuti yang lebih tinggi menurut syariat.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 351 | Sofyana

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

يستباح بالتيمم ما يستباح بالطهارة بالماء ولا يجمع به بين صلاتين مكتوبتين

Hal-hal yang diperbolehkan dengan thaharah dengan air, juga diperbolehkan dalam thaharah dengan tayammum, dan tidak boleh menjamak dua shalat wajib.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 0 hal. 30 | Anis

Al-Muzani (w. 264 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mukhtashar sebagai berikut :

وَلَا يَجْمَعُ بِالتَّيَمُّمِ صَلَاتَيْ فَرْضٍ بَلْ يُجَدِّدُ لِكُلِّ فَرِيضَةٍ طَلَبًا لِلْمَاءِ وَتَيَمُّمًا بَعْدَ الطَّلَبِ الْأَوَّلِ

Tayammum tidak bisa digunakan untuk 2 sholat fardhu, tetapi untuk setiap kali sholat fardhu yang diusahakan mencari air terlebih dahulu dan jika tidak mendapatkannya maka dia harus memperbaharui tayammumnya..

Al-Muzani, Mukhtashar, jilid 8 hal. 99 | Irma

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

أَنَّ التَّيَمُّمَ الْوَاحِدَ لَا يُسْتَبَاحُ بِهِ أَدَاءُ فَرْضَيْنِ

Bahwasanya 1 kali tayammum tidak boleh digunakan untuk 2 kali sholat fardhu.

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 1 hal. 254 | Irma

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وقد روي عن أحمد، أنه قال: لا يصلي بالتيمم إلا صلاة واحدة، ثم يتيمم للأخرى

"Dan diriwayatkan dari ahmad, beliau berkata : Tidaklah shalat dengan tayammum kecuali untuk satu shalat saja, kemudian bertayammum lagi untuk yang lain".

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 194 | Isnain

Az-Zarkasyi (w. 772 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarah Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khiraqi sebagai berikut :

هذا هو المذهب المشهور، المعمول به - عند الأصحاب - من الروايات... ، أنه يتيمم لكل صلاة

Ini adalah riwayat yang terkenal dan dipakai oleh para sahabat bahwasannya bertayamumlah pada setiap waktu shalat.

Az-Zarkasyi, Syarah Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khiraqi, jilid 1 hal. 359 | Kartika

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

فقد صح أنه يصلي بتيمم واحد ما شاء المصلي من صلوات الفرض في اليوم والليلة وفي أكثر من ذلك ومن النافلة، ما لم يحدث أو يجنب أو يجد الماء

Seseorang diperbolehkan bertayamum satu kali untuk shalat fardu dan sunnah pada siang dan malam hari selama ia tidak berhadats, junub atau menemukan air.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 359 | Kartika

Baca Lainnya :

Tayammum, Sampai Siku atau Pergelangan Tangan?
Imamuddin Mukhtar | 3 April 2015, 10:09 | published
Pengertian Istilah Shaid Dalam Ayat Tayammum
Kartika Ande | 11 September 2015, 19:57 | published
Mengusap Tangan dalam Tayammum Sampai Siku atau Pergelangan?
Muhammad Aqil Haidar | 17 April 2015, 10:10 | published
Apakah Tayamum Menghilangkan Hadats Atau Sekedar Membolehkan Shalat
Isnaini Mangasiroh | 11 September 2015, 20:00 | published
Waktu Diperbolehkannya Tayammum
Khanif Fatoni Sofyana | 11 September 2015, 20:01 | published
Apakah Tayammum Hanya Untuk Satu Kali Shalat?
Anisah Nurul Sholihah | 11 September 2015, 20:02 | published
Bolehkah Tayammum Shalat Sunnah Dipakai lagi Untuk Shalat Wajib
Mega Cahyati | 11 September 2015, 20:03 | published
Tayammum itu Rukhsah Atau Azimah?
Rahmi Fitriani | 11 September 2015, 20:04 | published
Apakah Tartib Dalam Tayammum Itu Termasuk Rukun?
Kholisnawati | 11 September 2015, 20:05 | published
Apakah Muwalat Termasuk Rukun Dalam Tayammum?
Mardliyatun Nimah | 11 September 2015, 20:07 | published
Batasan Mengusap Tangan Dalam Tayammum
Irma Suri Handayani | 11 September 2015, 20:07 | published
Tayammum Itu Satu Tepukan Atau Dua kali?
Ahda Sabila | 11 September 2015, 20:08 | published
Hukum menunda shalat untuk menunggu adanya air
Neng Ani | 18 September 2015, 17:17 | published
Seberapa jauh radius jarak yang harus ditempuh dalam mencari air ?
Taslima Husin | 18 September 2015, 17:19 | published